
Malam mulai membalut kastil dengan kegelapan, ketika petugas paramedis mulai bergerak mengevakuasi jenazah Kara yang tersimpan dalam bilik. Petugas memasukkan jenazah itu ke dalam kantung mayat, untuk selanjutnya dibawa ke kota. Ammar mengawal langsung proses evakuasi itu, berharap agar evakuasi berlangsung dengan cepat tanpa hambatan. Ia khawatir apabila proses evakuasi berjalan lambat akan menimbulkan masalah baru, karena penghuni lain akan mengetahui proses itu.
Cuaca malam yang sedikit hangat memang sangat tepat untuk proses evakuasi itu. Ammar memberi isyarat agar semua dilaksanakan secara cepat. Mariah bertugas langsung untuk mensterilkan secara langsung kondisi di dalam kastil. Ia menyiapkan makan malam di meja makan, tetapi sepertinya banyak yang tak berselera untu makan malam. Beberapa di antara mereka memilih untuk tetap di kamar.
Di sisi kastil yang lain terlihat Aditya yang sedari tadi mengintip, melihat dengan saksama ketika petugas paramedis keluar ke halaman samping sambil membawa kantung mayat. Ia tidak dapat memastikan mayat siapa yang berada di dalam kantung bewarna kuning itu. Padahal pagi tadi Nadine ditemukan dalam keadaan selamat di ruang bawah tanah. Apakah itu adalah jenazah Stella. pikir Aditya. Ia tidak mau berspekulasi lebih jauh, tetapi kejadian ini benar-benar membuatnya sangat penasaran.
"Siapa yang ada di kantung mayat itu sebenarnya?" gumam Aditya.
Jenazah Kara yang dibungkus kantung jenzah kemudian dimasukkan ke dalam mobil, dengan tanpa suara. Para petugas paramedis bertindak sigap. mereka adalah tenaga-tenaga terlatih, sehingga proses evakuasi bisa dilaksanakan secara tepat. Setelah jenazah Kara masuk, mobil ambulans itu segera keluar dari halaman kastil, bersiap melaju menuju kota. Mobil meninggalkan halaman kastil dengan tenang dan nyaris tanpa suara, sementara Ammar mengawal proses evakuasi hingga ke gerbang kastil. Kini tinggal satu mobil ambulans lagi, yang sedang menunggu evakuasi jenazah Farrel dari dalam hutan.
Aditya masih mengawasi proses evakuasi itu secara diam-diam, dari balik jendela. Tatapannya seolah tak mau lepas, sesekali menajamkan pandangan, karena di luar memang gelap. Hasrat ingin tahunya makin menjadi. Mengapa evakuasi mayat dilakukan di malam hari seperti ini?
"Dit, kamu ngapain?"
Tiba-tiba terdengar suara menegurnya. Aditya memalingkan muka, mendapati Jeremy yang sudah ada di belakangnya. Aditya segera bersikap biasa, kemudian mengajak Jeremy ke ruang tengah yang malam itu terlihat lengang. Rupanya Jeremy juga ikut penasaran, karena sepertinya ada hal penting yang hendak disampaikan oleh Aditya. Jeremy bersiap mendengar penjelasan Aditya dengan antusias.
"Kurasa mereka sedang merahasiakan sesuatu dari kita, Jer," ucap Aditya.
"Merahasiakan sesuatu? Apa maksudmu?" tanya Jeremy.
"Aku baru saja melihat beberapa petugas paramedis mengangkut sebuah kantung jenazah dari dalam ruang bawah tanah. Padahal tadi pagi kan Nadine ditemukan dalam keadaan selamat. Jadi siapa yang mati di bawah sana? Rosita juga masih selamat. Kita juga masih lengkap. Siapa sebenarnya yang jasadnya dibawa oleh paramedis itu?" ucap Aditya.
"Kamu serius Dit? Ada paramedis di sini? Setahuku paramedis itu ditugaskan untuk mengangkut jenazah Farrel yang ada di hutan, sebab Pak Reno tadi menunggu paramedis sejak pagi. Kukira jenazah itu adalah jenazah Farrel," ucap Jeremy.
