
Ollan memasuki villa yang bernuansa kuning pucat itu. Bangunan itu berdiri kokoh di kawasan perbukitan yang sunyi. Ada beberapa villa lain yang berdiri di situ, tetapi letaknya agak berjauhan. Villa itu tak terlalu besar, berlantai dua, dengan desain minimalis yang unik. Pasangan Henry-Rianti kadang menghabiskan akhir pekan untuk merehatkan pikiran di villa itu.
Memang, Villa itu terlihat sempurna untuk mengucilkan diri. Letaknya yang menyendiri, jauh dari hiruk-pikuk kota. Hanya saja, mungkin akses listrik tidak terjangkau di sana karena hanya mengandalkan tenaga diesel yang ada di dalam rumah, Ollan sudah paham akan hal itu, dan sudah mempertimbangkan segala sesuatunya.
Ollan tersenyum melihat bangunan itu, kemudian masuk ke dalam villa yang terasa pengap, karena lama tidak dipakai. Perabotannya sedikit berdebu, tetapi semua berfungsi normal. Ada ruang duduk dengan kain-kain beludru berwarna emas, serta berbagai perabot terbuat dari kayu, menambah kesan eksotis dari villa. Ollan duduk sejenak di kursi berkain beludru itu, berusaha menyamankan diri. Ia ingin membebaskan diri dari segala pikiran buruk setelah berbagai masalah menghimpit.
Ia kemudian menuju ke ruang tengah dengan sebuah meja makan kecil yang dikelilingi empat buah kursi. Ada juga sebuah kulkas berkuran sedang. Ruang makan itu terhubung langsung dengan dapur, untuk mengefektifkan fungsi ruangan. Tentu saja, tak ada apa pun yang bisa dimakan di tempat ini. Ollan sudah membeli beberapa perbekalan yang bisa dipakai untuk beberapa hari.
Ia beranjak ke lantai dua. Di lantai dua ada dua kamar tidur, serta sebuah balkon yang menghadap langsung ke arah luar. Dari balkon itu ia bisa melihat keadaan sekitar villa yang dikepung perbukitan kecil. Sungguh indah. Villa ini memang dirancang sebagai tempat istirahat yang sempurna. Ollan tersenyum senang, berdiri di tepi balkon sambil melihat sekeliling.
Setelah puas, ia memilih sebuah kamar tidur di lantai dua yang dilengkapi kaca besar, sehingga ia bisa mengamati keadaan sekitar villa dengan leluasa. ia segera menghempaskan diri di atas ranjang busa yang super empuk, sambil membuka lebar-lebar jendela kaca, membiarkan angin dari luar berhembus membelai rambutnya.
Sambil menikmati rebahan, ia kembali membuka ponselnya. Ada beberapa pesan masuk, dan ada beberapa panggilan tak terjawab. Sebenarnya ia tak terlalu menggubris panggilan tak terjawab itu karena nomor pemanggil tidak terdaftar di ponselnya. Namun, ada sebuah pesan yang cukup mengusik.
"Ollan, kamu di mana? Tetap waspada dan jaga diri! Aku Reno dari kepolisian. Kalau terjadi apa-apa segera hubungi nomor ini!"
Ollan mengernyitkan dahi sebentar. Mengapa ada seorang polisi yang menyuruhnya untuk waspada dan menjaga diri? Ia penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi? Namun, ia memilih untuk tak mengambil pusing. Ia baikan pesan dari Rapieno tersebut. ia hanya ingin liburan dan menenangkan diri, mumpung Henry Tobing tidak tahu bahwa ia sedang memakai villanya.
Pada akhirnya, ia mematikan ponselnya. dan kembali fokus untuk beristirahat. Bahkan. Ia sangat yakin, bahwa berdiam diri selama beberapa hari di tempat ini akan kembali menyegarkan pikirannya yang saat ini buntu.Sebentar lagi gelap datang, tetapi ia ingin beristirahat barang sebentar, sebelum menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.
Ia hendak memejamkan mata sejenak, tetapi tak bisa tidur. Kembali ia membuka ponsel dan mengecek pesan-pesan yang masuk. Tiba-tiba, ada sebuah pesan yang menarik perhatiannya. Sebuah pesan yang dikirim orang yang tidak ia kenali.
Ikan sudah masuk perangkap. Semoga masih bisa menikmati udara pagi besok. Aku tahu kamu ada di mana, Ollan. Jangan lupa untuk mengunci pintu jendela, karena siapa tahu ada orang yang menyusup. Waspadalah!
Ollan tercekat membaca pesan singkat dari nomor tak dikenal itu. Ia langsung beranjak bangkit untuk memeriksa pintu dan jendela. Konstruksinya dibuat dengan konsep sehingga ada jendela yang memang dibiarkan terbuka agar udara dan sinar matahari bisa masuk dengan bebas. Ia masih tak habis pikir, siapa yang mengirim pesan itu kepadanya?
"Mungkin hanya orang iseng .... " gumamnya.
