
Adinda sedang membaca sebuah literatur tebal di sudut perpustakaan lantai tiga, ketika tiba-tiba Ferdy muncul di hadapannya. Gadis itu terkejut, sontak menutup bukunya. Ia sama sekali tidak menyangka kehadiran pria muda ini. Akses ke dalam perpustakaan lumayan ketat, hanya mahasiswa yang bisa masuk ke dalam. Setiap yang masuk harus mempunyai kartu mahasiswa.
“Ferdy?” gumam Adinda.
“Maaf, Din. Aku menemuimu di sini, karena ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Aku merasa tidak tenang dengan semua yang terjadi belakangan ini. Hari ini aku izin tidak kerja hanya untuk menemuimu, karena ini penting,” ucap Ferdy setengah berbisik.
Dia mengambil tempat tepat di hadapan Adinda, sambil melihat sekeliling. Suasana perpustakaan cukup ramai, tetapi tetap tenang karena aturan di dalam perpustakaan, semua harus menjaga ketenangan.
“Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?” bisik Adinda sambil menyorongkan kepala ke arah Ferdy.
“Aku meninggalkan KTP di lobby. Aku terpaksa menemuimu karena kondisi kita sedang tidak bagus. Kemarin rumah Gerry digeledah oleh polisi, dan polisi sudah mengantongi identitas kita semua. Aku tahu, semua sepakat menjaga rahasia ini rapat-rapat. Sayangnya, aku tidak setuju. Sebaiknya kita jujur saja pada polisi bahwa Rudi lah yang mempunyai ide gila ini. Dari awal aku nggak setuju kalau mayat Jenny dibuang ke danau. Kamu juga nggak setuju kan? Alex juga nggak setuju. Untuk itu, aku minta dukungan kalian, kita harus jujur pada polisi. Ini perbuatan Rudi, tetapi kita semua yang kena!” ucap Ferdy pelan.
“Aduh! Mengapa jadi rumit seperti ini ya? Tetapi semua sudah terlambat Fer. Ini nggak bisa diperbaiki. Rudi dan Gerry sudah terlanjur berbohong pada polisi. Kalau kita jujur, nanti kita malah terseret. Aku khawatir akan hal itu,” cemas Adinda.
“Nggak, Din! Kita minta jaminan polisi untuk melindungi aku, kamu, dan Alex. Sebab, kalau kita jujur dapat dipastikan teman-teman akan memusuhi kita. Aku sadar itu. Aku yakin, kejujuran itu akan berakibat baik. Polisi pasti segera dapat meringkus pembunuh Jenny dan Alma. Kita ini korban! Pas tahun baru kemarin, toh kita udah bilang pada mereka kalau kita nggak setuju. Tetapi, kita kan kalah suara. Ini kesempatan kita untuk lolos dari jerat hukum. Kita harus jujur! Aku yakin, polisi akan memaklumi kita,” ucap Ferdy.
Adinda terdiam, berusaha mencerna perkataan Ferdy yang perlahan mulai memengaruhi otaknya. Dari awal, memang sebenarnya ingin jujur bahwa ia tidak setuju kalau mayat Jenny dibuang ke danau, tetapi ia tak berani mengelak ajakan teman-temannya. Sekarang. Ferdy datang dan mengajak untuk menceritakan yang sebenarnya pada polisi.
“Bagaimana dengan Alex? Apa kamu sudah ngomong dengan dia?” tanya Adinda.
“Aku belum ketemu sama dia. Kuharap dia mau mendukung kita. Sebab, aku tahu sebenarnya dia juga kurang setuju dengan semua kebohongan ini. Masalahnya ini sangat menyiksa batin loh. Aku nggak bisa tidur berhari-hari gara-gara masalah ini. Apalagi semenjak polisi mengantongi identitas kita semua. Setelah ini, polisi pasti akan menginterogasi kita secara bergilir,” terang Ferdy.
“Mending kita temui Alex dulu dan minta pendapat dia. Walaupun dia terlihat culun, aku tahu sebenarnya dia itu cerdas,” usul Adinda.
“Oke, nggak masalah. Mumpung kita di kampus, bagaimana kalau kita cari Alex?”
Adinda mengangguk. Keduanya segera keluar dari perpustakaan untuk mencari Alex di kampusnya. Sebenarnya Adinda merasa gelisah luar biasa. Ia sangat yakin, kalau saja teman-temannya tahu bahwa ia berkata jujur pada polisi, pasti mereka akan memberi label pengkhianat pada dirinya. Namun, bukankah yang terpenting saat ini adalah mencari selamat? Ketika kapal mulai karam, tentu semua orang akan berlomba untuk mencari selamat sendiri-sendiri.
