Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
112. Sampai Bertemu di Neraka!


Alma tercekat. Sosok yang mengenakan hoodie itu menatapnya tajam, walau wajahnya tertutup topeng aneh. Firasatnya mengatakan bahwa sosok ini mempunyai maksud yang tidak baik terhadapnya. Ia mundur beberapa langkah.


“Si-siapa kamu?” tanya Alma takut-takut.


Sosok itu tidak menjawab. Ia maju beberapa langkah. Alma segera berbalik, mengambil langkah seribu. Ia berharap ada orang lain di tempat itu. Nyatanya, tempat parkir bawah tanah itu sepi. Ia menoleh ke belakang, tetapi sosok itu kembali menghilang.


“Kemana dia?” gumamnya.


Alma semakin bingung. Di sekitarnya hanya ada mobil-mobil yang berjajar. Semua terlihat sama. Ia bingung hendak sembunyi di mana. Ia putuskan untuk bersembunyi di antara mobil-mobil itu, sambil berjalan merunduk agar tidak terlihat sosok yang mengejarnya. Sebenarnya ia mendengar langkah kaki, tetapi ia tak dapat memastikan di mana berada. Dadanya berdegup kencang. Ia merasa takut.


Braaak!


Tiba-tiba ia mendengar suara seseorang memukul badan mobil di dekatnya. Alma terlonjak. Tiba-tiba saja sosok itu sudah muncul di seberang mobil tempat ia bersembunyi. Seketika Alma panik melihat itu.


“Ambil saja dompetku kalau kamu mau!” pekik Alma.


Ia mengira kalau sosok ini adalah penjahat yang ingin merampok atau mengambil sesuatu yang berharga darinya. Sayangnya sosok itu bergeming. Ia tidak menggubris ucapan Alma. Ia malah mendekat, membuat Alma semakin takut. Ia berlari ke sisi mobil yang lain, namun sosok itu terus memburu.


“Tolooong!”


Alma mulai berteriak, tetapi tak ada seorang pun mendengar. Tempat parkir itu sangat sepi dan mulai gelap. Kembali dilihatnya sekeliling, sosok itu menghilang lagi. Alma menjadi bingung. Ia harus segera pergi menuju lift yang menghubungkan dengan gedung utama. Segera ia mengendap menuju lift yang letaknya di ujung tempat parkir. Sayangnya, belum lagi ia sampai di lift, sosok penguntit kembali muncul. Setengah berlari Alam menuju lift. Tetapi sosok itu juga mempercepat langkahnya.


Alma sudah sampai di depan lift, tetapi ia harus menunggu karena lift masih tertahan di lantai delapan. Padahal sosok itu sudah semakin dekat. Berkali-kali ia pencet tombol lift. Semua usahanya sia-sia, lift seolah tak mau turun. Ia kehilangan akal, ia segera menjauh dari lift.


Terlambat! Sosok itu sudah sedemikian dekat. Ia berhasil meraih tubuh Alma kemudian menghempaskan ke lantai. Alma tersungkur. Ia mencoba berdiri hendak berlari, tetapi sosok itu juga tidak tinggal diam. Ia menangkap tubuh Alma kembali, kemudian membenturkan tubuhnya pada sebuah mobil.


Alma merasakan tulang-tulangnya seperti hancur. Susah-payah ia mencoba untuk bangkit, tetapi tiba-tiba sosok itu mencengkeram lehernya. Alma tercekik, berusaha meloloskan diri. Sayangnya segala usaha sia-sia. Ia meronta, tetapi cengkeraman makin kuat. Ia merasakan tubuhnya terhuyung ketika, sosok itu membenturkan kepalanya ke kaca mobil.


Praaak!


Benturan keras itu menyebabkan kaca mobil seketika pecah, darah mulai terpercik. Kepala Alma pecah menghantam kaca mobil. Nyawanya meregang seketika. Sosok itu membiarkan tubuh Alma tergeletak begitu saja di samping mobil, dengan darah terpercik di mana-mana. Ia tatap tubuh Alma, sambil melepas sarung tangannya. Ia membuka tas kecil yang dibawa Alma, mengambil ponsel di dalam tas. Ia memotret tubuh Alma beberapa kali dengan ponsel itu, kemudian dengan tenang ia tinggalkan jasad Alma begitu saja, seolah tak terjadi apa-apa.


***


Gerry baru saja mengelap tubuhnya yang basah oleh keringat. Ia hendak menuju kamar mandi untuk membasuh badannya. Seperti biasa, ia rajin berolahraga paling tidak tiga kali setiap pekan. Sengaja ia memilih sebuah tempat fitness yang cukup berkelas. Hanya kalangan atas yang menjadi anggota di pusat kebugaran itu.


