Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
245. Potongan Jari


Setengah berlari Niken menuju garasi yang berada di samping rumah itu. Ada tiga mobil yang terparkir di garasi, dan semuanya mobil tergolong mewah. Niken merasa bingung. Suara itu jelas terdengar dari dalam garasi ini. Namun, ketika ia sampai di situ, tak ada siapa pun. Bahkan tak terlihat sesuatu yang mencurigakan. Niken tetap waspada dengan pistol yang ia acungkan ke arah mobil-mobil itu, khawatir ada seseorang yang bersembunyi di balik mobil, kemudian menyerang tiba-tiba. Ia menajamkan panca inderanya.


Sejenak, Niken penasaran dengan mobil yang diparkir berderet itu. Ia memulai memeriksa dari mobil paling kanan. Mobil itu berjenis sedan keluaran Eropa. Ia berusaha membuka pintu mobil itu, tetapi semua pintu terkunci. Artinya,di dalam mobil tidak ada yang disembunyikan.  Kemudian ia beralih ke mobil kedua yang tak kalah mewah dari mobil pertama, tetapi ternyata pintu mobil itu juga terkunci.


"Sial!" umpat Niken.


Kini giliran mobil ketiga. Mobil ini paling biasa saja dibandingkan dengan dua mobi lainnya. Selain itu, mobil ini paling mencurigakan, karena ia melihat tetes-tetes darah di dekat roda dan tampak bercak pula di bodi mobil. Sebelum membuka mobil, ia sengaja menghubungi Reno agar segera menyusulnya.


"Pak, bisakah kesini? Sepertinya sesuatu yang buruk terjadi di sini! Segera Pak!" ucap Niken.


Jantungnya berdegup kencang sebelum membuka mobil ketiga. Namun, ia harus membuka mobil itu apa pun risikonya. Ia buka pintu mobil itu, mendapati sosok perempuan muda yang bergelimang darah dalam keadaan tertelungkup di kursi belakang. Niken menahan napas. Dugaannya benar. Sesuatu yang buruk telah terjadi. Ia melihat ke bawah, rupanya banyak tetes-tetes darah yang berasal dari dalam rumah.


Ia makin khawatir, kemudian mengikuti tetesan darah itu sampai ke dalam rumah. Melihat dari bekas darah yang ada, Niken menduga bahwa korban tidak diangkat, tetapi diseret. Perasaan tegang semakin menyeruak. Bekas darah itu bahkan terlihat di tangga. Rupanya ada kejadian buruk  di lantai dua. Niken menaiki tangga dengan perasan tak menentu. Ia sampai di ruang kosong lantai dua. Rupanya makin banyak darah berceceran di sana. Suasana lengang dan sepi. seperti tak ada orang lain di tempat itu.


Niken tercekat. Ia baru saja memastikan bahwa yang sosok yang berada di dalam mobil itu adalah Renita Martin. Lalu kemana pula adiknya? Mengapa ia menghilang? Niken menjadi gusar dan khawatir kalau-kalau hal buruk juga menimpa Rani, adik Renita. Tiba-tiba ia melihat potongan-potongan tali di sekitar tempat itu. Niken mengambil sebuah tali, dan mengamati dengan teliti. Sepertinya ini adalah bekas ikatan.


Ia memeriksa sekitar lantai dua, kalau-kalau menemukan barang yang mencurigakan, tetapi ia tak menemukan apa pun. Rumah ini terkepung dnegan rumah-rumah lain yang  tak kalah megah. tak ada seorang pun peduli apabila terjadi apa-apa di rumah ini. Sungguh, ia menyesalkan dengan apa yang telah terjadi di tempat ini.


Sembari menunggu kedatangan Reno, Niken segera kembali ke garasi untuk mengamankan lokasi garasi. Ia kembali melihat sosok tak bergerak dalam mobil itu dengan sedih. Lagj-lagi, ia merasa gagal dalam melindungi seseorang. Peristiwa pertama, ia gagal melindungi Anita, kini peristiwa itu berulang. Padahal ia memperhatikan rumah Renita sejak sore, tetapi mengapa ia tak melihat seorang penyusup pun yang masuk ke situ? Ia merasa dipecundangi lagi.


"Maafkan aku Renita. Seharusnya aku lebih ketat melindungimu," gumam Niken.


Ia masih berdiri di samping mobil, mengamati keadaan sekitar, tanpa menyadari dengan sesosok manusia  yang bergerak di belakangnya dengan mengendap. Sosok hitam itu membawa sebuah pemukul seperti pemukul yang biasa digunakan dalam permainan kasti. Ketika jaraknya begitu dekat, sosok itu memukulkan tongkat itu ke kepala Niken.


Duuk!


