
Ruang makan berubah senyap. Helen menghidangkan menu makan pagi, nyaris tanpa sapa ataupun senyum. Semua penghuni kastil sudah siap menghadapi piring masing-masing, tanpa sepatah kata pun. Namun sebelum mereka menyantap hidangan, tiba-tiba Michael mengangkat tangannya.
“Tunggu!”
Semua penghuni menoleh, menatap Michael dengan penuh tanda tanya. Mereka urung untuk memulai sarapan, menunggu Michael yang terlihat cemas.
“Apakah kalian melihat kejanggalan pagi ini? Apakah kalian melihat keberadaan Ammar dan Cornellio?” tanya Michael sambil menatap penghuni kastil satu-persatu.
Hans menggeleng, demikian juga Aldo. Para wanita terlihat cemas. Tak biasanya kedua orang ini datang terlambat ke meja makan.
“Ada yang melihatnya sejak semalam?” tanya Michael lagi.
“Aku melihatnya!” celetuk Helen yang sedang menuang minum ke gelas-gelas kristal.
“Siapa yang kau lihat, Helen?” tanya Michael.
“Aku lihat Cornellio keluar dari ruang bawah tanah di tengah malam. Entah apa yang dicari di dalam sana, tapi kulihat wajahnya tampak cemas. Sepertinya ia bingung, dan ada yang ia sembunyikan,” tutur Helen.
“Ruang bawah tanah? Untuk apa dia ke dalam sana? Ruang itu penuh dengan kengerian dan aura negatif. Kusarankan agar ruang itu ditutup permanen saja. Aku tak pernah nyaman berada di sana, karena aku merasakan aura kekejaman yang amat sangat!” sambung Adrianna.
“Perlukah dia kita cari di sana?” tanya Hans.
“Aku tidak akan ikut! Perisiwa dalam ruang baca itu cukup membuatku trauma. Aku tak mau lagi pergi ke tempat yang aku tak tahu dengan baik. Lebih baik aku tidak ikut campur masalah ini,” ujar Maira.
“Aku merasakan hal buruk telah terjadi. Tadi pagi aku berjalan di halaman depan, melewati taman, dan aku menemukan sesuatu yang menurutku aneh. Aku tidak tahu apakah ini ada hubungan dengan menghilangnya Ammar dan Cornellio, tapi ini adalah penemuan yang tak lazim,” ucap Tiara takut-takut.
“Apa yang kamu temukan, Tiara?” tanya Aldo Riyanda.
“Sebuah tas wanita. Kurasa kita kedatangan tamu tadi malam, dan dia juga menghilang. Tas itu tergeletak begitu saja di taman depan,” lanjut Tiara.
“Astaga! Tas milik siapa itu? Apa kamu menemukan identitas atau petunjuk dalam tas itu?” tanya Michael.
“Ya, aku menemukan identitas pemilik tas itu. Sebuah kartu nama atas nama Mariah Alray. Aku khawatir dia berkunjung ke kastil tadi malam, tapi sesuatu yang buruk terjadi padanya,” terang Tiara.
“Hmm. Bisa jadi. Atau mungkin Mariah pergi ke kastil ini untuk menjemput suaminya?” tebak Michael.
“Lalu mengapa dia menjatuhkan tas itu di taman depan? Bagaimana pula nasib Cornellio?” tanya Aldo Riyanda.
Semuanya terdiam, tak ada yang berani menjawab. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya. Kengerian kembali menyusup di benak para penghuni kastil yang lain. Bahkan Elina Agustin, si gadis fotografer itu tampak tegang sekali.
“Kurasa kita harus menghabiskan sarapan kita dulu, baru kita bicarakan ini lagi. Karena Ammar tak ada ditempat, mungkin keadan kasti akan sangat berbahaya tanpa dia. Masing-masing dari kita bisa saja terancam keselamatannya. Menurut pendapatku, mulai nanti malam jangan ada yang keluar kamar. Sangat berbahaya jika kalian sendirian. Kematian bisa datang kapan saja!” ujar Michael.
“Kamu sudah bisa menebak pembunuhan selanjutnya, Michael? Bukankah kronologis pembunuhan di kastil ini bersumber dari novelmu?” cecar Maira.
“Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak peduli darimana si pembunuh itu mengambil inspirasi untuk melakukan pembunuhan. Pembunuh itu jauh lebih pintar dari yang kita kira. Sekarang dia memakai sistem acak untuk membunuh korbannya. Polanya sedikit berubah. Dia mempunyai kendali atas semua yang dilakukannya,” jawab Michael.
