Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
202. Jeratan Kabel


Malam bergelimang cahaya, dengan pancaran-pancaran lampu yang beraneka-warna. Kota itu terasa berdenyut, dengan aktivitas warganya yang beragam. Suara dentuman musik dari diskotik-diskotik yang tersebar di penjuru kota, berpadu dengan suara denting-denting gelas kristal yang berisi cairan bening memabukkan. Waga kota larut dalam euforia kegembiraan, melepas penat setelah sepanjang hari beraktivitas.


Jarum jam merapat sudah merapat ke angka sebelas malam, namun kehidupan seolah baru dimulai. Jalan raya masih banyak mobil berlalu-lalang. Demikian juga aktivitas di sebuah gudang berlantai lima belas di pusat kota. Beberapa orang sedang sibuk menyiapkan peralatan untuk syuting. Kamera dan cahaya sedang disiapkan sementara para artis sedang dirias di ruang rias.


“Setelah ini scene-nya di rooftop. Suruh semua artis yang terlibat untuk bersiap!”


Daniel Prawira, seorang sutradara kenamaan, malam itu menggunakan jas kelabu dan topi baret warna senada. Dari mulutnya mengepul asap rokok yang tak henti ia hisap sejak sore tadi.


“Baik!”


Riky, si asisten sutradara tergopoh menuju ruang rias. Ia melongok ke dalam, melihat tiga artis wanita dan dua artis pria sedang duduk menghadap meja rias, menunggu giliran dirias.


“Setelah ini kita take, segera ya!” perintah Riky.


Pria muda itu tampak berkeringat dingin, karena ia sudah mulai sibuk sejak pagi tadi. Sebagai seorang asisten sutradara, banyak yang harus dilakukan. Tak boleh sedikit pun jadwal bergeser, karena rencana film yang sedang diproses ini harus tayang di akhir tahun.


“Sebentar, Rik! Ini tinggal poles dikit aja kok!” jawab seorang wanita muda berkacamata.


Wanita itu tengah menyaput bedak ke pipi salah seorang artis di sana dengan serius. Sementara si artis wanita yang cantik hanya memejamkan matanya.


“Kesal banget deh kalau diburu-buru gini. Katanya jadwal syuting besok, eh ... malah diburu-buru malam ini harus kelar. Kayaknya Pak Daniel itu suka mengubah jadwal seenaknya!” keluh Widya, wanita berkacamata yang bertugas sebagai make-up artist.


“Yah, namanya pelaksana ya harus nurut dong, Wid. Apalagi kalau kayak aku ini kan sudah tanda tangan kontrak, jadi mau nggak mau ya harus diikutin prosedurnya. Tapi aku sungguh seneng loh ikut main di film Pak Daniel ini. Dia kan sutradara terkenal, jadi aku oke aja waktu ditawarin gabung. Biasanya aku kan hanya syuting sinetron. Ini adalah film pertamaku!”


Artis cantik berambut kemerahan itu tersenyum senang. Matanya berbinar memandang bayangan wajahnya di cermin rias. Ia terlihat berbeda setelah mendapat polesan dari Widya. Biasanya di sinetron yang ia bintangi, ia hanya disuruh merias wajah ala kadarnya. Namun, di proses pembuatan film ini, semua dikerjakan secara profesional.


“Mbak Laura memang cocok kok memerankan peran utama di film ini. Sudah cantik, nggak sombong lagi. Makanya banyak penggemar suka!” puji Widya.


“Terima kasih ya, Wid!”


Laura Carmellita, memang sebelumnya dikenal sebagai artis sinetron striping di televisi yang mempunyai rating cukup tinggi. Namun, karena kualitas aktingnya yang bagus, ia langsung dipinang oleh Daniel Prawira. Tak tanggung-tanggung, langsung sebagai pemeran utama.


Di meja rias yang lain, tampak artis muda yang tampan. Wajahnya yang mirip bule, tampak serius memelototi layat ponselnya. Ia mulai bosan duduk di kursi itu.


“Cepetan Wid! Aku udah capek nungguin dari tadi!” keluhnya.


Faishal Hadibrata, seorang aktor film yang cukup terkenal karena aktingnya yang mencuri perhatian banyak kaum hawa di negeri itu, Beberapa film yang dibintangi sudah sukses di pasaran. Hal itu membuat namanya cukup melambung, sehingga ia banyak menjadi incaran media dan sutradara film lain untuk membintangi film garapannya.


“Habis ini Mas Faishal kok! Kalau cowok kan sebentar aja riasnya!” jawab Widya.


“Nah, karena sebentar itu makanya harus diduluin, bukan menggarap yang lama duluan. Lagian dia kan artis sinetron biasa, harusnya aku dulu dong yang dirias. Kurasa Pak Daniel salah pilih artis deh kali ini!”


Ucapan Faishal Hadibrata itu terdengar panas di kuping Laura. Namun, ia sadar bahwa ia memang artis baru yang bergabung di proyek film Daniel Prawira. Ia hanya terdiam mendengar ejekan dari seorang artis kelas atas macam Faishal Hadibrata.