***


Setelah mendengar berita dari Niken, Reno dan Dimas segera turun tangan, langsung menuju lokasi yang disebutkan Niken. Mereka melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menembus malam yang sepi. warga kota sudah terlelap dibuai malam yang sedikit gerah. Reno menyetir mobil dengan perasaan gusar, ingin segera sampai di lokasi.


"Semoga kita nggak terlambat," kata Reno.


"Semoga Niken dapat mengatasi masalah di sana!" sambung Dimas.


Mereka melaju menyusuri jalanan yang sudah sepi menuju kawasan perumahan elit yang lokasinya ternyata masih satu kompleks dengan rumah Gerry. Segera mereka menuju alamat yang dimaksud, yaitu kediaman Renita Martin, artis horror yang sedang naik daun.


Mereka tiba di depan rumah Renita yang memang terlihat sepi. Lampu di dalam rumah sebagian dimatikan, namun lampu taman dan teras dibiarkan menyala. Mereka juga melihat mobil Niken yang diparkir di seberang jalan. Dimas masih sempat menempelkan mukanya ke kaca mobil, mendapati bahwa mobil Niken kosong.


"Dia sudah ada di dalam," kata Dimas.


"Tetap waspada!" bisik Reno.


Dimas mengangguk. Mereka sampai di ruang tengah, tempat untuk bersantai dan menonton televisi. Di sana tak ada yang mencurigakan. Dimas melihat sebuah tangga yang menuju lantai dua.


"Kau naiklah! Aku akan berjaga di sini!" kata Reno.


Dimas segera naik ke tangga tersebut. Keadaan yang gelap, membuat mereka lebih waspada untuk mengoptimalkan panca indera. dimas sudah sampai di ruang kosong lantai dua, tetapi di sana tak ada siapa-siapa. Ia menyorotkan senter ke segala penjuru kalau-kalau ada yang mencurigakan. Dimas sedikit terhenyak melihat banyak genangan darah di lantai dua. Pikirannya langsung tidak enak. Ia bergegas turun untuk menemui Reno.


"Sesuatu yang buruk telah terjadi, Ren," lapor Dimas.


"Apa yang kau lihat, Dim?" tanya Reno penasaran.


"Ada banyak darah di atas sana, Ren. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Niken. Bukankah tadi dia yang mengabarkan kalau dia ada di rumah ini? Sekarang kita tidak bisa menemukan Niken. Mobilnya masih ad di depan," ucap Dimas dengan cemas.


"Mari kita periksa setiap ruang dalam rumah ini!" perintah Reno.


Mereka berpencar untuk mencari keberadaan Niken, dan tentu saja keberadaan Renita dan adiknya yang sampai saat ini masih belum bisa ditemukan. Dimas kembali naik ke lantai dua untu menyisir semua ruang yang ada di sana, sedangkan Reno menyisir segenap ruang di lantai satu.


Reno masuk ke dalam kamar Renita, tak ditemukan apa pun di sana kecuali alat-alat kosmetik yang berserakan di lantai. Segera ia keluar lagi menuju dapur. Air dari wastafel menetes-netes. Banyak percikan darah di sana-sini menambah kengerian suasana. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesuatu yang berdarah-darah diletakkan di atas meja begitu saja. Firasat Reno langsung tak enak. Ia mendekati meja untuk memastikan apa yang sebenarnya ada di atas meja.


Ketika ia melihat sesuatu yang di atas meja, spontan perut Reno terasa seperti diaduk. Ia menemukan tiga potongan jari tangan perempuan di atas meja, yakni telunjuk, ibu jari, dan kelingking. Di sebelah potongan jari-jari itu terdapat secarik kertas yang kemungkinan isinya adalah teka-teki baru.


"Kegilaan macam apa ini?" ucap Reno.


Pikirannya langsung tertuju kepada Niken. Ia berharap polisi wanita itu baik-baik saja. Sayangnya, semua ruang di lantai satu sudah ia periksa, tetap saja keberadaan Niken masih menjadi misteri. Dimas turun dari lantai dua, ia juga tak menemukan Niken di sana.


"Kemana Niken? Kita juga belum menemukan keberadaan Renita dan adiknya!" ucap Dimas dengan  gelisah.


"Perasanku tak enak, Dim. Aku menemukan hal yang teramat sadis di dapur. Nanti kau bisa melihatnya sendiri, tapi jangan sentuh apa pun yang terlihat di sana. Ada pula kertas teka-teki, tetapi aku belum berani menyentuh. Sekarang mari kita lanjutkan penyelidikan. Hanya ada satu ruang yang belum kita periksa!"


"Ruangan mana itu, Ren?"


"Garasi! Mari kita ke garasi!"


***