Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LVI. You Are End!


Detektif Reno Atmaja memarkir mobilnya di area parkir bawah tanah yang terletak di bawah bangunan apartemen megah itu. Diilihatnya Dimas yang sudah bersiap untuk turun. Hari ini mereka menjadwalkan untuk memeriksa ulang apartemen tempat penulis itu tewas.


“Kamu udah siap?” tanya Reno kepada Dimas.


“Lebih dari sekedar siap! Aku sudah nggak sabar menyelidiki apa yang tersembunyi dalam apartemen itu. Mungkin ada yang terlewat. Aku ingin membuktikan bahwa mereka nggak bisa memandang remeh atas karirku. Kasus ini akan kita bisa selesaikan dengan gemilang!” jawab Dimas.


“Oke. Kali ini aku percaya padamu! Aku terpaksa mengurungkan niat untuk menghubungi Ammar Marutami. Kita coba pecahkan kasus ini sendiri!”


“Siap Boss! Mari kita beraksi!”


Keduanya segera menuju ke lantai 9 dengan mengguakan lift, tempat penulis itu ditemukan terbunuh. Garis polisi masih terpasang di depan pintu ruangan. Mereka masuk dengan waspada. Suasana sepi dan senyap, sedikit berdebu karena tak ada penghuni lagi di tempat itu.


“Ada satu fakta tentang kamar apartemen ini,” ujar Dimas.


“Apa itu?” jawab Reno.


“Kamar apartemen ini sebenarnya bukan tempat tinggal permanen penulis itu. Maksudku, dia mempunyai sebuah tempat tinggal lain di pinggiran kota. Bahkan dia jarang berada di tempat ini. Satu hal lagi, dia kadang mengundang teman-temannya untuk berpesta di sini. Termasuk pria yang tewas di sini juga salah satu dari temannya,” ujar Dimas.


“Fakta menarik. Kita perlu juga mewancarai teman dekatnya tentang perilaku dan kehidupan sosial si penulis. Siapa tahu dia menyimpan suatu rahasia yang nggak kita tahu” jawab Reno.


Mereka memeriksa, membuka-buka lemari dan laci meja, mencari yang mungkin tersembunyi di tempat itu. Saat membuka lemari pakaian, Reno menemukan sesuatu yang menarik.


“Lihat! Apa yang kutemukan!” ujar Reno sambil menunjukkan sebuah majalah kepada Dimas.


“Majalah porno?”


“Ya, beberapa majalah porno terbitan luar negeri yang dijual ilegal di negara ini. Entah bagaimana cara mendapatkan semua ini, tapi ini menarik!,” jawab Reno sambil tersenyum penuh arti.


“Kamu akan membawa majalah itu dan menyimpan untukmu sendiri?” tanya Dimas dengan tertawa.


“Tentu tidak, Dimas! Jangan konyol! Apa menariknya majalah seperti ini? Ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang tak punya pasangan dan mengalami depresi dengan pasangan. Aku bukan penikmat hal seperti itu,” ucap Reno Atmaja.


Dari lantai sembilan apartemen, mereka bisa melihat pemandangan kota yang sibuk di bawah sana, terkepung banyak gedung yang menjulang. Reno berdiri di depan jendela, menatap bawah gedung apartemen.


“Kurasa apartemen ini mempunyai harga sewa yang cukup mahal. Pemandangan dari atas sungguh indah, terutama di malam hari. Aku heran, berapa gaji seorang penulis hingga mampu menyewa apartemen semewah ini?” tanya Reno.


“Mungkin dia mempunyai pekerjaan sampingan. Entahlah. Tapi penulis top akan mendapatkan penghasilan besar juga. Kamu pernah dengar nama JK Rowling? Dia adalah penulis paling kaya di dunia. Jadi wajar saja kalau penulis bergaji ratusan juta apabila buku yang diterbitkan laku keras,” timpal Dimas.


“Kamu pernah dengar nama penulis ini?”


“Aku pernah mendengar walau belum pernah membaca karyanya,” jawab Dimas singkat.


Tiba-tiba Dimas memungut sesuatu dari dalam kotak kardus yang disimpan di laci lemari pakaian. Letak kardus itu agak tersembunyi, sulit diketahui apabila tidak dibongkar satu-persatu.


“Lihat apa yang kutemukan!” kata Dimas sambil memperlihatkan sebuah foto agak usang. Warnanya sudah memudar, tetapi dapat terlihat dengan jelas.


“Ini foto penulis itu kan?” Reno mengamati foto itu dengan saksama.


