Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
171. Identitas Palsu


Reno masih tak percaya melihat nama yang tertera dalam catatan Pak Andika, pemilik rental mobil itu. Ia juga memelototi fotokopi KTP yang terlampir. Sungguh, ia tidak mengerti dengan semua ini. Berkali-kali ia baca, tetapi nama itu tetap terlihat aneh baginya.


“Bapak tidak salah tulis? Atau mungkin ini fotokopi KTP yang salah?” tanya Reno kepada Pak Andika.


“Saya rasa kami tidak salah tulis, karena kebetulan saya sendiri yang menerima gadis itu. Waktu itu, karyawan saya sedang sakit, sehingga saya lah yang terpaksa menggantikan. Saya benar-benar ingat, gadis itu memberikan KTP ini, tetapi memang saya merasa sedikit aneh ....”


Pak Andika mengernyitkan kening, berusaha mengingat sesuatu. Reno semakin antusias mendengar penuturan pemilik rental mobil itu.


“Apa yang aneh dan janggal Pak?” tanya Reno.


“Foto di KTP dan wajah gadis yang meminjam mobil itu sedikit berbeda. Rambutnya juga beda. Tapi saya berpikir mungkin karena pengaruh kualitas fotokopinya yang kurang bagus, membuat wajah asli dan wajah di KTP sedikit berbeda,” terang Pak Andika.


“Jadi gadis seperti apa yang Bapak lihat?” desak Reno


“Dia cukup cantik, agak tinggi, pakai kacamata hitam, dan memang agak gelisah. Sayangnya saya baru menyadari setelah dia pergi, dan saya tak begitu ambil pusing, karena gadis itu sudah membayar tunai uang sewa mobil selama satu bulan, jadi saya ya tenang saja, toh saya menyimpan KTP-nya. Masa sih gadis cantik seperti itu mau nipu? Begitu pikir saya waktu itu.” Pak Andika menjelaskan.


“Bapak tahu nggak! Jelas KTP yang dikasi gadis itu palsu. Nama gadis itu juga palsu. Dia sengaja menggunakan identitas palsu untuk meminjam mobil ini. Dan Bapak juga perlu tahu bahwa mobil ini digunakan untuk sejumlah tindak kejahatan. Oleh karena itu, mungkin mobil ini sengaja diterjunkan ke jurang untuk menghilangakan jejak, karena memang tak ada penumpang di dalamnya,” ucap Reno.


“Astaga! Aduh, maaf Pak, saya tidak tahu apa-apa kalau memang mobil itu dipakai untuk tindak kejahatan. Kami hanya meminjamkan mobilnya saja, dan tentu saja kami berpikir positif, tanpa curiga apa-apa. Kalau ternyata mobil itu digunakan untuk kejahatan, itu sama sekali di luar tanggung jawab kami."


Pak Andika menerangkan dengan sedikit gugup, karena ia tidak mau dipersalahkan atas kejahatan yang mungkin dilakukan orang lain, dengan mengatas namakan dirinya.


“Tenang, Pak. Saya juga nggak nuduh Bapak melakukan tidak kejahatan kok. Kami hanya menginformasikan saja bahwa mobil Bapak dipakai orang lain untuk tindak kejahatan, dan parahnya orang itu memakai identitas palsu,” ucap Reno.


“Maafkan kami, Pak. Lain kali kami akan lebih berhati-hati. Ini akan jadi pelajaran berharga bagi kami,” ucap Pak Andika.


Reno mengangguk-angguk. Ia masih tak habis pikir dengan nama yang ditulis di buku data Pak Andika.


“Bapak juga perlu tahu, bahwa nama palsu yang dipakai peminjam mobil Bapak ini sebenarnya orangnya telah mati .... “ ucap Reno.


“Ma-maksud Bapak?” Pak Andika semakin gugup.


“Di KTP ini jelas tertulis nama Jenny Veronica. Bapak tidak menonton televisi ya? Jenny Veronica sudah meninggal sejak awal tahun kemarin karena dibunuh dan ditenggelemakan ke danau. Mana mungkin dia meminjam mobil? Ini juga fotokopi KTP milik Jenny yang sudah agak lama. Jelaslah peminjam mobil itu sengaja menggunakan identitas Jenny, orang yang sudah mati, agar dia tak mudah tak terlacak!”


“Astaga! Ini sangat mengerikan sekali, Pak. Kok bisa ya saya seceroboh itu? Tapi percayalah, Pak. Saya sama sekali tak terlibat dengan ini semua,” ucap Pak Andika dengan sedikit gemetar.


