Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
214.Pelacakan


Setelah keluar dari toilet, Niken menyempatkan diri berkaca sebentar ke cermin besar yang terpasang di atas wastafel. Ia mengamati bayangan dirinya, dan diam-diam mengagumi kecantikannya sendiri. Kalau saja tak ada telepon dari Anita, tentu ia masih bercermin mematut diri. Namun, karena Anita sudah menelepon, ia segera melangkah menuju ke tempat parkir yang lokasinya berada di belakang gedung restoran. Pencahayaan sangat minim, sehingga sedikit gelap. Namun, ada dua orang penjaga karcis yang berjaga di sebuah pos kecil. Tugas mereka menarik uang parkir para tamu yang datang berkunjung ke restoran.


Niken berjalan menuju ke tempat mobil Anita diparkir, tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Mobil itu sudah tak ada di tempatnya. Bukankan beberapa menit lalu Anita menelepon? Masa dia sudah pergi meninggalkannya? Firasatnya tak enak seketika. Ia mengambil ponsel dan berusaha menghubungi nomor Anita, tetapi rupanya ponsel gadis belia itu tak bisa dihubungi.


“Oh, Tuhan!”


Niken merasa panik, tetapi kemudian berusaha menenangkan diri. Ia tarik napas dalam-dalam. Kalau terjadi sesuatu pada Anita, tentu ia yang paling bertanggungjawab. Padahal ia hanya ke toilet sebentar, tetapi mengapa Anita begitu cepat menghilang? Ia mengitari sekitar tempat parkir, tetapi tak menemukan mobil milik Anita.


Dalam rasa panik, ia segera ke bagian depan untuk menemui seorang petugas karcis yang bertugas di sebuah pos sambil mendengarkan radio di sana . Penjaga karcis itu seorang pria yang lumayan berumur, wajahnya tampak cuek melihat kehadiran Niken.


“Pak ... Pak! Apakah barusan ada sebuah mobil sedan warna silver Honda Genio keluar dari tempat parkir ini?” tanya Niken cepat.


“Sedan silver? Ada beberapa sih Mbak. Maaf, Mbak siapa?” tanya petugas karcis itu curiga.


“Saya polisi, Pak! Teman saya berada di dalam sedan itu dan kemungkinan ada seseorang yang berbuat jahat kepadanya. Saya harus kejar mobil itu cepat!”


Niken merasa sia-sia berbicara dengan petugas karcis itu. Ia berlari menuju mobilnya, kemudian segera memacu keluar dari tempat parkir, kemudian melaju ke arah jalan raya. Namun, ia bingung. Hendak kemanakah dirinya? Ia tak punya bayangan apa pun hendak pergi ke mana.


Sembari menyetir, ia terus mencoba menelepon Anita, namun jawaban yang didapat selalu sama.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan.


Niken merasa tertekan dengan kondisi seperti itu. Segera ia berkoordinasi dengan bagian lalu lintas untuk mengecek plat nomor mobil atas nama Anita Wijaya. Dalam waktu sekian menit, bagian lalu lintas sudah mengirimkan nomor plat itu pada Niken.


“Mohon setiap polisi yang bertugas untuk berpatroli dan menemukan mobil dengan plat mobil ini, karena mobil ini dicurigai dibawa lari oleh orang yang berniat jahat. Mohon semua agar meningkatkan kewaspadaan, karena penjahat ini berbahaya dan bersenjata!”


Niken langsung menyebarkan pesan itu ke nomor kepolisian untuk selanjutnya diteruskan ke setiap bagian. Ia sungguh berharap agar usahanya kali ini membuahkan hasil. Pikirannya saat ini sangat kacau. Ia hanya berputar-putar tak tahu kemana, sampai pada suatu titik jenuh. Ia menyerah, kemudian memarkir mobilnya di pinggir jalan, dan mulai menangis. Ia tidak bisa memaafkan dirinya apabila terjadi apa-apa dengan Anita.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia berharap mendapat berita bagus, karena datangnya dari nomor kepolisian. Ia segera mengangkat panggilan itu.


“Kami mendapat laporan dari petugas Polsek bahwa sebuah mobil silver meluncur dengan kecepatan tinggi menuju kawasan perkebunan di sisi selatan kota. Kami sudah mengerahkan beberapa petugas untuk melacak mobil tersebut!”


