
Ammar segera bertindak ketika mengetahui Mariah dalam keadaan terikat di kursi. Ia berusaha tenang, walaupun melihat kondisi Mariah yang sepertinya sangat terpukul. Ia tidak ingin bertanya-tanya terlebih dahulu, tetapi hal terpenting yang harus dilakukan sekarang adalah menyelamatkan istrinya. Ia segera melepaskan ikatan yang membelenggu tubuh Mariah dengan cepat.
"Ammar, maafkan aku," desis Mariah.
Ammar hanya menggeleng, mencegah istrinya untuk berpikir macam-macam. Mariah masih menangis terisak. Wanita itu merasa bersalah karena tidak mematuhi perintah Ammar. Sebelumnya, Ammar meminta Mariah untuk tetap di kamar dan tidak kemana-mana. Namun, ia malah keluar mengikuti Nadine yang sengaja menjebaknya.
Mariah langsung memeluk Ammar sambil menangis ketika tangan dan kakinya terbebas dari ikatan. Ammar berusaha menenangkan dengan mengusap rambut dan punggungnya. Sesaat kemudian, Mariah teringat akan sosok pria yang terbaring di lantai bawah kakinya.
"Jeremy," bisik Mariah.
Ammar langsung melepaskan pelukan itu, segera memeriksa kondisi Jeremy yang terbaring di lantai bilik. Kondisinya tak bergerak, dengan punggung yang mengucurkan darah karena tertusuk benda tajam. Ammar memegang denyut nadi yang ada di leher Jeremy. Sesaat kemudian, paras Ammar berubah lesu, seraya menggeleng lemah.
"Di-dia masih hidup kan?" tanya Mariah dengan suara lemah.
Ammar hanya menghela napas, seraya menggeleng lemah, kemudian berkata,"Maafkan aku Mariah."
Sontak Mariah tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. Ia kembali menangis sesenggukan. Ia merasa berhutang budi pada Jeremy yang telah melepas plester pada mulutnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pria itu sudah tewas. Rupanya ia tidak mampu bertahan, karena terlalu banyak kehilangan darah.
"Kita harus segera pergi dari tempat ini, Mariah," bisik Ammar.
Tapi Jeremy .... "
"Dia sudah meninggal, Mariah. Kita akan cari bantuan di atas agar tim evakuasi segera membawa Jeremy keluar dari sini. Yang penting kita harus segera keluar dari sini. Ini adalah tempat berbahaya ini," ujar Ammar.
"Aku tahu pelakunya," gumam Mariah.
"Ya, kami juga tahu. Semua sudah ditangani Dimas. Lebih baik kita pergi ke atas, karena kamu membutuhkan pertolongan segera. Ayo kita pergi dari sini!"
Mariah mengangguk. Ia hanya bisa menuruti perintah Ammar. Mariah hendak melangkah, tetapi tiba-tiba ia jatuh terduduk. Kakinya terasa lunglai dan tak ada kekuatan untuk melangkah. Karena kakinya lama terikat, maka sulit digunakan untuk bergerak. Ia menggelengkan kepala dengan putus asa, karena tidak bisa melangkah.
Ammar segera memaklumi dengan kondisi sang istri. Ia duduk berjongkok, mengisyaratkan agar Mariah naik ke punggungnya. Mau tidak mau, ia harus menggendong Mariah, tak mungkin ia memaksakan Mariah untuk berjalan di kondisi lorong yang gelap seperti ini.
"Aku akan berjanji satu hal, Ammar," bisik Mariah kemudian.
"Apa itu?"
"Aku akan tutup kastil ini selamanya dan aku akan jual. Aku tidak mau lagi berada di sini. Tidak akan sudi menginjakkan lagi di tempat ini," bisik Mariah.
Ammar hanya mengangguk. Kastil ini memang menyimpan banyak rahasia mengerikan. Tentunya, keputusan Mariah untuk menjual kastil ini bukanlah hal yang berlebihan.
***
Ruang baca masih diliputi asap yang menyesakkan dada, walau tidak setebal sebelumnya. Perlahan asap mulai menipis, sehingga dalam keremangan para wanita bisa melihat rekan mereka. Para wanita yang tersisa saling berpegangan tangan dengan paras cemas. Mereka sama sekali tak menyangka bahwa sahabat yang mereka kira penakut dan ramah itu ternyata adalah seorang psikopat yang berbahaya.
"Dia mengejar Nadine entah kemana," jawab Lily.
"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Maya lagi.
"Aku akan nyalakan lilinnya lagi!"
Rosita segera bertindak. Ia meraba-raba mencari korek yang berada di atas meja, kemudian menyalakan lilin, setelah sebelumnya ia membuat penghalang dari kertas agar nyala lilin tidak mati tertiup angin. Kini, ruang baca itu sedikit lebih terang karena cahaya lilin yang berpendar. Kini mereka dapat melihat ekspresi masing-masing. Mereka masih sangat terpukul dengan kejadian yang barusan terjadi.
