
Hari sudah mulai gelap ketika mobil yang ditumpangi Dimas dan Ollan memasuki kawasan rumah isolasi itu. Ollan tampak cemas, karena yang berada di sekitarnya tampak menyeramkan. Mobil mereka diparkir di tepi jalan, tepat di depan jalan kecil menuju rumah isolasi. Suasana gelap dan sepi, sehingga Ollan semakin bingung. Impiannya untuk segera berbelanja ke mal musnah seketika. Ia tak pernah membayangkan akan berada di tempat terpencil seperti ini.
"Kita nggak salah tujuan kan, Pak?" tanya Ollan sambil menatap sekeliling yang terlihat pekat.
"Tidak. Kita memang mau kesini!" jawab Dimas.
Keduanya turun dari mobil. Ollan hanya pasrah mengikuti kemana langkah Dimas. Polisi muda itu berjalan menyusuri jalan kecil yang gelap, yang diapit banyak pepohonan. Dimas hanya mengandalkan penerangan dengan sebuah senter, agar tak terperosok atau salah jalan. Ollan masih belum paham, kemana dia hendak di bawa.
Setelah beberapa lama berjalan, ia melihat sebuah bangunan besar yang tertutup pepohonan. Bagian depan bangunan itu tampak gelap, karena penerangan yang sangat minim. Ollan heran, bangunan apa ini sebenarnya. Bulu kuduknya merinding, karena bangunan di depan lebih mirip bangunan yang biasa digunakan untuk uji nyali.
"Ba-bangunan apa ini Pak?" tanya Ollan penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu!"
Setelah menghubungi Pak Paiman, pintu gerbang dibuka. Keduanya masuk ke dalam areal halaman depan yang banyak pohon tinggi menjulang. Suasana kengerian langsung mencengkeram tengkuk Ollan, sampai pada akhirnya mereka tiba di depan pintu utama. Keduanya disambut oleh Reno, dan dipersilakan untuk bergabung makan malam yang sebentar lagi dilaksanakan. Ollan masih belum banyak bertanya. Ia kemudian dipersilakan masuk ke dalam sebuah kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak, sambil menunggu.
"Dalam beberapa hari, kamar ini akan menjadi kamarmu. Tak perlu panik atau takut, kami akan mengawasi kamarmu selama 24 jam. Tak ada tugas khusus untukmu, jadi kamu hanya tinggal dan beraktivitas seperti biasa saja. Semua kebutuhanmu sudah kami siapkan, dan tentunya akan lebih layak daripada di Kampung Hitam," terang Dimas.
"Wah, jadi ceritanya saya kembali diisolasi lagi nih Pak?" rajuk Ollan.
"Ya begitulah! Tapi santai saja. Kamu tidak sendirian kok. Ada beberapa teman yang tentu saja kamu kenal. Jadi nggak perlu khawatir akan kesepian," hibur Dimas.
"Teman? Aku belum melihat siapa pun di sini," kata Ollan.
"Kamu akan melihatnya saat makan malam!"
Ollan masih belum mengerti maksud Dimas. Lokasi rumah ini jauh lebih terpencil daripada Kampung Hitam, tetapi ia melihat kondisi kamarnya jauh lebih bagus, walau lebih sepi. Ia melangkah ke arah jendela, seraya memandang ke arah luar. Gelap sekali di luar, hanya terdengar derik serangga malam yang saling bersahutan. Suasananya sedikit seram. Ollan berharap, tak ada apa-apa di rumah menyeramkan ini.
Waktu makan malam tiba. Ollan dijemput oleh Dimas untuk bergabung bersama yang lain. Kehadiran Ollan di ruang makan memang sangat mengejutkan semua yang ada di sana. Terlihat berbagai macam ekspresi yang hadir. Ada yang datar, tanpa ekspresi. Namun ada yang terpekik kegirangan. Laura merasa girang dengan kehadiran Ollan, karena pria itu terkadang cukup menghibur. sehingga ketegangan sedikit berkurang. Henry dan Rianti tersenyum melihat kehadiran Ollan.
Di lain pihak, Guntur dan Riky hanya terdiam tanpa ekspresi melihat kehadiran Ollan, seolah tak ada pengaruh apa-apa untuk mereka. Di ruang makan hadir pula Ammar dan Gilda, mereka juga siap mengikuti cara makan malam. Gilda tersipu malu melihat kemunculan Dimas. Ada pula dua opsir polisi tambahan yang sengaja disiagakan. Reno memperketat penjagaan setelah peristiwa Widya, karena tidak ingin kecolongan lagi.
"Kukira kamu kabur kemana," sambut Henry sambil menatap Ollan penuh arti.
"Aku ngga kemana-mana kok, Bang. Aku akan selalu ada buat Abang," ucap Ollan sambil tersipu.
Sementara perasaan Ollan bercampur-aduk karena tidak menyangka akan bertemu dengan teman-teman lamanya, terutama Henry Tobing, aktor yang biasa menggunakan jasanya untuk mengatur segala jadwal. Sementara Rianti juga tersenyum senang melihat kehadiran Ollan.