"Bukan, bukan. Mereka masuk ke dalam ruang bawah tanah dan mereka mengambil jenazah seseorang di sana. Sepertinya memang ada yang disembunyikan dari kita. Bagaimana kalau kita cari tahu tentang ini, Jer? Perasaanku nggak enak. Aku nggak mau peristiwa yang menimpa Lidya terulang lagi," kata Aditya.
Jeremy termenung sejenak. Tiba-tiba ingatannya beralih kepada Stella. Ia khawatir kalau-kalau jasad yang diangkat paramedis itu adalah jasad Stella. Bukankah Pak Reno berkata bahwa mungkin Stella masih berada di ruang bawah tanah? Rasa tidak enak mulai merayapi perasaannya. Ia segera bangkit dari tempat duduknya.
"Aku akan ke ruang bawah tanah sekarang!" ucap Jeremy.
"Kamu mau ngapain? Jenazah itu sudah dimasukkan ke dalam mobil, dan mobilnya sudah pergi. Sebaiknya kamu tanyakan langsung saja ke Pak Ammar, siapa sebenarnya yang dimasukkan ke dalam kantong jenazah itu," kata Aditya.
"Tidak Dit! Aku mau lihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku saat ini mengkhawatirkan kondisi Stella yang mungin saat ini meringkuk kelaparan di bawah sana. Aku tidak mau dibodoh-bodohi terus. Malam ini juga aku akan turun ke ruang bawah tanah. Aku tidak mau menunggu sepi. Aku tidak mau mengandalkan Juned atau siapa pun. Aku akan bergerak sendiri tanpa bantuan siapa pun!" ucap Jeremy.
"Astaga! Jangan nekat kamu Jer!"
"Aku bukan nekat, Dit. Ini sudah kewajibanku untuk melindungi keluarga," kata Jeremy dengan tegas.
"Baiklah, Jer. Aku nggak bisa menghalangi kamu. Kalau kamu nggak keberatan, aku akan temani kamu turun ke ruang bawah tanah itu. Aku juga penasaran, hal apa yang disembunyikan di dalam sana?"
"Baik Dit! Kamu boleh ikut. Kita turun ke sana sama-sama!"
"Kita tunggu semua tidur. Mumpung Pak Reno dan Juned sedang tidak ada, kita bisa telusuri kebenaran mengenai ruang bawah tanah yang katanya angker dan menyeramkan. Sepertinya itu mitos. Aku penasaran sekali dengan apa yang ada di dalamnya," ucap Aditya.
"Mengapa harus menunggu sepi, Dit? Sekarang juga aku mau ke sana! Ini lebih ke keselamatan Stella. Ini bukan masalah ruang bawah tanah itu angker atau nggak, karena aku nggak peduli. Aku akan mencari Stella di dalam ruangan itu," kata Jeremy.
"Aku akan membantumu, Jer! Tapi tunggulah sejenak. Kalau ada yang tahu kita ke sana diam-diam. Sudah pasti mereka akan melarang. Paling tidak tunggulah sebentar!" saran Adit.
"Baiklah!" jawab Jeremy melunak.
***
Dalam kegelapan hutan, cahaya lampu senter berpendar mengawal proses evakuasi jenazah Farrel yang dipimpin oleh Reno, dibantu oleh Juned. Susahnya medan hutan menjadi tantangan tersendiri bagi tim paramedis untuk menyusur jalan setapak yang dipenuhi belukar. Namun demikian, mereka tetap semangat menjalankan tugas.
"Bagaimana dengan kondisi di kastil? Apakah jenazah yang ada di sana sudah dievakuasi?" tanya Reno.
"Pak Ammar sudah menangani yang di kastil, Pak. Sepertinya semua lancar," jawab Juned,
Reno mengangguk. Sebenarnya ia dalam kondisi yang tidak baik, karena ia mearsa sangat lapar. Dari pagi, ia belum makan, hanya memenuhi perut dengan air. Kini ia harus memimpin evakuasi jenazah agar bisa cepat sampai di kastil dengan aman.
Mereka telah sampai di kawasan air terjun. Suara gemuruh, berpadu dengan jeritan hewan hutan, terdengar jelas, semakin membuat mereka makin bersemangat untuk segera sampai ke kastil. Jalan setapak menjadi agak licin, karena percikan air. Mereka harus ekstra hati-hati, agar tidak tergelincir. Jenazah tanpa kepala itu dimasukkan dalam kantung mayat yang dibawa oleh dua orang petugas paramedis.
