Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
357. Evakuasi Lewat Tingkap


Waktu makan siang hampir mendekat, tetapi tak ada kegiatan memasak apa pun di dapur. Padahal Mariah sudah memberikan amanah kepada Lily dan Maya untuk mengurus makan siang. Namun, kedua wanita itu malah tidak kelihatan hingga siang menjelang. Hal itu menimbulkan kegelisahan di benak Jeremy. Ia harus segera mengambil tindakan.


"Biar aku saja memasak. Walau aku seorang pria, tetapi aku jago juga dalam memasak!" gumam Jeremy.


Ia segera melangkah menuju dapur, mengenakan celemek, dan memeriksa isi kulkas. Di sana ada sejumlah sayuran, daging ayam, dan telur. Pikirannya langsung membayangkan, masakan apa kira-kira yang pantas dibuat dengan bahan seperti ini. Jeremy sebenarnya mempunyai bakat untuk memasak, walaupun bukan masakan yang aneh-aneh, setidaknya ia piawai dengan makanan rumahan. Ia sering menggantikan tugas Stella dalam hal masak-memasak.


Ia segera bertindak, mengeluarkan sayuran itu dari lemari pendingin, kemudian memotong-motongnya menjadi bagian kecil. Jeremy mengerjakan hal itu dengan riang, seolah berusaha melupakan kesedihannya karena sampai saat ini Stella belum juga ditemukan. Keberadaan Stella masih menjadi misteri. Jeremy juga merasa bingung, apakah istrinya itu berada di hutan sana atau di ruang bawah tanah. Ia hanya bisa berharap agar Stella masih bisa ditemukan dalam keadaan hidup.


"Jeremy?"


Terdengar suara menyapa tiba-tiba dari ruangan dalam. Jeremy menengok sekilas, sembari memasukkan potongan sayuran ke dalam panci berisi air mendidih. Ia tidak terlalu fokus dengan sosok wanita yang baru datang ke dapur.


"Oh, iya maaf. Bukankah hari ini aku diberi tugas memasak oleh Mariah? Aku kelupaan dan tertidur di kamar. Ini sudah hampir jam makan siang. Maafkan aku Jer! Sini kubantu!"


Yang baru datang adalah Maya. Ia tampak canggung melihat Jeremy yang serius memasak, karena sebenarnya untuk tugas makan siang ini menjadi tanggung jawabnya.


"Tak perlu, May! Kamu bisa duduk saja di meja makan dan menunggu. Lagipula ini hampir selesai. Maaf ya aku ambil alih tugasmu, karena aku khawatir kita nggak jadi makan siang gara-gara tak ada makanan. Nggak usah khawatir, semua beres kok. Mungkin masakanku nggak seenak masakanmu, tetapi tidak terlalu buruk juga. Aman May! Kamu boleh nunggu aja di sana!" perintah Jeremy.


"Wah, aku jadi tidak enak ini. Padahal ini kan harusnya aku yang mengerjakan. Di mana pula Lily? Kok dia juga nggak muncul?" tanya Maya.


Sebenarnya ia sedikit malu, karena tugas masaknya digantikan oleh Jeremy.


"Aku nggak tahu mereka pada kemana. Sudahlah, yang penting kan semua hidangan beres saat makan siang. Kalian nggak perlu khawatir!" ucap Jeremy sambil terus sibuk memasak.


Maya hanya tersenyum kecil. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Segera ia meninggalkan dapur menuju ruang makan. Rupanya di sana juga terlihat masih sepi. Makan siang akan dimulai beberapa menit lagi, tetapi rupanya para penghuni belum juga berkumpul di ruang makan. Maya ingin duduk menunggu di sana, tetapi ia urungkan niatnya karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Ia berniat kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua.


"Sst ... Maya! Maya!"


Tiba-tiba ia mendengar suara yang begitu halus memanggilnya. Maya memalingkan muka ke sekitar, untuk mencari siapa yang memanggilnya. Suara itu seperti ia kenal, tetapi ia tak dapat melihat penampakannya. Lalu mengapa suara itu memanggil namanya?


Ia urung naik ke atas tangga, tetapi ia melangkah menuju sebuah selasar sempit yang menghubungkan dengan ruang koleksi barang antik. Ruang ini agak tesembunyi, biasa digunakan oleh Anggara untuk menyimpan banyak koleksi seperti guci, lukisan, topeng, dan patung. Sayangnya ruangan ini jarang dikunjungi, karena aura mistis langsung terasa ketika masuk ke dalamnya. Suara memanggil itu terdengar dari ruangan ini.


