
Sosok misterius itu memacu mobilnya hingga berkecepatan lebih dari 100 Km/Jam. Bagaimanapun, kecepatan mobil tentu lebih unggul bila dibandingkan sepeda motor. Kini mobil itu jauh berada di depan, menyusur jalan setapak yang terbuat dari tanah. Setelah dirasa aman, mobil itu berhenti di pinggir hutan yang mulai rapat.
Suara binatang hutan menjerit-jerit, berpadu dengan suara cuitan burung, selebihnya sunyi senyap. Sosok itu keluar dari dalam mobil, segera berlari mencari tempat aman di dalam hutan. Sementara, sepeda motor pengejar sudah berhasil mengejar mobil. Dua pria bertampang sangar menghentikan sepeda motor, kemudian turun untuk melihat mobil yang diparkir di pinggir hutan.
“Lihat! Itu mobilnya!” kata pria sangar yang pertama.
Pria itu bernama Badi, kakak kandung Tari yang juga merupakan pentolan dari Raymond Brothers. Kematian Tari baginya adalah suatu tamparan dan juga penghinaan bagi grup yang cukup disegani di Kampung Hitam. Kali ini Badi ditemani oleh seorang rekannya, Arland untuk mengejar sosok yang sudah diketahui jejaknya.
Jaringan Raymond Brothers tersebar di penjuru kota, sehingga mereka dengan mudah melacak jejak si sosok misterius. Kali ini, Badi dan Arland tak ingin kehilangan jejak. Mereka memeriksa sekitar mobil, untuk mencari tahu jejak si sosok misterius.
“Kemana perginya dia?” tanya Arland sambil melayangkan pandangan ke seluruh pelosok penjuru hutan.
“Aku yakin dia belum jauh dari tempat ini. Cepat kita berpencar utuk mencari dia!” jawab Badi.
“Kalau menurutku, kamu tunggu saja di sini, Badi. Aku akan masuk hutan untuk mencari dia. Kamu tunggu sekitar mobil ini, siapa tahu dia akan kembali ke mobil. Aku akan tangkap dia untukmu!”
Arland menyiapkan senjata api sebelum masuk ke dalam hutan. Badi segera menyetujui usul Arland. Ia akan menunggu di sekitar mobil untuk berjaga, siapa tahu sosok itu akan kembali.
“Kalau kau mendengar tembakan sekali, maka aku dalam bahaya dan kau harus segera mencari pertolongan. Tapi kupastikan dia akan mati. Kita akan eksekusi dia dengan tangan kita sendiri. Percuma saja kita mengandalkan polisi bodoh untuk menangkapnya. Kita akan tangani sendiri!” ujar Arland.
“Iya, Ar! Aku nggak sabar untuk menghukum si brengsek itu dengan tanganku sendiri, sebagaimana dia membunuh Tari. Dia harus merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh adikku. Tak kubiarkan dia lolos begitu saja!” ucap Badi.
Arland segera bergegas masuk ke dalam hutan yang ditumbuhi pepohonan yang tinggi. Jarak antar pohon sangat rapat, sedangkan lantai hutan banyak ditumbuhi semak belukar dan banyak pula daun-daun kering yang berserakan. Di beberapa tempat yang tidak terkena cahaya matahari, lantai hutan terasa lembap.
Arland berjalan waspada, memeriksa segala kemungkinan, sebab bisa saja sosok itu tiba-tiba muncul dan menyerang dari belakang. Ia berjalan sambil mengawasi ke segala arah. Suara binatang hutan masih memekik-mekik di kejauhan. Ia semakin masuk ke dalam hutan, dengan masih bersikap waspada.
Tiba-tiba ia mendengar suara gemerisik di sebuah semak-semak yang tumbuh rimbun tak jauh di depannya. Daun-daun di sekitar semak itu bergerak-gerak, seolah ada yang bersembunyi di baliknya. Arland mengangkat senjatanya, mengarahkan ke arah semak.
“Keluarlah kau, keparat! Kamu sudah terkepung dan nggak ada jalan keluar!” perintah Arland.
Sayangnya, perintah itu seolah diabaikan begitu saja. Semak itu masih bergoyang-goyang. Arland melangkah pelan mendekati semak sambil terus mengacungkan senjata. Ia penasaran dengan apa yang ada di balik semak itu. Ia menahan napas, ketika melihat seekor babi hutan besar keluar dari dalam semak menghadang dirinya dengan tatapan mengancam!
***
Reno dan Dimas dipersilakan masuk oleh seorang pria paruh baya bernama Pak Paiman. Mereka berbincang mengenai kondisi rumah tua yang hendak digunakan untuk tempat isolasi sementara bagi para tersangka yang kemungkinan ada kaitannya dengan pembunuhan Jenny dan Alma.
Sementara, sambil berbincang, Bu Mariyati, istri Pak Paiman menyiapkan dua cangkir teh panas untuk menemani.