"Kita harus segera sampai ke kastil, Pak. Pak Ammar sedang sendirian di sana karena Ramdhan tak kunjung tiba dari kota. Entah ada apa dengan Ramdhan, mengapa ia tak segera sampai ke kastil," ucap Juned.
"Sesuatu yang buruk telah terjadi pada Ramdhan," kata Reno.
"Salah seorang petugas paramedis mengatakan bahwa mobil Ramdhan mengalami kecelakaan parah di ruas jalan menuju kota. Tetapi ia tidak menjelaskan kecelakaan seperti apa, dan kondisi Ramdhan juga belum bisa dipastikan. Yang jelas saat ini Ramdhan tengah menjalani perawatan di rumah sakit," terang Reno.
"Astaga! Bagaimana mungkin itu bisa terjadi! Setahuku, Ramdhan ini cukup disiplin dalam urusan keselamatan. Mobilnya selalu dalam keadaan terawat. Kok bisa terjadi kecelakaan? Apa gara-gara sabotase ya, Pak?" tanya Juned.
"Entahlah, Jun. Kita nggak bisa berspekulasi tanpa melihat kejadiannya langsung. Saat ini pihak kepolisian sedang menangani kasus kecelakaan itu. Semoga saja Ramdhan dalam keadaan baik," ujar Reno.
Juned hanya bisa menganggu-angguk. Ia mengkhawatirkan kondisi rekan kerjanya itu. Kalau Ramdhan dlam keadaan terluka, pasti dia akan bertugas sendirian di kastil.. Apalagi Dimas juga sedang tidak ada di tempat. Tentu akan berbahaya sekali kalau kastil dalam keadaan minim petugas keamanan. Hal buruk bisa saja terjadi kapan saja.
"Semoga Ramdhan lekas pulih dan bisa segera kembali ke kastil, gumam Juned.
"Kalau menunggu Ramdhan pulih sepertinya agak lama. Pihak kepolisian akan mengganti personel baru. Tapi sampai sekarang aku belum tahu siapa yang akan menggantikan posisi Ramdhan. Semoga penggantinya adalah orang yang tepat," ucap Reno.
Juned hanya bisa mengiyakan. Mereka terus berjalan menembus hutan yang gelap, menuju arah kastil. Dari kejauhan, menara kastil itu sudah terlihat. Waalupun begitu, jarak perjalanan masaih lumayan jauh. Juned sudah merasa lumayan penat pada kakinya, karena seharian ini banyak yang harus diurusinya. Ia hanya ingin segera sampai di kastil dan beristirahat.
***
Setelah mendapat perawatan dari rumah sakit, Dimas disarankan untuk beristirahat agar luka-lukanya dapat segera pulih. Namun, Dimas tak ada waktu untuk itu semua. Ia tidak mau beristirahat lama-lama, karena banyak yang harus ia selesaikan. Ia harus menguak fakta terkait kasus pembunuhan di kastil tua yang telah memasuki babak baru. Menunda waktu, akan berakibat fatal. Bisa jadi, korban akan berjatuhan lagi. ia harus seegra mencari informasi lebih mendalam terkait kasus ini.
Ia tidak langsung pulang ke rumah, melainkan langsung ke kantor untuk mencari berkas-berkas yang mungkin terkait dengan para penghuni kastil ini. Paling tidak, ia ingin menelusuri latar belakang masing-masing penghuni, dan menyelidiki keterkaitan di antara mereka. Kasus-kasus sebelumnya membuktikan bahwa hubungan asmara bisa menjadi motif paling berbahaya. Ia menduga, kasus kali ini tidak hanya didasari kasus asmara, tetapi juga bercampur dendam yang belum terpuaskan.
Ia sedang membuka berkas-berkas yang disimpan dalam lemari file ketika pintu ruangannya dibuka tiba-tiba. Niken, polisi wanita yang tampak cantik malam itu, langsung masuk begitu saja tanpa permisi, dengan senyum yang menggoda.
"Selamat datang Dimas. Aku turut prihatin melihat kondisimu yang luka-luka seperti itu. Kamu mau kabar baik? Kita akan segera menjadi tim," ucap Niken.