“Iya. Kamu perhatikan yang berdiri di sampingnya. Wajah mereka mirip sekali, bukan? Apakah mereka kembar? Atau hanya sekedar orang yang mirip saja?” tebak Dimas.


“Astaga! Dua orang ini nyaris seperti pinang dibelah dua. Mereka kembar! Bahkan pakaian mereka juga hampir sama. Tak diragukan lagi! Pasti mereka kembar!”


“Maksudmu, penulis yang terbunuh ini mempunyai saudara kembar?” tanya Dimas.


“Iya. Dia mempunyai saudara kembar. Mari kita lacak saudara kembarnya. Siapa tahu dia mempunyai informasi tentang pembunuhan ini!” ujar Reno bersemangat.


“Sebab apa, Dimas?” tanya Reno penasaran.


“Aku menemukan foto lain!” ucap Dimas sambil mengambil sebuah foto lagi dari dalam kotak yang sama dengan foto pertama. Kali ini sebuah foto close-up dari penulis, tetapi dengan gambar wajah dicoret-coret, dan tertulis sebuah kata YOU ARE END!


***


Mobil SUV itu menyusuri jalan berliku di kawasan perkebunan teh. Antony menyetir dengan gelisah, sambil melihat kiri dan kanan. Yang terlihat hanya tanaman teh yang tumbuh rimbun. Perasaannya makin cemas, karena tak kunjung menemukan rumah, atau seseorang yang bisa dimintai bantuan.


“Apa tidak sebaiknya kita kembali ke kota?” saran Sonya yang duduk di sampingnya.


“Aku yakin di sekitar sini ada kehidupan. Aku pernah kesini beberapa tahun lalu bersama kakakku. Pasti ada kok. Aku melihat sebuah bangunan tua di pinggir jalan!” ucap Antony dengan yakin.


“Apa maksudmu bangunan itu?” tanya Sonya sambil menunjuk di kejauhan. Tampak menara kastil terlihat kecil, tertutup oleh pepohonan.


“Iya. Bangunan kastil itu! Mari kita kesana! Siapa tahu ada seseorang yang bisa menolong kita di sana!” ujar Antony bersemangat.


Antony segera tancap gas melarikan mobil menuju kastil tua itu. Sesampai di gerbangnya, mereka turun dengan perasaan gelisah, karena suasananya begitu sepi, seperti tiada berpenghuni.


“Kamu yakin kastil ini ada penghuninya? Mendadak perasaanku nggak enak. Lebih baik kita balik aja yuk!” ajak Sonya sambil memegangi lengan Antony.


“Belum juga masuk! Kalau kamu takut, tetap di mobil saja. Biar aku yang masuk ke sana!” ujar Antony.


“Nggak mau ah aku sendirian di mobil. Serem juga tau di dalam mobil. Mending aku ikut kamu saja,” ucap Sonya.


Krieeet!


Keduanya membuka gerbang yang tak dikunci, menuju area taman depan yang cukup luas. Sonya menyapukan pandangan berkeliling, takjub dengan bangunan kastil yang cukup megah, tetapi membawa nuansa angker. Tangannya mencengkeram erat lengan Antony.


“Sepertinya nggak ada orang, Ton!” bisik Sonya.


“Kita belum masuk loh ....”


Keduanya berdiri di depan pintu utama yang terbuat dari kayu, dengan besi berbentuk bundar sebagai alat pengetuk.


Duk ... duk ... duk!


Antony mengetuk pintu, sementara Sonya menunggu dengan gelisah. Dua kali ketukan, tetapi belum ada seorang pun yang membuka pintu. Sonya makin gelisah.


“Mungkin memang benar-benar kosong,” bisik Sonya sekali lagi.


“Kita coba yang ketiga, setelah itu kita kembali!” ucap Antony.


Ketukan ketiga, tetapi pintu masih belum terbuka. Antony tersenyum, dan menoleh ke arah Sonya yang tampak masih cemas.


“Kamu menang. Kita tinggalkan kastil ini. Kurasa memang tak ada penghuninya. Sangat disayangkan, padahal arsitekturnya begitu kokoh. Aku menduga ini adalah peninggalan zaman kuno. Tak ada sentuhan modern sama sekali. Aku jadi penasaran bagian dalamnya!” ujar Antony.


“Sudahlah! Ayo kita kembali ke mobil!” ajak Sonya. Antony mengangguk.


Mereka berjalan menjauhi pintu utama. Baru beberapa langkah mereka berjalan, terdengar suara mengagetkan.


“Kalian mencari siapa?”


***