Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
154. Gaun Merah


Nayya perlahan membuka mata. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya. Jam dinding menunjukkan hampir pukul dua dini hari. Suasana senyap dan sepi. Ia melihat sekeliling, mencari keberadaan Gerry. Sayangnya, ia tak mendapati pria muda itu. Kecemasan merayap segera. Ia bangkit, kemudian berjalan ke arah kamar mandi.


“Ger ... kamu di kamar mandi?” tanya Nayya sambil mengetuk pintu kamar mandi pelan-pelan.


Tak ada sahutan dari kamar mandi. Nayya makin cemas. Ia berjalan ke arah balkon, membuka pintu, dan membiarkan angin dingin bertiup mempermainkan rambutnya. Ia mendekapkan kedua tangan sembari melihat suasana kota yang lengang. Ia merasa khawatir dengan keadaan Gerry, karena ia tak berhasil menemukannya.


“Dia telah mati!”


Tiba-tiba ia mendengar suara parau di belakangnya. Nayya membalikkan badan, mendapati sosok si pembunuh di belakangnya. Parasnya tampak dingin, sedingin angin malam yang menggigit kulit.


“Mana dia?” tanya Nayya penuh selidik.


Nayya mentap sosok itu penuh rasa curiga, sembari mundur beberapa langkah ke belakang.


“Seperti yang kubilang tadi, dia sudah mati!” ucap sosok itu tegas.


“Tidak! Kamu pasti bohong! Gerry tidak boleh mati!” ujar Nayya dengan suara bergetar.


Beberapa hari disekap bersama Gerry, menumbuhkan rasa solidaritas dan peduli di hati Nayya. Mereka telah berjuang bersama untuk bisa meloloskan diri dari cengkeraman makhluk setan itu. Tentu, ia tidak menginginkan terjadi apa-apa dengan Gerry.


“Terserah kamu percaya aku atau tidak, Nay. Pada kenyataannya, Gerry telah mati, terbakar bersama mobil sewaanku ke dalam jurang. Satu tugasku telah terlampaui, dan aku merasa lega!”


Perasaan Nayya campur aduk. Ia tidak ingin mempercayai perkataan sosok itu. Ia ingin menghantam sosok tersebut, tetapi ia sadar bahwa ia merasa lemah. Tulangnya seolah dilucuti. Ucapan si sosok tentang kematian Gerry membuat semangat yang berkobar di dadanya seolah padam. Ia tak punya daya upaya lagi. Mendadak ia juga ingin mati detik itu.


“Kamu biadab .... “


Nayya bergumam perlahan, tetapi hanya dibalas seringai.


“Kamu nggak perlu emosional seperti itu, Nay. Toh, Gerry bukan siapa-siapa buatmu. Dia pantas kok mendapatkannya. Kamu tidak pernah tahu betapa banyak kesalahan yang pernah ia lakukan. Kini ia mendapat balasan yang setimpal. Jadi kamu nggak perlu meratapi kematiannya!”


“Kamulah yang akan mendapat balasan setimpal! Kamu akan membusuk di neraka, dan kamu akan mati dalam keadaan menderita!” kutuk Nayya.


“Kamu boleh berkata semaumu, Nayya. Itu tidak mengubah apapun. Gerry tetap mati dan mungkin jasadnya tak akan pernah ditemukan. Sedangkan kamu, mungkin juga akan mati walau tidak dalam waktu dekat. Mungkin kita akan jarang bertemu setelah ini. Polisi akan mengisolasi semua orang yang terlibat dalam pembunuhan Jenny, termasuk aku. Kamu tahu, aku sudah merencanakan kejutan buat mereka. Para polisi bodoh itu berpikir, bahwa isolasi akan memudahkan untuk menangkapku. Mereka salah. Tidak semudah itu!”


Nayya tak memberi tanggapan apa-apa. Ia tak peduli. Dalam pikirannya sekarang, ia masih mengkhawatirkan keadaan Gerry. Ia berharap apa yang dikatakan sosok itu hanya suatu kebohongan untuk menakuti-nakutinya. Ia sama sekali tidak menginginkan terjadi apa-apa dengan Gerry.


“Oya, aku punya sesuatu untukmu!” ucap sosok itu tiba-tiba.


Ia masuk ke dalam, tak lama kemudian ia keluar sambil membawa sebuah gaun berwarna merah menyala.


“Kamu tahu gaun ini milik siapa?” tanya sosok itu.


Nayya menggeleng, karena ia memang tidak pernah melihat gaun berwarna merah menyala itu sebelumnya. Gaun itu terlihat sedikit sensual, tanpa lengan dengan potongan bagian dada yang rendah.