“Ya, ya ... saya tahu itu bukan Bapak yang salah. Saya akan bekerja lebih keras, siapa sebenarnya gadis yang berpura-pura menjadi Jenny ini. Bisakah Bapak mengingat lebih detail, bagaimana penampakan gadis itu?” tanya Reno.


“Ya, selain tinggi dan cantik, dia mempunyai rambut lurus panjang kemerahan seperti dicat dan ... apa ya? Saya rasa agak-agak lupa juga. Saya tidak biasa mengingat wajah konsumen saya, kecuali mempunyai ciri khusus yang khas. Gadis itu tampak biasa-biasa saja, Pak. Saya sama sekali nggak menaruh curiga padanya,” papar Pak Andika.


“Baik Pak. Informasi Bapak sangat berharga. Kami akan mencoba menggambarkan dengan sketsa, sesuai deskripsi yang Bapak gambarkan. Mungkin nanti Bapak bisa melengkapi dengan menginformasikan kepada kami tentang warna kulit, perkiraan tinggi badan, bentuk mata dan lain-lain. Kami membutuhkan data ini agar lebih mudah mendapatkan identitas siapa sebenarnya wanita yang menyamar sebagai Jenny ini,” terang Reno.


“Siap, Pak! Kami siap membantu apa saja. Kalau ada hal-hal yang perlu ditanyakan Bapak bisa langsung datang ke sini atau via telepon. Saya akan siap 24 jam membantu Bapak!” ucap Pak Andika.


“Terima kasih atas kerjasamanya. Nanti kami akan hubungi Bapak apabila ada hal-hal lain yang kami perlukan!”


Pembicaraan itu berakhir. Reno berpamitan pada Pak Andika.


Saat masuk mobil, ia masih tak habis pikir bagaimana bisa KTP Jenny bisa digunakan oleh seseorang untuk meminjam mobil. Ia langsung menduga bahwa semua ini sudah direncanakan, dan ia mempunyai opini kuat, bahwa gadis peminjam mobil ada kaitannya dengan kasus pembunuhan yang ia hadapi.


***


Sementara yang lain bermain catur di ruang tamu, Adinda dan Rasty, serta ditemani oleh Rudi, berjalan-jalan ke beranda samping yang banyak ditanami tanaman hias. Bu Mariyati mempunyai rasa estetik yang cukup bagus. Ia menata pot-pot bunga dengan indah, menempatkan tanaman hias berukuran kecil di barisan depan, sementara tanaman-tanaman berdaun lebar berderet di belakangnya.


Di dekat tanaman hias, terdapat sebuah kursi taman yang terbuat dari besi yang kelihatannya sudah ada sejak zaman Belanda. Cat nya nyaris sudah tak menempel, mengelupas di sana-sini. Bangku itu diduduki oleh Adinda dan Rasty, sementara Rudi duduk di batu besar tak jauh dari tempat mereka.


“Kadang aku takut berada di tempat ini. Sangat menyeramkan .... “ gumam Adinda sambil memainkan kembang sepatu yang berada di tangannya.


“Tempat ini kan bangunan tua, ya sudah pasti ada penunggunya. Kupikir selama kita nggak ganggu, ya mereka nggak ganggu kita. Jangan khawatir!” Rasty berusaha menenangkan.


“Memangnya kamu mengalami apa? Cerita dong!” ucap Rasty.


Rudi yang sedari tadi hanya duduk rupanya juga antusias mendengar perkataan Adinda. Walau ia kurang suka dengan hal-hal supernatural, tetapi tetap saja ia suka mendengar cerita-cerita yang berkaitan dengan hantu.


“Nggak usah cerita lah! Ntar pada takut lagi!” larang Rudi.


“Kamu aja kali yang takut, Rud!” cibir Adinda.


“Eh, nggak ya! Aku waktu kecil sering diajak kakekku berkelana menjelajah kuburan biasa-biasa aja tuh. Iya aku percaya sih hantu itu ada, tetapi asal kita nggak gangguin kan nggak apa-apa juga,” celoteh Rudi.


“Ah, udah ah! Aku stop bahas hantu-hantuan! Kalian sudah tahu belum kalau aktivitas kita selama di rumah ini akan ada jadwalnya. Jadi kamu jam sekian mau ngapain itu ada jadwalnya. Mirip di asrama nggak sih,” ujar Adinda.


“Siapa yang bilang?” tanya Rasty penasaran.


