Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
138. Letusan


Fani masih berdiri dalam kebingungannya. Bagaimana mungkin dalam mobil itu tidak ada siapa-siapa? Ia segera berbalik badan, menyorotkan senter ke sekeliling. Di sekitar tempat itu banyak ditumbuhi pohon dan semak-semak. Ada beberapa rumah penduduk, tetapi agak jauh. Yang terlihat hanya petak-petak tanah kosong di pinggir jalan.


Fani meningkatkan kewaspadaan. Ia menatap berkeliling. Suasana masih senyap. Fani curiga dengan rimbunan semak yang banyak tumbuh di sekitar tempat itu. Ia menyorotkan senter di sana, tetapi tak ada pergerakan yang mencurigakan. Ia melangkah mendekati petak tanah kosong yang gelap. Rasa penasaran mengelitiknya untuk mengetahui siapa sebenarnya pengemudi mobil yang tiba-tiba menghilang.


Dari dalam mobil polisi, Gerry melihat apa yang dilakukan Fani dengan perasaan cemas. Ia khawatir polisi wanita itu dalam bahaya. Ia ingin turun untuk membantu, tetapi ia teringat pesan Fani bahwa dia harus tetap berada di dalam mobil. Ia hanya bisa melihat gerak-gerik Fani dari dalam mobil.


Kekhawatiran Gerry ternyata benar-benar terjadi. Saat Fani berjalan menyusuri tanah lapang, Gerry melihat sesosok hitam bergerak mendekati Fani. Sosok itu tiba-tiba saja muncul dari balik pepohonan. Ia ingin berteriak memperingatkan Fani, tetapi entah kenapa lidahnya terasa kelu. Ia berusaha mengumpulkan segenap keberanian. Ia tak bisa membiarkan polisi wanita itu terancam keselamatannya.


Segera ia buka pintu mobil, kemudian berteriak.


“Bu Polisi, awas di belakangmu!” pekik Gerry.


Mendengar teriakan Gerry, Fani segera membalikkan badan. Ia terkejut melihat sosok yang tiba-tiba berada tak jauh di belakangnya. Sosok itu memakai pakaian hitam, tak jelas penampakan mukanya karena gelap. Pada awalnya Fani tak begitu menganggap bahwa kehadiran sosok ini adalah ancaman.


“Mau apa kamu?” tanya Fani.


Sosok itu hanya terdiam tak menjawab. Ia berdiri mematung, tanpa bergerak. Fani kini bersikap lebih waspada. Ia mengambil pistol yang ia simpan di ikat pinggang, kemudian mengacungkan pistol ke arah sosok yang hanya terdiam itu.


“Angkat tangan!” perintah Fani.


Sayangnya, tetap saja ancaman Fani tak mendapat respon apa pun. Fani juga tak bisa asal menembak. Ia menunggu respon dari si sosok hitam.


“Jangan macam-macam! Aku bisa saja menembakmu!” ancam Fani.


Suasana hening. Kedua orang itu masih berhadap-hadapan, saling menunggu. Tiba-tiba, Fani dikagetkan dengan suara ponselnya yang berdering.


“Shit!” umpatnya.


Konsentrasinya terpecah dengan suara ponsel yang meraung. Ia ingin meraih ponsel yang ada dalam saku celana. Hal itu berakibat fatal. Sosok itu bergerak cepat dan tiba-tiba. Ia merangsak maju ke depan, menerjang Fani yang terpecah konsentrasinya. Gerakan itu sama sekali tak terduga, Fani tidak siap dengan pistolnya. Kedua orang itu bergulingan di tanah. Sementara suara ponsel masih meraung.


Gerry memucat. Ia tak bisa berbuat apapun, selain berdiri dan berharap agar polisi wanita itu baik-baik saja. Sayangnya, Fani benar-benar dalam kesulitan sekarang. Apalagi saat sosok itu berhasil merebut pistol dari tangannya. Ia tak berkutik, terbaring di rerumputan. Sosok itu menyeringai, kemudian mengarahkan pistol ke kepala Fani.


“Kamu jangan gila! Kamu nggak akan berani melakukan itu!” ucap Fani dengan suara bergetar.


“Kamu jangan mengujiku! Pikirmu aku takut karena kamu seorang polisi?”


“Kamu tidak akan berani!” gertak Fani.


Doorr!


Pistol itu meletus, membungkam Fani untuk selamanya!


***


Dimas menikmati masa libur kali ini dengan menonton film di layar besar dalam rumahnya. Ia penyuka film bergenre misteri, sehingga menginspirasi untuk memecahkan beberapa kasus. Ia sangat menikmati tiap adegan, dengan sebungkus pop-corn di tangan dan sekaleng cola di meja. Namun, keasyikannya terganggu saat ia mendapat panggilan dari Reno.