Mendengar laporan itu, seketika semangat Niken bangkit. Ia segera menyalakan mesin mobil, kemudian melaju mengikuti petunjuk dari laporan polisi tersebut, yakni ke arah selatan kota, menuju areal perkebunan. Ia berharap agar polisi itu tak salah mengidentifikasi, dan ia segera mendapat buruannya.


***


Reno baru saja meneguk kopi sambil menikmati siaran televisi ketika ia mendenger laporan polisi menyebutkan bahwa artis Anita Wijaya dikabarkan menghilang selepas makan malam di Restoran Paragon. Buru-buru ia letakkan kembali kopinya, dan segera bergegas mengenakan jaket hitam.


“Situasi gawat lagi?” tegur Silvia.


“Begitulah, Sil! Seorang artis menghilang, dan aku harus turun tangan karena aku menangani kasus yang ada hubungannya dengan ini,” kata Reno dengan cepat, sambil buru-buru menyambar kunci mobil yang digantung di tempat gantungan kunci.


“Jaga diri, Ren!”


Reno segera melarikan mobil ke arah selatan kota, sesuai laporan dari pihak kepolisan yang menyebutkan bahawa mereka melacak keberadaan sebuah mobil berwarna silver yang melaju kencang menuju perkebunan.


Di dalam mobil, Reno masih berpikir tentang keselamatan Anita, dan ia juga tak habis pikir bagaimana bisa Niken bisa kecolongan. Ia menyesal, seharusnya ia tak menugaskan Niken untuk mengawasi Anita. Bagaimanapun, Niken adalah polisi baru, walau ia pernah bilang punya banyak pengalaman. Kini, Reno sangsi dengan Niken.


Dari kejauhan sudah terdengar sirene mobil polisi meraung-raung. Ia berpikir, mungkin raungan sirene itu akan membuat si penculik Anita sadar bahwa ia diikuti. Ia segera melajukan mobil. Namun, beberapa kali mobil-mobil polisi lain mendahuluinya. Jelas mobil-mobil itu tengah melacak keberadaan mobil silver.


***


Dalam keadaan terikat tangannya, Anita membuka mata perlahan. Rupanya ia berada di kursi belakang sebuah mobil yang melaju kencang melewati jalan gelap perkebunan. Sepertinya, mobil itu sudah keluar dari jalan utama. Si pengemudi sengaja melambatkan mobil, karena melewati jalan tanah yang berdebu, dengan hamparan pohon-pohon di sisi kanan-kiri.


Anita mulai menangis ketakutan, tetapi ia tak bisa bergerak karena diikat. Ia hanya bisa berteriak.


“Lepaskan aku, kumohon lepaskan aku!” pinta Anita.


Namun, rengekan Anita tak digubris. Pengemudi mobil itu makin jauh masuk ke dalam kebun yang sepi dan gelap. Anita tak tahu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh si penculik ini.


“Apa ... apa yang kamu inginkan? Aku akan penuhi. Tolong lepaskan aku!”


“Aku hanya ingin kamu mati, Nita!” ucap penculik itu tegas.


“Tapi ... tapi kenapa kamu pengen aku mati?” tanya Anita lagi.


“Siapa pun yang dekat dengan Daniel Prawira pantas mati!”


Anita tak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya mengalir deras. Kini ia pasrah ketika mobil itu berbelok ke sebuah pondok kayu yang terletak di dalam perkebunan. Pondok itu seperti lama tak dipakai, bahkan tak ada listrik di situ. Suasana gelap dan sepi.


“Maaf, Anita. Mungkin besok kota ini akan dikejutkan dengan penemuan mayat seorang gadis di kebun durian. Yah, ini adalah kebun durian milik Pak Daniel. Kau tak menyangka bukan kalau Pak Daniel punya kebun? Tapi aku tahu. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirmu untuk melihat dunia malam ini. Besok, mungkin akan berbeda cerita!”


“Kumohon! Aku tidak mau mati. Lepaskan aku!” pinta Anita.


Sosok itu hanya menggeleng dan tersenyum tersungging.


“Kali ini aku tidak dapat mengabulkan keinginanmu. Jadi bersiaplah, Anita. Waktumu sudah tak lama lagi!”


Sosok itu mematikan mesin dan lampu mobil, kemudian menarik Anita dari dalam mobil. Ia mendorong Anita untuk berjalan menuju pondok yang gelap, kemudian mendorong lagi tubuhnya hingga tersungkur di lantai pondok yang hanya terbuat dari semen. Lantai itu begitu kotor dan dingin.


“Sampai nanti, Anita!”


***