Dimas menghentikan aktivitasmya, seraya menatap Niken dengan penuh tanya. Firasatnya mengatakan, apabila polisi wanita hadir, pasti membawa hal yang kurang baik. Namun kali ini, Dimas berusaha untuk bersabar. Ia mencoba meladeni apa yang sedang diinginkan oleh Niken.
"Ada yang bisa kubantu, Niken? Maaf, aku agak sibuk hari ini," ucap Dimas.
Polisi wanita itu tersenyum, kemudian memberikan sebuah amplop kecil berwarna coklat kepada Dimas. Tentu saja hal ini membuat Dimas semakin heran.
"Apa ini?" tanya Dimas sambil menerima lembaran amplop itu.
"Baca saja!"
Mau tidak mau, Dimas membuka juga amplop yang diberikan oleh Niken. Ia membaca dengan saksama selembar kertas yang ada di dalamnya. Ternyata kertas itu berisi tentang surat tugas untuk Niken.
"Bagaimana meurutmu? Surat tugas itu sah dan resmi. Malam ini juga aku akan berangkat ke sana untuk menggantikan Ramdhan yang sedang dalam perawatan," kata Niken.
"Terserah kau saja, Niken. Tapi kastil itu tidak seperti kastil yang pernah kau lihat di dongeng-dongeng. Itu bukanlah kastil yang dihuni putri kerajaan yang mengharapkan kehadiran ksatria berkuda. Kastil di sana jauh lebih mengerikan. Dan yang kita hadapi bukanlah seorang nenek sihir atau psikopat kelas teri. Tetapi yang kita hadapi kali ini adalah seorang psikopat. Kuharap kau bisa segera menyesuaikan diri di sana," ucap Dimas sambil melipat surat tugas itu.
"Aku tidak takut dengan apa pun Dimas. Berapa kasus yang telah kuselesaikan, dan kau masih saja mengajariku tentang ini? Aku bukan gadis kemarin sore yang tak tahu apa-apa. aku yakin, pasti kehadiranku di sana akan banyak membantu!" Niken berkata sambil tersenyum sinis.
"Faktanya adalah, dalam kasus sebelumnya, bahkan kau hampir mati disekap oleh penjahat di sebuah rumah kosong. Kau ingat itu? Kalau saja aku tak datang, maka kupastikan kau akan tinggal nama!" ujar Dimas.
"Ya aku mengakui itu, Dimas. Tapi kali ini aku sudah banyak belajar dari kesalahan. Kali ini aku tak akan mudah menyerah begitu saja. Baiklah, biar bagaimana kuterima saja saranmu, mungkin akan berguna untukku.Mungkin sekarang kamu masih mencari data terkait para penghuni kastil. Kau tahu, aku sudah merangkum data mereka mereka semua, hanya saja mungkin aku tak akan membagikan kepadamu," ucap Niken dengan nada sombong.
"Aku memang tidak membutuhkanmu, Niken! Aku bisa mencari data sendiri yang lebih akurat!" tandas Dimas.
Dimas saat ini dalam kondisi lelah. Badannya terasa sakit hingga persendian, Kehadiran Niken di ruangannya sangat mengganggu, tetapi ia masih berusaha menahan emosi. Ingin sekali ia memaki-maki perempuan itu, tetapi niat itu diurungkannya. Ia bukanlah seorang manusia yang barbar. Ia merasa kalau marah-marah kepada Niken hanya akan merendahkan dirinya sendiri.
"Oh begitu? Jadi kita lihat saja nanti, siapa yang datanya lebih terpercaya. Oke, kurasa obrolan kita cukup, aku harus bersiap ke kastil. Pak Ammar pasti akan senang melihat kedatanganku ke sana, demikian juga Pak Reno. Semoga kita masih bertemu dalam keadaan selamat!
Dimas hanya mengangguk pelan, membiarkan perempuan sombong itu berlalu dari ruangannya. Ia tidak dapat membayangkan kalau Niken sampai ke kastil tua itu. Ia yakin, bahwa Niken akan lebih banyak merepotkan daripada membantu. Namun, ia juga tak bisa mengintervensi keputusan kepolisian yang memasukkan nama Niken sebagai pengganti Ramdhan. Ia berharap agar semua baik-baik saja.
***