“Ini adalah gaun yang dipakai Jenny saat aku membunuhnya. Sengaja dia kubiarkan setengah telanjang di kamar mandi. Ia terlihat cantik dengan gaun ini. Mungkin jika kamu yang memakai gaun ini juga terlihat cantik.”


Sosok itu menyodorkan gaun kepada Nayya, tetapi gadis itu segera menolak.


“Aku tidak akan pakai gaun itu!”


“Ayolah. Aku ingin kamu terlihat cantik sebelum mati. Atau kamu mau aku yang pakai gaun itu?” ucap sosok itu sambil menyeringai.


“Hmm. Baiklah, tak apa kalau tak mau memakai gaun ini. Aku masih mencium aroma parfum murahan yang dipakai Jenny menempel di gaun ini. Sayangnya, itu membuat kebencianku padanya memuncak. Aku tak pernah menyesal telah membunuhnya,” ucap sosok itu sambil menghirup gaun yang dipegangnya.


“Aku mau tidur ....”


Nayya menghela napas, tak mempedulikan sosok yang masih berdiri di depannya. Ia berjalan masuk ke dalam apartemen. Ada rasa sedih yang menggumpal di dadanya. Bayangan Gerry masih berputar-putar di kepalanya. Dalam keheningan, tanpa sepengetahuan sosok itu, Nayya meneteskan air mata.


***


Pagi hadir menyapa kota. Kabut tipis menyelimuti pelosok-pelosok, mengiring segala aktivitas warga. Ini adalah hari yang tak pernah diharapkan oleh beberapa orang yang terlibat dalam pembunuhan Jenny. Hari ini, mereka harus menghadiri undangan, atau tepatnya surat panggilan dari kepolisian untuk memulai isolasi.


Di dalam sebuah kamar dengan nuansa hijau muda, Lena mengemas beberapa bajunya dengan malas. Ia sadar, isolasi akan membelenggu dirinya dari kesenangan, dan tentu saja kegiatan perkuliahan akan dihentikan sementara.


Pintu kamar terbuka, seorang pria paruh baya dengan pipa rokok menyumpal mulutnya, menatap keresahan yang dirasakan Lena.


“Jadi kamu akan memenuhi panggilan polisi itu?” tanya pria paruh baya itu.


“Iya Ayah. Sebenarnya aku malas sekali, tetapi ini suatu keharusan. Maafkan aku ya Ayah, beberapa hari ini aku membuat Ayah merasa repot dan tidak nyaman dengan keadaan ini.”


Pria itu tak berkata sepatah kata pun. Ia hanya larut dalam pikirannya sendiri.


“Apakah Ayah berpikir bahwa aku yang melakukan serangkaian pembunuhan itu? Apakah Ayah pikir aku tega melakukan itu kepada orang lain?” tanya Lena.


Pria itu menggeleng lemah seraya berkata,” Tidak, Nak. Bukan itu yang kupikirkan. Aku hanya merasa gagal. Mendiang ibumu pernah berpesan kepada Ayah untuk menjagamu dengan baik. Kurasa aku gagal melakukannya.”


“Ayah telah menjagaku dengan baik. Tak perlu berkata seperti itu!”


Pria itu mengangguk, kemudian keluar kamar sambil menutup pintu. Tiba-tiba Lena merasa sedih harus meninggalkan ayahnya sendirian. Kadang ia harus membuatkan kopi untuk ayahnya. Ia berpikir, apabila nanti ia diisolasi, maka ayahnya akan memenuhi semua kebutuhannya sendiri.


Semenjak ibunya meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya, ayahnya jadi lebih pendiam, walau kadang ia juga mudah naik darah. Lena memahami perubahan sang ayah yang tidak stabil. Pasti beliau merasa sangat terpukul dengan kematian ibunya.


Tak ada waktu untuk membongkar memori-memori lama. Lena harus sudah berada di kantor polisi sebelum siang. Rasty berjanji akan menjemputnya, daripada harus naik taksi. Setelah semua barang-barangnya dikemas rapi, ia tinggal menunggu kedatangan Rasty.


“Sampai berapa lama?” tanya sang ayah.


“Belum tahu Ayah. Semoga tidak terlalu lama, sampai pembunuh yang sebenarnya ditemukan,” ucap Lena.


“Semoga pembunuhnya segera ditemukan,” bisik ayah Lena.


Gadis itu mengangguk. Ia sendiri belum punya bayangan apapun bagaimana proses isolasi itu nantinya. Tak lama berselang, suara klakson mobil Rasty sudah terdengar di depan rumah. Buru-buru Lena mengangkat tas ransel, sembari mencium tangan ayahnya.


“Lena berangkat ya Yah!” pamit Lena.


“Jaga diri, Nak!”


Pria paruh baya itu berpesan. Ia menatap kepergian putri sematawayangnya dengan tatapan sedih, dari balik korden di ruang tamu.


***