"Apa yang terjadi? Mengapa ruang ini penuh asap?"
Tiba-tiba mereka mendengar suara Reno yang baru saja masuk ke ruang baca, ditemani Edwin yang membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh. Reno sama sekali tak menyangka ada kejadian saat ia tinggal di dapur. Para wanita itu merasa lega melihat kedatangan Reno dan Edwin. Mereka menghambur mendekati Reno, kemudian Rosita meminta teman-temannya untuk tenang dan tidak panik. Secara jelas, Rosita menceritakan hal yang baru saja terjadi di ruang baca. Reno dan Edwin mendengarkan penjelasan Rosita dengan antusias.
"Sekarang Pak Dimas mengejar Nadine entah kemana. Mereka berdua seolah menghilang begitu saja," ucap Rosita.
"Aku tahu. Pasti mereka ke ruang bawah tanah lewat jalan rahasia. Edwin, kamu jaga para wanita ini, aku akan segera menyusul Dimas ke ruang bawah tanah!" perintah Reno.
Edwin mengangguk. Reno segera menuju jalan rahasia yang menghubungkan dengan lorong bawah tanah. Ia harus segera memberi bantuan kepada Dimas yang sedang melakukan pengejaran terhadap Nadine.
***
Dimas bersikap waspada menyusur lorong yang gelap di hadapannya, sambil menyorotkan senter yang ia bawa. Seperti biasa, lorong selalu terlihat gelap dan lembap. Selain itu suasana sangat senyap. Begitu cepat Nadine menghilang, karena ia memang sudah menguasai celah-celah dalam lorong itu. Dimas bersikap sehati-hati mungkin, karena hal buruk bisa terjadi kapan saja. Ia tidak mau berbuat ceroboh sedikit pun, karena akan fatal akibatnya.
Ia terus bergerak ke depan, walaupun ia tidak tahu kemana Nadine kabur. Dimas selalu merasa benci apabila diharuskan turun ke dalam ruang bawah tanah ini. Ruangan ini selalu diliputi banyak kengerian, karena terlalu banyak pembunuhan yang terjadi di sini. Bukan hanya di masa lalu, tetapi tiap kasus yang terjadi di kastil, selalu memakan korban nyawa yang tak sedikit.
Sementara di lorong lain di ruang bawah tanah yang sama, Nadine merasa sudah aman. Ia bergerak cepat meninggalkan Dimas menyusur lorong yang berliku. Ia tidak perlu lagi menggunakan alat penerangan karena ia sudah hafal setiap belokan dan lekuk lorong. Tujuannya adalah bilik tempat Mariah disekap, karena ia menyimpan pistol yang berhasil ia ambil dari Jeremy di bilik tersebut.
Tak perlu waktu lama, ia sudah sampai di bilik tempat Mariah disekap. Namun, ia sangat terkejut, karena ia mendapati pintu bilik itu telah dibuka secara paksa. Yang lebih membuatnya geram lagi, ia mendapati Mariah yang sudah tidak berada di tempat. Sedangkan Jeremy masih tergeletak di lantai tak bergerak.
"Aaaargh!"
Nadine terpekik kesal. Padahal rencana utamanya adalah membunuh Mariah, tetapi rencana itu gagal karena Mariah sudah tak berada di tempat. Ia masih bingung, siapa yang membebaskan Mariah? Segera ia mengambil pistol yang ia simpan di sebuah celah di balik dinding, kemudian memeriksa peluru di dalamnya.
"Silakan cari aku Dimas keparat! Peluru tinggal tiga butir ini akan segera menembus kepalamu, dan aku akan jadi pemenang dalam permainan ini. Skak Mat! Kalian semua akan mampus. Tak akan kubiarkan seorang pun dari kalian akan lolos dariku. Tidak akan! Kamu akan bangga padaku, suci. Aku akan balaskan semua sakit hatimu. Aku akan habisi mereka semua. Kamu akan bangga, Suci!"
Nadine mulai meracau. Dalam hatinya masih berkobar rasa dendam membara yang ingin segera ia lampiaskan untuk membalaskan dendamnya pada Suci. Setelah persiapan dengan pistol beres, ia segera mengenakan sarung tangan, melangkah keluar dari bilik. Ia berniat memburu Dimas dengan pistol yang dibawanya.
Ia melangkah keluar dari bilik, tetapi baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ia merasakan sebuah benda tajam menempel di lehernya, seraya ia bisa merasakan suara napas seseorang yang begitu dekat di telinganya.
"Ikuti aku dan jangan banyak bicara!"
***