“Kalau untuk urusan kepolisian, kami serahkan saja semua kepada Bapak-bapak bagaimana baiknya. Malah saya senang karena rumah ini akhirnya tidak terbengkalai. Saya nanti akan bantu bersih-bersih dan menyiapkan segala kebutuhan yang mungkin dibutuhkan oleh para penghuninya,” ujar Pak Paiman.
“Terima kasih, Pak. Jangan khawatir kami tetap akan membayar uang sewa dari rumah ini. Kami juga akan memberi upah Pak Paiman dan istri. Mungkin kami akan menggunakan rumah ini sekitar satu bulan atau lebih, tergantung kebutuhan. Kami rasa tempat ini sangat strategis, karena agak jauh dari keramaian, sehingga kemungkinan untuk kabur kecil,” kata Reno.
“Maaf Pak, kalau boleh tahu untuk kasus apa para tersangka ini diisolasi di tempat ini?” tanya Pak Paiman.
Pak Paiman manggut-manggut. Ia buta masalah hukum, tentu tak ada alasan untuk menolak permintaan polisi yang hendak mengungkap kasus tersebut.
Reno juga membeberkan teknis dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh Pak Paiman dan istrinya. Bu Mariyati mendapat tugas untuk mengurus masalah makanan dan laundry dari para penghuni yang akan menempati rumah tua.
Setelah mereka berbincang masalah teknis, Pak Paiman mengantar kedua polisi itu melihat-lihat kondisi rumah yang cukup luas. Memang, di dalam rumah itu cukup kotor dan berantakan, tetapi perabotan di dalamnya masih berfungsi dengan baik. Bahkan air dan listrik juga masih normal.
Mereka memasuki ruang tamu yang cukup luas, lengkap dengan sofa dan lukisan-lukisan masa lampau yang terlihat berdebu. Kemudian mereka juga melihat ruang santai yang dilapisi karpet, serta ruang makan dengan dekorasi yang terlihat kuno. Lampu gantung terlihat mewah, namun sayangnya tak berfungsi normal.
“Saya akan mengganti bola lampunya, Pak. Nanti saya akan bersihkan semua ruangan dan akan kami hubungi Bapak apabila semua sudah selesai,” ucap Pak Paiman.
“Iya, Pak. Bersihkan saja rumah ini dan sampaikan semua terkait pembiayaan karena pihak kepolisian yang akan membayar.”
“Iya Pak. Di rumah ini ada sepuluh kamar tidur. Lima di lantai atas dan lima di lantai bawah. Ada lima dua kamar mandi di lantai atas dan dua lagi di lantai bawah. Semua masih berfungsi normal. Hanya kadang lampu mati sendiri, kemudian menyala lagi tiba-tiba. Mungkin ada masalah dengan sambungan kabelnya. Atau mungkin ulah ....”
Pak Paiman menghentikan kalimatnya. Ia merasa ragu-ragu untuk berbicara.
“Ulah siapa, Pak?” tanya Dimas penasaran.
“Eh, nggak, Pak. Lupakan saja. Maaf. Ulah tikus mungkin,” ucap Pak Paiman dengan gugup.
Dimas mengernyitkan kening. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres, yang disembunyikan oleh Pak Paiman. Ia melihat berkeliling, memang suasana rumah ini sunyi dan sedikit menyeramkan. Maklum, rumah ini lama tak dihuni, jadi tak mengherankan kalau mungkin ada saja hal-hal yang aneh terjadi.
“Mari Pak, saya antar untuk melihat dapur,” ucap Pak Paiman.
Kedua polisi itu mengikuti langkah Pak Paiman untuk melihat ruangan dapur di lantai bawah. Sebuah dapur yang cukup luas, yang letaknya berhadapan dengan ruang makan, serta dilengkapi dengan kaca besar yang mengarah keluar rumah, sehingga pencahayaan cukup bagus.
“Ini jelas rumah yang dirancang oleh arsitek yang sangat pintar,” gumam Reno.
“Ya, tentu saja. Kurasa rumah tua ini memang sangat layak untuk tempat isolasi.” Dimas menanggapi.
“Kalau ada penghuni yang kabur, maka aku akan tetapkan langsung dia sebagai tersangka. Semudah itu. Kalau mereka tak bersalah, tentu mereka akan nyaman di tempat ini. Sebaliknya, si tersangka sebenarnya akan merasa gelisah dan ....”
Blaaam!
Belum selesai kalimat Reno, tiba-tiba mereka mendengar suara pintu dibanting dari arah dalam rumah, sehingga mereka terkejut.
“Ada orang lain yang tinggal di rumah ini, Pak?” tanya Reno pada Pak Paiman.
Pria itu menggeleng cepat. Entah kenapa, Dimas merasakan bulu kuduknya meremang tiba-tiba.
***