“Oke,oke. Stop semua argumen kalian! Perutku lapar dan aku sangat ingin makan. Bisa kita mulai?” celetuk Hans.
***
Tangan dr.Dwi gemetar memegang alat suntik berisi cairan anastesi. Ia ragu, antara iya dan tidak untuk menusukkan jarum ke tubuh wanita paruh baya di depannya. Sosok berjubah hitam yang biasanya menunggui, pergi entah kemana, ia tak peduli. Ia diberi batas waktu dua hari untuk melakukan operasi pada mata Anjani, wanita paruh baya itu. Batinnya bergemuruh, karena semua yang ia lakukan bertentangan dengan hati nurani.
“Sutikkan jarum itu! Kau takut?” bentak Anjani.
“Maaf. Aku-aku ... tidak bisa!” jawab dr. Dwi gugup.
“Tidak bisa? Pikirmu aku akan merasakan sakit? Dengarkan aku dokter, aku sudah lupa dengan rasa sakit semenjak Anggara Laksono mengurung dan menyiksaku di ruang bawah tanah ini! Kau tak perlu khawatir. Jarum suntik kecil itu sungguh tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan sundutan rokok ini!”
Anjani tiba-tiba menyingkap kain yang menutupi perutnya. Dokter Dwi bergidik. Ia meliha banyak bekas luka yang mulai menghitam di area perut wanita paruh baya itu. Rupanya sundutan rokok itu bukan isapan jempol belaka.
“Bahkan aku masih mengingat dengan jelas jumlah sundutan itu. Ada dua puluh dua sundutan, yang dilakukan dengan beringas dan tanpa perasaan. Rasanya sakit sekali, Dokter! Sungguh. Bahkan aku memohon untuk mati kala itu,” ucap Anjani terbata-bata.
Dokter Dwi hanya terdiam, tak dapat berkata apa-apa. Ia melihat kesedihan mendalam dalam paras wanita itu. Rasa sakit yang dirasakan inilah yang memicu sang anak untuk menuntut balas pada Anggara, bahkan kepada tiap orang yang tidak berdosa. Sayangnya, perbuatan menuntut balas itu juga tak dapat dibenarkan.
“Apakah kamu benar-benar ingin bisa melihat kembali?” tanya dr.Dwi.
“Ya, aku ingin bisa melihat kembali. Aku ingin bisa melihat wajah anakku yang telah terbuang puluhan tahun!” ucap Anjani.
“Kurasa itu agak sulit dilaksanakan. Sudah kukatakan sebelumnya aku bukan dokter ahli mata, tetapi anakmu memaksa. Aku tidak menjamin apakah operasi ini bisa berjalan lancar atau tidak. Tapi aku akan berusaha yang terbaik!” ujar dr.Dwi.
Ia mulai memakai sarung tangan, dan menyiapkan segala alat medis yang diperlukan. Sejenak kemudian, ia menghela napas, sambil menggeleng.
“Alat medis ini sungguh tidak memadai....”
Tiba-tiba pintu bilik terbuka. Sosok berjubah hitam telah kembali sambil membawa seorang wanita muda dalam keadan terikat tangannya. Ia hempaskan tubuh wanita itu di lantai begitu saja.
“Kamu mengenalnya, Dokter?” tanya sosok berjubah hitam itu.
“Mariah Alray? Astaga! Bukankah dia sedang ada di kota? Bagaimana mungkin kamu menangkap dia?” tanya dr. Dwi. Ia urung melakukan tidakan medis pada Anjani.
“Itu akibat kebodohannya sendiri, karena kembali ke tempat ini. Kalau aku jadi dia, akan kutinggalkan kastil ini jauh-jauh. Tapi dia datang untuk menyerahkan diri. Lihatlah, ibu! Ini adalah wajah keponakanmu yang cantik. Aku tidak tahu, apakah dia harus mati seperti yang lain? Atau kita siksa dia seperti ayah menyiksa ibu?” tanya sosok berjubah hitam itu.
Anjani memalingkan muka ke arah Mariah. Sayangnya ia tidak bisa melihat, ia hanya bisa merasakan kehadiran seorang wanita di dalam bilik itu.
“Aku merasakannya ... sungguh ... aku bisa merasakan setiap hembusan napas dan degup jantungnya. Kurasa ia sangat takut untuk saat ini. Aku punya ide yang lebih menarik, anakku!” ucap Anjani dengan suara parau.
“Katakan saja, Ibu!”
“Aku menginginkan mata indahnya itu, untuk menggantikan mataku!”
***