"Kamu sehat saja kan, Lan?" tanya Rianti.
"Iya Bu, seperti yang Bu Rianti lihat," jawab Ollan.
Di sisi meja lain, Ammar tampak mengamati paras semua tamu-tamu itu satu-persatu. Otaknya merekam bagaimana perubahan ekspresi ketika Ollan datang ke ruang makan itu. Ia sudah dapat menandai, siapa yang parasnya dingin, atau bahkan paras siapa yang penuh kepura-puraan. Bertahun-tahun ia berkecimpung di dunia investigasi, sehingga ia bisa mengamati perubahan-perubahan itu.
***
"Ada info penting yang ingin kusampaikan kepadamu!" ucap Dimas bersemangat.
"Hmm, apakah itu berita tentang penemuan Niken dan Rani? Kalau berita itu aku sudah tahu. Aku harus mengucapkan selamat kepadamu karena kamu telah bertindak sempurna. Mereka berdua ditemukan dalam keadaan selamat. Kalau kau terlambat barang sehari, mungkin dua perempuan itu sudah tak tertolong!" ucap Reno.
"Terima kasih atas apresiasinya. Tapi ada info yang lebih penting daripada itu!"
"Informasi apa itu?" tanya Reno.
"Kamu tahu nggak, ternyata Niken dan Rani disekap di rumah milik Daniel Prawira. hanya saja rumah itu merupakan properti yang tak dipakai, hanya untuk investasi. Rumah itu lokasinya tepat berseberangan dengan rumah Renita Martin. Menurut info dari Leila, resepsionis perumahan, rumah Daniel itu dibeli dalam jangka waktu yang bersamaan dengan rumah Renita Tobing, makanya bisa saling berhadapan. Kukira, pasti ada yang tersembunyi dengan hubungan mereka berdua, oleh karena itu aku berniat menyelidiki rumah Daniel. Ada sesuatu yang cukup mengejutkan yang aku temukan!" papar Dimas.
"Wah ... wah! Kerjamu bagus Dimas. Ini informasi yang sangat penting. Jadi apa yang kau temukan di kediaman Daniel Prawira?"
Dimas mengeluarkan selembar foto dari kantung baju, kemudian menyerahkan foto itu kepada Reno. Segera saja Reno mengamati foto itu dengan teliti. Parasnya tampak terkejut melihat foto itu.
"Astaga! Bukankah ini kamar .... "
"Ya benar Reno! Kamar ini tak asing bukan? Jadi kasus yang kita hadapi ini memang saling berkaitan. Kasus ini diawali dengan kasus terbunuhnya Daniel, kemudian berkembang dengan kasus-kasus lain yang saling berkaitan. Hanya motifnya belum kita ketahui. Anita Wijaya, percobaan pembunuhan terhadap Ollan, Renita Martin, Melani Idris, dan percobaan pembunuh terhadap Faishal adalah rentetan kasus yang mungkin saling berkaitan," tambah Dimas.
"Bukan itu saja, Dimas. Karena sore ini ada kasus yang cukup aneh, yaitu Widya mencoba bunuh diri dengan cara memotong urat nadi. Aku menemukan beberapa kejanggalan di sini, sehingga aku khawatir ini bukan bunuh diri, melainkan sebuah percobaan pembunuhan yang gagal!" kata Reno.
"Widya? Hmm, si tukang rias itu kan? Apa ini ada hubungannya dengan teka-teki yang kamu temukan di bak mandi villa? Apa kaitannya dengan kasus yang kita hadapi ini? Pantas saja aku tak melihat Widya tadi di meja makan. Bagaimana kondisinya?" tanya Dimas.
"Sejauh ini ia sedang mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Tadi waktu kuperiksa, aku masih merasakan denyut nadinya walau lemah. Kuharap Widya berhasil melewati masa kritisnya. Besok pagi rencananya aku akan menanyai mereka terkait kasus bunuh diri Widya ini. Aku harus mendapat keterangan, di mana mereka sebelum kejadian Widya ini," ucap Reno.
Dimas manggut-manggut. Ia sama sekali tidak menyangka sudah ada kejadian yang mengejutkan di rumah isolasi.
"Oya, ada yang hendak kutanyakan lagi!"
"Apa itu?"
"Aku sempat melihat Gilda di meja makan tadi. dan kamu bilang, akan merencanakan sesuatu untuknya agar dia jera. Rencana seperti apa maksudmu?"
Reno tersenyum penuh arti. Ia kemudian memberitahu Dimas berkenaan sebuah rencana yang hendak diberlakukan pada Gilda. Setelah mendengar penuturan Reno, Dimas tak kuat menahan tawa mendengar penjelasannya.
"Bagaimana, apa kamu setuju?" tanya Reno.
"Aku sangat setuju! Mari kita jalankan rencana itu!" jawab Dimas sambil mengacungkan jempolnya.
***