Ia mengambil botol minum, menenggak isinya sampai habis. Ia hendak beranjak, tetapi bunyi ponsel mengagetkannya. Ia lihat siapa yang memanggil, terlihat nama Alma di sana. Segera ia angkat panggilan dari Alma tersebut.


“Iya Sayang, aku lagi di tempat fitness ini. Kamu sudah di rumah atau atau masih di rumah sakit?” tanya Gerry.


Tak ada jawaban dari telepon Alma, hanya suara gemerisik tak jelas. Gerry merasa heran. Ia menduga ada gangguan sinyal pada ponsel Alma.


“Halo ... halo! Sayang? Kamu denger suaraku nggak?” tanya Gerry.


Sampai bertemu di neraka, Sayang!


Pesan itu aneh. Gerry tidak pernah mendapat pesan yang seperti ini dari Alma. Ia berpikir bahwa Alma sedang mengajaknya bercanda. Namun, bahasa yang digunakan gadis itu terdengar aneh. Ia membalas pesan dari Alma.


Ha-ha-ha! Lucu sekali, Sayang! Kita akan bertemu di surga dong!


Pesan itu tak berbalas, sampai kemudian muncul lagi beberapa pesan masuk dari nomor Alma. Kali ini bukan pesan biasa, melainkan foto-foto tubuh Alma yang tergeletak di samping mobil dengan kepala pecah penuh darah!


Gerry seketika terpukul melihat foto-foto itu. Jantungnya berdegup kencang, seolah tak percaya dengan foto-foto yang baru ia terima. Ia telepon nomor Alma, tetapi nomor itu seketika tidak aktif. Gerry dicekam rasa panik. Ia tidak tahu harus berbuat apa, masih mematung tanpa tahu yang harus ia lakukan selanjutnya. Perasaannya bercampur aduk.


Ia duduk sebentar berusaha menenangkan diri, sambil menarik napas dalam-dalam. Benarkah apa yang ia lihat barusan? Benarkah yang tergeletak dengan kepala hancur itu Alma? Ia masih belum mempercayai apa yang ia lihat. Tadi siang ia masih berbicara dengannya. Gadis itu mengatakan bahwa ia akan mengantar mamanya ke rumah sakit.


Pada akhirnya, ia putuskan untuk pulang segera. Ia menelepon Rudi, tetapi tak juga diangkat. Sepanjang perjalanan ia gelisah. Tak bisa konsentrasi barang sedikit pun. Ia tak ingin berlarut-larut, kemudian ia belokkan mobilnya ke apotek tempat kerja Ferdy. Sayangnya, Ferdy tak ada di tempat. Yang ada hanya Vera, teman satu kerja Ferdy.


“Loh, Ferdy kan udah pulang. Hari ini ia shift pagi, jadi jam 5 tadi sudah pulang,” kata Vera.


“O iya ya, aku lupa. Tadi kan dia nggak bisa datang ke pemakaman Jenny,” gumam Gerry.


Ia menelepon sepupunya itu segera.


“Fer, kamu ada di rumah nggak? Bisa nggak kita ketemu?” tanya Gerry.


“Oh, aku lagi cari makan nih, Ger. Boleh kalau mau ketemu. Tumben. Di mana kita ketemu?”


“Alamanda Cafe ya! Pukul delapan lah. Aku siap-siap dulu. Ada sesuatu yang penting yang ingin kubicarakan.”


“Siap. Nanti aku kesana!”


Gerry menutup panggilan itu. Ia masih dicekam rasa gelisah yang mendalam. Dalam pikirannya, terus terbayang wajah Alma. Ia tetap tidak percaya kalau kekasihnya itu tewas dalam keadaan mengenaskan. Ia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, langsung meluncur ke Alamanda Cafe. Ia ingin segera melupakan yang terjadi. Sambil meunggu kedatangan Ferdy.


Untunglah, cafe itu tidak seberapa ramai, jadi ia masih bisa menenangkan diri di sudut ruangan dengan tenang. Kegelisahan terus merayap tanpa ampun. Rasanya ia tak ingin makan apa pun . Ia ingin menenggak minuman keras, tetapi diurungkan niat itu. Ia harus tetap sadar malam ini.


Cafe itu dilengkapi dengan layar televisi. Ia terkejut ketika tiba-tiba TV menayangkan sebuah breaking news. Di layar menampilkan wajah reporter terkenal Gilda Anwar sedang melakukan siaran.


“Pemirsa, satu jam lalu kembali terjadi pembunuhan di sebuah rumah sakit elit. Seorang gadis ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di tempat parkir bawah tanah. Belum dapat dipastikan penyebab terbunuhnya gadis itu. Kami akan terus melaporkan perkembangannya, sementara kami akan berusaha masuk ke lokasi yang saat ini sudah ditutup oleh polisi,” kata Gilda Anwar dalam siarannya.


Gerry terus menatap siaran itu dengan saksama. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Alma memang benar-benar tewas. Ini bukan candaan!


***