Biasanya Reno tak pernah mengganggu saat liburan, kecuali untuk hal-hal yang penting. Mau tidak mau, ia angkat ponselnya.


“Ada kasus apa lagi ini, Ren?” tanya Dimas.


“Maaf mengganggu waktu bersantaimu, Dim. Tapi kurasa aku membutuhkan bantuanmu. Beberapa jam lalu, aku melakukan interview dengan beberapa mahasiswa yang terlibat langsung dengan kasus pembunuhan Jenny. Sayangnya, satu di antara mereka, yaitu Gerry, diancam akan dibunuh, jadi aku meminta Fani untuk mengawal,” tutur Reno.


“Nah! Kan sudah ada Fani. Tentu semua beres kalau ada Fani!” kata Dimas.


“Ah, palingan dia mampir cafe dan sengaja nggak mau angkat ponselnya!”


“Nggak biasanya Fani begitu, Dim!”


“Terus rencanamu gimana?”


“Maksudku, mari kita menyusul ke kediaman Gerry untuk memastikan mereka baik-baik saja.”


“Mengapa nggak telepon Gerry saja?”


“Sudah. Tetapi sama saja. Telepon Gerry malah tidak aktif. Sumpah, kalau terjadi apa-apa sama mereka, ini adalah salahku. Aku yang meminta Fani untuk mengawal Gerry!”


“Jangan terlalu begitu juga. Aku yakin mereka baik-baik saja kok. Aku sedang nonton nih! Masa sih kamu tega mengganggu waktu liburanku?”


“Ini urusannya nyawa manusia, Dim. Kita harus memastikan keselamatan mereka. Firasatku tidak enak.”


“Hmm. Oke ... oke. Aku akan menemanimu ke tempat Gerry. Tunggu 30 menit lagi aku siap!”


Walaupun sebenarnya merasa enggan, akhirnya Dimas mematikan televisi. Ia mengenakan jaket kulit berwarna hitam, bersiap meluncur ke kantor polisi untuk menemani Reno. Baru saja ia mau berangkat, suara telepon genggamnya kembali meraung. Dilihatnya nama Gilda sedang melakukan panggilan. Ia mendesah. Tak ada waktu untuk menjawab panggilan itu.


Ia abaikan panggilan Gilda, kemudian bergegas menuju garasi untuk mengambil mobil. Namun, ia terkejut ketika melihat di luar pagar Gilda sudah ada di sana. Kali ini ia tidak bersama Wandi. Ia sendirian dengan paras cemas. Mau tak mau, ia urungkan niatnya untuk mengambil mobil.


“Gilda? Ngapain kamu di sini?” tanya Dimas.


“Mobilku mogok tak jauh dari sini. Bantuin aku ya, Dim!”


“Bantuin gimana?”


“Carikan orang yang bisa perbaiki mobil kek atau bengkel gitu. Aku bingung banget nih!” ucap Gilda.


“Aduuh! Nggak bisa Gilda! Aku ada urusan penting. Mending mobilmu besok aja ditangani mekanik. Sekarang kamu pulang dan tidur saja!” kata Dimas.


“Hah? Gimana caranya aku pulang kalau mobilku rusak!”


“Aku akan panggilkan taksi buat kamu. Maaf Gilda! Aku terburu-buru. Sebaiknya kamu nggak usah ganggu aku dulu!”


“Tunggu ... tunggu! Kamu terburu-buru di malam-malam begini? Sepertinya ada kasus atau ada sesuatu yang menarik nih?”


“Maaf, Gilda! Jangan memaksaku untuk berbicara. Ini bukan urusanmu. Ini urusan polisi!”


Gilda semakin penasaran dengan ucapan Dimas. Hasratnya untuk memburu berita semakin menguat. Dimas membuka pintu pagar, bersiap untuk meluncur dengan mobilnya, tanpa mempedulikan Gilda. Wanita muda itu terlihat gusar. Ia menghadang mobil Dimas, kemudian membuka pintu depan mobil.


“Aku akan ikut kamu, Dimas!” ucap Gilda.


“Apa kamu gila? Aku sedang bertugas, Gilda! Aku nggak akan membiarkanmu ikut denganku. Apa kata Reno nanti? Reputasimu sudah hancur di mata Reno!” kata Dimas.


“Aku nggak peduli, Dimas! Aku akan ikut denganmu!” paksa Gilda.


Dimas mendengkus kesal. Tak dapat dibayangkan apa kata Reno nanti apabila dia tahu bahwa ia semobil dengan Gilda. Dimas masih bimbang, haruskah ia membawa Gilda bersamanya?


***