Mereka menemukan Alex sedang menyendiri di depan papan pengumuman, sedang serius menatap berbagai pengumuman yang tertempel di sana.
“Hai Lex!” sapa Ferdy.
Alex menoleh, mendapati Ferdy dan Adinda berjalan mendekat. Alex hanya bergeming tanpa ekspresi. Ia berharap kedua orang itu tak membawa berita yang meresahkan.
“Kamu lagi sibuk nggak?” tanya Ferdy.
“Nggak sih. Lagi melihat info beasiswa aja. Ada apa?” tanya Alex.
Alex yang masih belum sepenuhnya paham hanya mengernyitkan kening. Ada sesuatu yang dipikirkannya.
“Maaf, sepertinya aku akan mundur dari semua ini. Aku akan fokus dengan kuliahku, karena aku ingin ambil beasiswa belajar ke Jerman tahun depan. Aku nggak peduli lagi dengan semua yang terjadi. Terserah lah kalau kalian mau jujur atau bohong, aku nggak mau tau. Aku hanya ingin hidup tenang. Tolong, jangan temui aku lagi. Siapa pun dari kalian, jangan temui aku!” ucap Alex.
“Maksudmu ... kamu lepas tangan dari segala masalah ini?” tanya Adinda.
Alex mengangguk. Parasnya terlihat dingin tanpa ekspresi.
“Ya aku paham dengan perasaanmu, Lex. Kita semua takut. Kita semua khawatir. Namun, lepas tangan dari masalah ini bukan lah suatu solusi. Justru kita akan dihantui rasa bersalah. Tapi itu hak kamu. Walau pun kamu lepas tangan, polisi tidak akan membiarkan begitu saja, Lex. Polisi tetap akan menanyaimu, karena identitas kita sudah dikantongi oleh mereka,” ujar Ferdy.
“Aku nggak peduli. Masa bodoh lah dengan semua itu. Kalau polisi menemui aku, aku akan jawab semua pertanyaan sesuai yang kulihat malam itu. Aku lelah. Aku nggak mau lagi bohong untuk orang lain,” ucap Alex.
“Oke ... oke, Lex. Kami sudah paham apa maksudmu. Intinya, kamu mau jujur pada polisi kan? Aku dukung itu. Karena setelah ini kami juga akan mengatakan hal sebenarnya pada polisi. Hal ini jauh lebih aman daripada kita harus menyembunyikan kebusukan ini.”
Alex tak menjawab. Parasnya tetap tenang tanpa ekspresi. Setelah dirasa cukup, ia melenggang pergi meninggalkan Ferdy dan Adinda tanpa berkata apa-apa.
“Dia selalu aneh ....” Ferdy berkata sambil menggeleng.
“Aku kasihan padanya, Fer. Saat pesta tahun baru, harusnya dia pulang lebih awal, kalau saja tidak ketiduran. Bayangkan, dia bangun tidur, langsung dikejutkan dengan penemuan mayat di kamar mandi. Bukan hanya itu, malahan semua terlibat, bahkan mungkin jadi tersangka. Tentu dia sangat terpukul. Padahal dia mahasiswa cerdas. Entah, apakah dia bisa berangkat ke Jerman atau tidak tahun depan,” ucap Adinda.
“Hmm. Yang penting hari ini kita sudah dengar pendapatnya. Aku sudah yakin, dia pasti jujur pada polisi. Maka Rudi harus siap-siap menjadi tersangka. Firasatku mengatakan memang dia pembunuhnya, sebab Jenny meninggal dalam keadan hamil. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia?”
“Lalu siapa yang membunuh Alma? Apakah Rudi juga?”
“Entahlah. Bisa jadi dia, entah motifnya apa.”
“Bagaimana kalau kamu ternyata pembunuhnya?” tanya Adinda penuh selidik.
Ferdy tertawa seraya berkata,”Mungkin saja, Din. Makanya jangan percaya aku seratus persen.”
Adinda tersenyum. Ia begitu terpikat dengan senyum Ferdy. Dalam hati, ia merasa tak peduli dengan semuanya. Ia hanya ingin dekat dengan pria itu. Perasaannya mulai terseret oleh pesona Ferdy.
***