Kini giliran Faishal Hadibrata yang memerlukan sedikit sapuan bedak di wajah, agar tak terlihat kusam. Di meja rias lain, ada beberapa artis lain yang menunggu.


Renita Martin, seorang artis berambut panjang yang biasanya berperan di film bergenre horror, juga turut andil dalam film garapan Pak Daniel kali ini. Ia didapuk menjadi seorang tokoh antagonis, karena Pak Daniel menilai ia cocok mendapat peran itu. Padahal selama ini, ia selalu berperan sebagai pemeran utama. Ia agak kecewa dengan keputusan Pak Daniel.


Di sebelahnya lagi, Hendry Tobing, aktor senior yang berusia mendekati empat puluhan. Di usia yang matang itu, pria ini terlihat gagah dan berwibawa, tak kalah dengan aktor-aktor pria lain yang usianya jauh di bawahnya. Ia terlihat pendiam, dan tak terlalu terpengaruh dengan keadaan sekitarnya. Malam itu, hanya dia yang ditemani oleh manajer dan istrinya.


Ollan, manajer Hendry Tobing, seorang pria kurus berumur dua puluh tahunan, terlihat sedikit kemayu, dengan rambut dicat warna merah mencolok mata. Ia asyik membuka media-media sosial dari ponselnya.


“Denger-denger setelah syuting malam ini Pak Daniel akan mengajak minum kopi Cafe Victory ya!”


Anita Wijaya, seorang artis wanita lain tiba-tiba bersuara. Usianya masih belasan tahun, tetapi ia berdandan bak tante-tante. Ia terlihat lebih dewasa dari usia aslinya. Ia tampak asyik menyisir rambutnya yang indah di depan cermin.


“Tapi nggak boleh ngomong-ngomong dulu loh! Sebab nggak semua diajak. Jadi undangannya terbatas. Palingan yang diundang hanya Mbak Laura, Mas Riky, Mas Faishal, Bang Hendry beserta istri, dan manajer, Mbak Renita, serta Mbak Anita,” terang Widya.


“Loh, si Guntur nggak diajak Wid?” tanya Renita.


“Mas Guntur ada ya? Kok aku nggak lihat ya hari ini?” jawab Widya.


“Ada kok, tadi aku sempat lihat dia. Dia kan bagian script-writer, masa nggak diajak juga? Kan dia bagian penting juga di proses pembuatan film ini!” kata Renita.


“Wah, nggak tau juga sih, Mbak. Tadi Pak Daniel nggak ada sebut namanya. Mungkin kelupaan atau gimana ya?” ucap Widya.


Tak lama proses rias-merias itu selesai. Sesuai jadwal, mereka akan melakukan pengambilan gambar di lantai atap gedung, karena itu adalah adegan romantis saat Laura Carmellita sedang makan malam bersama tokoh yang diperankan Faishal Hadibrata.


Proses syuting berjalan agak lambat, karena Faishal sedang dalam keadaan tidak bersemangat malam itu. Ia dimarah-marahi oleh Pak Daniel, sehingga proses syuting perlu diulang.


“Tolong dong fokus! Fokus! Mimiknya itu loh! Anggaplah kamu sangat mencintai tokoh Rinjani ini. Cintai dia sepenuh hati. Hadirkan dia dalam jiwamu. Ini mimik kok lempeng aja! Kamu kan udah jago. Mestinya nggak perlu di arahkan seperti ini!”


Pak Daniel mengomel. Faishal hanya terdiam mendengar omelan di depan para kru dan artis lain, walau sebenarnya ia sangat sakit hati.


Proses syuting itu memakan waktu kurang lebih dua jam baru selesai. Jam sudah merapat pukul dua dini hari. Semua artis dan kru sudah merasa lelah, sehingga sebagian sudah pulang duluan. Mereka merapikan sisa-sisa syuting dan berkemas.


“Kamu pulang sama siapa, Laura?” tanya Hendry Tobing yang mengetahui Laura sedang berkemas.


“Eh, Bang Hen. Aku ... aku pulang sendirian kok, Bang!” ucap Laura sambil tersenyum.


“Nanti kapan-kapan minum kopi sama aku ya!” ucap Hendry sambil melirik ke arah istrinya yang tengah sibuk sendiri.


Pria itu berharap istrinya tak tahu apa yang dilakukannya. Laura hanya tersenyum, tidak berani mengiyakan. Bagaimanapun, ia harus bersikap profesional.


Tiba-tiba, Riky tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang studio yang masih ada beberapa artis dan kru itu.


“Gawat ... gawat!” ucapnya dengan napas terengah.


“Kenapa, Rik?” tanya Faishal.


“Pak Daniel ... “


“Kenapa dengan Pak Daniel?”


“Dia ... dia meninggal. Seseorang menjerat lehernya dengan kabel di dekat kamar mandi. Tadi aku curiga mau ke toilet, tetapi kok tertutup. Setelah kubuka ... ternyata .... “


Semua terperanjat. Yang tersisa di gedung studio itu hanya Laura, Faishal, Hendry beserta istri dan manajernya, Widya, Renita, Anita, dan Guntur, si penulis cerita yang ternyata tengah sibuk dalam ruangannya.


***