“Pak Dimas yang bilang. Tadi pagi aku ngobrol sama dia bersama Lena, karena terus terang Lena jenuh banget di sini. Dan aku juga mulai takut di sini, jadi aku nanya ke Pak Dimas apa ada solusi untuk mengatasi ini. Pak Dimas bilang sih nanti mereka akan menyediakan sarana hiburan dan akan menjadwal kegiatan kita, jadi jelas apa yang mau kita lakukan, nggak harus bingung mau ngapain,” terang Adinda.


“Ide bagus aja sih. Aku setuju. Paling nggak kita nggak bingung mau ngapain di rumah ini. Kayak sekarang ini, kita duduk di sini untuk mengatasi kebosanan. Yang lain sih enak bisa main catur. Kita yang nggak ngerti jadi serasa terbuang,” keluh Rasty.


Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba Bu Mariyati menghampiri dengan wajah cemas. Ia melongok kesana-kemari seperti mencari sesuatu yang hilang. Tentu saja hal itu membuat para anak muda penasaran.


“Agung? Agung?” ucap Bu Mariyati.


“Nyari apa, Bu?” tanya Adinda.


“Kucing Non. Yang warna putih. Biasanya jam segini sudah balik ke rumah karena waktunya makan. Tapi ini kok belum ada kelihatan. Kalaupun main juga nggak jauh-jauh. Mungkin Non tahu?” tanya Bu Mariyati sambil terus mencari kucing yang dimaksud sampai ke kolong-kolong rak pot bunga.


“Kucing? Memang Bu Mar punya kucing? Kok aku nggak pernah tahu kalau Bu Mar punya kucing?” tanya Rasty.


Ia merasa agak geli, karena Bu Mariyati menamai kucingnya dengan nama 'Agung'.


“Ada Non. Saya punya tiga ekor kucing. Yang dua sih udah kembali. Tapi yang satu ini belum. Yang warnanya putih. Biasanya mainnya kan gak jauh. Tapi ini, kok belum kembali ya? Aduh di mana ya? Agung! Agung'”


Bu Mariyati, wanita paruh baya itu berlanjut mencari sampai ke halaman depan, sementara para anak muda itu juga jadi ikut bingung, tetapi tak tahu harus membantu apa. Di lihat dari paras Bu Mariyati yang cemas seperti itu, pasti dia sangat menyayangi kucingnya. Hal itu wajar, mengingat Bu Mariyati hanya tinggal berdua dengan suaminya di rumah terpencil ini. Kucing itu pasti sangat ampuh untuk mengusir kesepian yang melanda.


“Semoga lekas ketemu kucingnya ya, Bu!” Rudi ikut menanggapi.


“Kamu suka kucing, Rud?” tanya Adinda.


“Nggak terlalu sih. Biasa aja. Belum pernah punya kucing, padahal pengen. Kayaknya imut gitu ya wajahnya. Dulu Ibu nggak ngebolehin. Kalau habis main kan aku bawa kucing tetangga ke rumah, eh, malah dimarahin. Ya udah, gagal deh punya kucing,” cerita Rudi sambil tertawa-tawa.


“Aku alergi kucing sih. Jadi kalau kena bulu kucing dikit aja langsung bersin-bersin. Sebenarnya suka, tetapi ya itu. Kalau kena bulu kucing dikit aja, udah nggak kuat. Jadi aku cenderung menjauh kalau ada kucing,” tambah Rasty.


“Kalau kena bulu nya Mas Rudi alergi juga nggak?” ledek Adinda.


“Dih, apaan sih!”


Wajah Rasty berubah merah tersipu-sipu. Sebenarnya ia merasa malu, tetapi juga senang dengan candaan Adinda. Ia melirik ke arah Rudi, untuk mencari tahu bagaimana tanggapannya terhadap candaan Adinda. Dari sudut mata, Rasty melihat Rudi seolah tak mendengar candaan itu. Ia hanya bersikap dingin, seolah ada yang sedang dipikirkannya. Bahkan wajahnya cenderung gusar.


Sejenak kemudian, ia berdiri menghampiri kedua gadis yang sedang bercanda itu.


“Kita di sini dikurung dan terancam mati, tapi kalian masih saja bisa bercanda hal-hal remeh seperti itu. Lebih baik kalian waspada, dan jangan sampai kalian jadi korban berikutnya!” ucap Rudi tegas.


Ia berlalu dari hadapan dua gadis itu. Rasty dan Adinda tercekat. Rudi benar, maut bisa mengintai kapan saja. Suasana menjadi tak nyaman. Mereka sepakat untuk kembali ke kamar segera, mengingat malam yang semakin larut. Udara dingin menggigit kulit, suasana sepi makin menjadi.


***