"Aku di sini Maya. Di belakang patung Zeus!"


Maya segera mengarahkan pandangan ke sebuah patung besar berwarna putih di salah satu sudut ruangan, yaitu patung Dewa Zeus. Selain Zeus, ada tiga patung dewa Yunani kuno yang lain, berdiri di situ. Saking besarnya patung-patung itu, maka tak ada yang tahu kalau ada orang yang besembunyi di belakangnya. Maya tak mau membuang waktu. Ia segera mendekati sumber suara, untuk menemui suara pemanggilnya.


***


Sepulang dari perkebunan teh, Rosita langsung kehilangan semangat karena Edwin belum juga ditemukan. Ia langsung masuk kamar tanpa bicara apa-apa. Reno hanya bisa memberikan harapan dan meyakinkan Rosita bahwa Edwin akan baik-baik saja. Wanita itu tak terlalu terpengaruh, ia masuk kamar dan segera menguncinya.


Sesampai di ruang bawah tanah, Juned agak sulit mencari bilik tempat jasad Aditya disimpan, karena mereka masuk melalui tingkap, padahal jarak ke bilik Aditya lebih dekat andai mereka lewat ruang baca. Sengaja Reno menyuruh masuk ruang bawah tanah melalui tingkap untuk menghindari kepanikan di dalam kastil. Proses evakuasi akan dilakukan lewat tingkap. Juned perlu mengingat-ingat setiap lorong dalam tanah yang ia lalui. beberapa kali ia salah jalan, karena semua terlihat sama. Yang ia ingat, bilik tempat menyimpan jasad Aditya berukuran agak luas, di deret nomor tujuh dari persimpangan.


Perjuangan membuahkan hasil, setelah berkali-kali salah, ia akhirnya menemukan jalan menuju bilik Aditya dari arah tingkap dapur. Tanpa membuang banyak waktu, para petugas langsung memindahkan jenazah ke dalam kantung. Mereka dengan sigap melakukan itu, kemudian bersiap untuk kembali ke atas.


Sementara di dalam kastil, Reno segera menemui Ammar yang saat itu berada di ruang baca. Ammar tengah mencari referensi sekitar bangunan kastil, karena rasa penasarannya yang mendalam terkait denah kastil yang tiba-tiba menghilang. Reno segera mendekati Ammar yang sedang memilih-milih buku di sebuah rak. Reno menceritakan kronologis kejadian yang dialami Rosita di kebun teh.


"Apakah menurutmu Rosita berbohong?" tanya Ammar sambil mengembalikan sebuah buku tebal ke dalam rak.


"Aku belum mengindikasikan bahwa ia berbohong atau tidak. Semua bisa saja merasa sedih, semua bisa saja cemas. Semua pelaku kasus yang kita pecahkan adalah pemain drama yang sempurna. Mereka semua berpura-pura menjadi korban, padahal mereka adalah pelaku sebenarnya. Coba kita urutkan mulai dari Tiara, siapa yang menduga gadis lugu dan terlihat tanpa dosa itu adalah pelaku pembunuhan berantai yang brutal, dan bahkan sanggup memenggal kepala seseorang tanpa perasaan?" ujar Reno.


Ammar hanya manggut-manggut mendengar penuturan Reno.


"Lalu berikutnya ada Ferdy yang berhasil menipu kita dengan wajahnya yang tampan dan sikapnya yang begitu baik pada para wanita, ternyata dia juga seorang pembunuh berantai? Lalu  Rianti, seorang ibu rumah tangga. si sosialita yang kelihatannya adalah korban perselingkuhan suaminya, ternyata mampu membunuh banyak orang? Dan sekarang menurutmu siapa? Rosita yang selalu berapi-api dan berkata pedas, atau si lugu Maya yang misterius, Lily yang baik hati, tetapi penuh teka-teki, atau Nadine yang sepertiya lugu atau Stella yang menghilang? Jelas sekali pelaku kali ini adalah wanita. Seorang wanita yang menyimpan dendam berkobar di dadanya, dan mengagumi Tiara secara berlebihan, sehingga mencontek cara membunuhnya pula?" lanjut Reno.


"Kita perlu mendengar pendapat Dimas mengenai ini. Kuharap ia bisa membawa fakta baru terkait kasus ini," ucap Ammar.


"Mungkin besok dia akan kembali. Kasus ini harus segera kita selesaikan sebelum jatuh korban lagi," kata Reno.


"Kalau begitu, mari kita bersikap waspada hari ini!"


***