Namun, pesan dari kepolisian tadi meyakinkan bahwa ancaman lewat pesan misterius itu seolah benar adanya. Ollan merasa kebingungan. Belum selesai dirundung kesedihan, muncul lagi ancaman pembunuhan. Sebenarnya ia berpikir praktis saja, bahwa ia akan membiarkan dirinya dibunuh, karena ia sudah bosan dengan kepedihan hidup yang ia alami. Namun, segera saja pikiran itu ditepisnya jauh-jauh.
"Aku tak mau mati!"
***
Malam mulai datang, kegelapan menyelimuti kota. Banyak orang ingin segera mengakhiri aktivitas hari itu, termasuk Widya. Ia segera merapikan peralatan riasnya, karena ada beberapa artis yang minta dirias hari ini untuk keperluan syuting acara TV. Beberapa artis tertentu ingin Widya yang merias, karena ketrampilan yang dimiliki gadis itu benar-benar mumpuni. Widya dikenal mempunyai hasil riasan yang berkelas dan natural, sehingga terlihat elegan.
"Mau pulang, Wid?" tanya Riky.
"Eh, iya Rik!"
Widya menjawab sambil terus merapikan tas dan meja riasnya, tanpa begitu memepdulikan kehadiran Riky di tempat itu.
"Nggak jadi ke acara Guntur?" tanya Riky.
"Oh, iya aku lupa memberitahumu bahwa Guntur membatalkan acara minum kopi itu karena ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Aku sendiri juga ingin cepat-cepat sampai ke rumah karena pengen cepat istirahat," kata Widya.
"Oh ... kalian pada sibuk semua ya! Oke lah. Aku akan berkeliling kota saja sendirian. Biasalah kalau jomblo seperti aku ini, kemana-mana selalu sendiri," ujanr Riky sambil tersenyum kecut.
"Mau kutemani kah?" tawar Widya.
"Tidak usah. Kamu bilang hari ini sangat lelah dan ingin segera istirahat. tadi kulihat ada beberapa orang yang kamu rias. dan aku tahu itu pasti melelahkan. Mungkin lain kali saja. Kamu butuh sitirahat, Wid. Terima kasih ya!" ucap Riky.
"Terima kasih untuk ...?"
Widya tersenyum mendengar perkataan Riky, sembari menepiskan tangannya.
"Nggak usah gitu-gitu lah, Rik. Aku bantuin kamu ya karena kamu teman aku. Mungkin suatu saat Guntur atau bisa siapa saja yang aku bantuin. Biasa aja lah," ucap Widya.
Riky mengangguk. Ia membiarkan Widya keluar kantor studio itu dengan tergesa. Saking tergesanya Widya, ia bahkan lupa mengucapkan ucapan perpisahan pada Riky. Namun, itu bukan masalah besar bagi Riky. Sepeninggal Widya, ia mengeluarkan selembar foto gadis kecil dari kantongnya. Foto itu ditemukan Widya saat membersihkan ruangan Daniel Prawira.
Riky mengamati foto itu dengan serius, kemudian bergumam," Aku tahu siapa kau!"
***
Niken merasa puas mendapat informasi dari Herman Sirait. Pengacara kondang itu menceritakan banyak tentang Daniel Prawira. Mereka masih berhadapan saling bercengkrama. Terlihat mata Herman Sirait yang menatap polisi wanita itu dengan penuh nafsu, seolah santapan lezat yang hendak ia santap bulat-bulat. Niken bukan tak sadar akan hal itu, tetapi tentu saja ia abaikan saja tatapan liar itu.
"Jadi ... siapa sebenarnya Margareth Prawira itu?" tanya Niken kemudian.
"Hmm, sebenarnya Margareth adalah nama khayalan Daniel Prawira. Tak ada nama Margareth dalam hidup Daniel. Ia bersikeras untuk tidak mewariskan hartanya kepada dua adiknya yang telah kaya-raya. Jadi dia memutuskan untuk mewariskan harta pada seseorang yang bukan dari keluarganya .... "
"Jadi Margareth ini sebenarnya orang lain?" tanya Niken.
"Ya, Margareth ini orang lain. Seseorang yang namanya sengaja diubah menjadi Margareth dengan identitas baru. Daniel sengaja mengubah nama orang ini menjadi Margareth dan menambahkan nama Prawira di belakangnya agar seolah dia merupakan bagian dari keluarga Prawira. Perkwainannya dengan Mariana tak menghasilkan buah hati, dan ia berinisiatif untuk melakukan ini," terang Herman Sirait.
"Jadi ... Margareth ini anak angkat Daniel Prawira?" Niken semakin antusias.
"Benar. Bisa dikatakan begitu .... "
"Lalu di mana anak angkat itu? mengapa ia tidak pernah muncul?"
"Karena anak angkat itu juga sudah meninggal!" kata Herman.
"Meninggal?"
"Ya! Anak angkat itu adalah Anita Wijaya!"
***