
Selepas mengabaikan Niken, Renita melajukan mobil ke arah kota. Ia ingin menurangi penat pikirannya dengan mencicipi makanan kesukaannya. ya, ia terkadang melepas stres dengan cara makan, Ia percaya, bahwa makanan adalah obat stres terbaik. tak heran kadang ia punya sedikit masalah dengan berat badan. Padahal sebagai seorang publik figure, ia dituntuk tampil menarik di hadapan orang banyak. Namun, kali ini ia tak peduli. Ia memutuskan untuk makan enak hari ini.
Mobilnya melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sementara mobil Niken membuntuti di belakangnya. Mobil Renita berbelok ke halaman parkir sebuah resto kecil yang menyediakan aneka dessert. Renita memarkir mobil, sedangkan Niken hanya mengawasi dari seberang jalan. Resto itu adalah tempat publik, jadi Niken tak berpikir kalau ada tindak kejahatan di dalamnya.
Renita memesan segelas strawberry smoothie dan sepotong kue Red Velvet favoritnya. Ia penyuka rasa manis, dan rasa red velvet adalah salah satu favoritnya. Resto ini adalah langganan Renita sejak lama. Ia suka menghabiskan waktu berlama-lama di resto ini bersama teman atau sendirian.
Ia menikmati pesanannya dengan gembira. sembari melihat suasana jalan raya dari jendela kaca. Sekilas ia melihat mobil Niken di seberang, tetapi ia hanya tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. ia malas berurusan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan polisi. Ia mengabaikan Niken yang membuntutinya.
Karena merasa bosan sendirian, ia membuka ponsel dan menghubungi seseorang.
"Temani aku ya di resto biasanya, ada hal penting yang ingin kubicarakan kepadamu. Penting!" ucapnya pada seseorang yang ia hubungi di telepon.
Diam-diam, ia berpikir juga tentang ancaman pembunuhan yang diterima polisi itu. Namun, ia tak habis pikir, bagaimana bisa ada seseorang yang menginginkan kematiannya. Bukankah ia bukan seseorang yang seperti Daniel Prawira yang memiliki banyak harta? Atau seperti Anita Wijaya yang tengah naik daun? Bahkan Renita merasa akhir-akhir ini popularitasnya menurun karena kehadiran artis-artis baru dalam dunia hiburan.
Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil lain masuk ke dalam areal parkir resto itu. Niken tetap mengawasi dari seberang jalan dengan waspada. Dari dalam mobil yang baru masuk, keluar seorang wanita muda yang cantik berkacamata hitam.
"Laura Carmellita?" gumam Niken.
Ya, yang baru datang itu adalah Laura Carmellita, aktris sinetron yang sekarang mulai merambah ke dunia perfilman. Langkahnya begitu anggun, masuk ke dalam resto, menemui Renita yang tengah menunggunya. Renita tersenyum menyambut kehadiran Laura. Ia segera mempersilakan wanita muda itu duduk.
"Terima kasih mau datang ke sini," ucap Renita.
"Aku sedang tak ada jadwal syuting, jadi aku bisa kesini. Bukankah seharusnya kamu sedang ada syuting? Mengapa ada di tempat ini?" tanya Laura.
Renita menggeleng, kemudian tersenyum.
"Entahlah. Dunia hiburan ini makin lama makin buat aku bosan, karena bener-bener menyita tenaga dan waktuku. Selain itu, aku nyaris kehilangan privasi. Setiap apa yang kulakukan selalu dilihat oleh publik, kadang aku ingin jadi manusia biasa saja," keluh Renita.
"Kamu mengundangku kemari hanya untuk mendengar itu?" tanya Laura.
"Oh, maaf. Bukan itu sebenarnya yang hendak kubicarakan denganmu. Ada hal lain lagi," ucap Renita.
"Jadi apa?"
"Ini tentang hubunganmu dengan Henry Tobing. Semua orang sudah mencium keterlibatanmu dalam keretakan rumah tangga Henry dan Rianti. Jadi kupikir, hal ini bukan masalah rahasia lagi. Aku juga sudah mulai muak berkawan dengan Rianti. Dia itu sok suci melarang suaminya selingkuh padahal dia sendiri pernah melakukan perbuatan memalukan di masa lalu. Sok sempurna banget dia," kata Renita.
"Tunggu, bukannya kamu akrab sama Rianti? Mengapa kamu katakan ini kepadaku?" tanya Rianti.
"Tidak ... tidak jangan salah sangka, Laura. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa Rianti itu sebenarnya nggak seperti yang kamu kira. Kamu kira dia benar-benar mencintai Henry? Kurasa tidak. Aku merasa dia itu wanita nggak baik. Ada sesuatu yang diinginkan dari Henry, entah itu apa," ucap Renita.
"Aku bingung sama kamu ya, Ren. Kamu terlihat dekat banget dengan Rianti, terus tiba-tiba kamu mendekati aku dan menjelek-jelekkan keburukan Rianti. Jadi apa maksud semua ini? Aku bingung," kata Laura.
"Aku ingin kamu nggak usah pedulikan Rianti. Kalau kamu memang suka Henry, pertahankan! Karena Rianti juga punya masa lalu kelam, ia tak baik untuk Henry!" ucap Renita.
"Masalah aku suka atau tidak dengan Henry sebenarnya bukan urusanmu, Renita. Maaf, aku masih bingung dengan caramu ini. Ya, mungkin apa yang dilakukan Rianti memang wajar karena secara sah, Henry adalah suaminya. Wajar dong kalau dia mempertahankan hubungan rumah tangganya. Yang salah sepertinya aku di sini. Jadi kurasa ya wajar saja," ucap Laura.
"Kamu nggak mengerti Laura. Kamu nggak kenal Rianti! Aku tahu keburukan-keburukan dia!"
"Lalu apa urusannya denganku? Kamu kan nggak perlu cerita kepadaku?"
"Laura, kamu harus sadar bahwa Rianti itu licik. Kamu harus hati-hati dengan dia!"
"Aku merasa yang licik itu kamu, Renita. Kamu pura-pura baik di depan Rianti, dan kemudian menjelek-jelakkan dia di belakangnya. Entahlah. Aku nggak tau maksudmu melakukan itu, tetapi aku tetap tak sepakat denganmu. Semoga harimu menyenangkan, Ren!"
***
Di sebuah kamar hotel bintang empat, Melani terlihat gelisah karena menunggu seseorang. Ia mondar-mandir sambil sesekali melihat ke ponselnya. Sementara Faishal juga terlihat tak sabar. Ia duduk di sebuah kursi dengan perasaan gusar.
"Kamu yakin dia akan datang ke sini?" tanya Faishal.
"Aku sudah mengirimkan pesan kepadanya, tetapi belum direspon. Aku juga sudah mencoba menelepon tetapi tak juga diangkat. Mungkin dia lagi sibuk," ucap Melani.
"Aku nggak mau tahu caranya, yang jelas aku mau urusan ini beres hari ini! Aku juga sudah didesak-desak. Jengkel aku dibuatnya!" geram Faishal.
Melani hanya terdiam. Ia hanya menurut saja apa yang dikatakan Faishal karena posisinya memang tidak menguntungkan. Ia hanya ingin bersama pria itu dan tak peduli risiko apa yang akan ia dapat. Pikirannya kalut, karena hatinya telah dibutakan.
"Shal!" ucap Melani kemudian.
"Apa?" jawan Faishal dengan nada dingin.
"Kamu akan menepati janjimu kan?"
"Janji apa?"
Melani merasa kesal dengan jawaban Faishal. Ia kemudian mengambil tas, bergegas melangkah hendak keluar dari kamar hotel. Ia kesal Faishal pura-pura lupa dengan apa yang diucapkannya. Pikirannya berubah, ia ingin segera pergi dari kamar hotel.
"Kamu mau kemana?" tanya Faishal.
"Cukup Shal! Cukup! Aku nggak mau melakukan ini. Lebih baik kau temui saja Riky sendiri dan ambil apa yang jadi milikmu. Jangan suruh aku untuk melakukan ini, karena aku nggak bisa. Dari awal ini semua sudah salah, dan aku nggak mau terlibat lebih jauh!"
Faishal geram mendengar penuturan Melani. Ia segera beranjak dari tempat duduknya, dan menghalangi pintu. Ia tidak mengizinkan Melani keluar dari kamar hotel itu.
"Kamu nggak boleh pergi kemana-mana!" ucap Faishal.
Melani terkejut saat Faishal menghalangi langkahnya. Ia berusaha membuka pintu tetapi Faishal mendorongnya.
"Biarkan aku pergi! Kamu akan bohongi aku juga. Kamu pembohong!"
"Mel, kamu nggak percaya padaku? Ha? Aku akan menikahimu!"
"Aku berubah pikiran, Shal! Aku nggak mau menikah denganmu!"
Faishal makin marah mendengar itu. Baru sekali ini ia mendengar penolakan dari seorang wanita. Melani kembali menerobos Faishal untuk membuka pintu, tetapi lagi-lagi Faishal mendorongnya. Kali ini, dorongan Faishal lebih keras sehingga wanita muda itu tersungkur di lantai.
"Kamu ... kamu tega banget sama aku, Shal!"
"Jangan macam-macam, Mel! Aku bisa saja membunuhmu!" ancam Faishal.
Paras Melani semakin takut. Ia hendak berdiri, tetapi tiba-tiba ia mendengar suara pintu diketuk.
Tok ... tok ... tok!
***