Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXIV. The Twin's Secret


Pagi masih sedikit gelap ketika Hans sudah bersiap di halaman samping, dengan kostum petualangannya. Ia memakai kaos lengan panjang, topi, dan sepatu kets. Maira yang ingin ikut berpetualang juga berpenampilan berbeda. Ia mengenakan kaos berwarna merah, dan sebuah celana model training. Ia mengikat rambutnya kuncir kuda, agar tidak gerah saat beraktivitas.


“Kamu siap berpetualang hari ini, Maira?” tanya Hans.


“Sangat siap, Hans! Ceritamu tentang air terjun membangkitkan semangat. Aku nggak sabar ingin melihatnya!” ucap Maira dengan mata berbinar.


Dari arah dalam kastil, Michael menghampiri dengan wajah gelisah, seperti ada yang membebani pikiran. Ia menatap Hans dan Maira dengan tajam.


“Kalian tidak akan menginap bersama anak-anak itu kan?” tanya Michael.


“Mungkin tidak. Kita lihat saja nanti! Menurutku menginap di alam liar itu menyenangkan. Apalagi bisa bercinta di bawah sinar bulan. Wah, pasti seru!” gelak Hans.


“Bisakah kamu tidak menjurus ke arah bercinta, Hans? Aku heran, hidupmu ini tidak jauh-jauh dari bercinta dan wanita. Tidakkah kamu pikir ada yang lebih menarik daripada itu?” keluh Michael.


“Ada Michael! Aku suka uang! Kalau di kastil ini ada uang tersimpan, maka dengan senang hati aku akan membawanya pulang! Wanita? Siapa yang tidak suka wanita?”


Michael mendengkus. Hans dan Maira segera melangkah keluar menuju halaman depan, meninggalkan Michael. Sebelum sampai di depan gerbang, terlihat Aldo dan Elina berlari-lari kecil mengejar mereka. Aldo sudah siap dengan kostum petualang, sedangkan Elina juga tampil sporty, dengan kamera yang dikalungkan di leher.


“Tunggu! Aku ikut!” teriak Aldo.


Hans dan Maira menghentikan langkah, menatap pasangan itu dengan malas. Maira juga sedikit keberatan kalau Aldo dan Elina ikut berpetualang.


“Kami ingin mencari objek menarik untuk foto. Kupikir akan sangat menyenangkan apabila kita berangkat bersama-sama,” ucap Aldo.


“Kurasa tidak, Aldo. Kami tidak suka mencari objek foto. Jadi nanti silakan kalian mencari objek foto sendiri, karena kami ingin mencari tempat terpencil untuk bercinta,” seringai Hans.


Elina merasa gusar mendengar ucapan Hans. Ia membuang muka ke arah lain. Aldo yang sudah hapal dengan perilaku Hans, tak begitu menggubris. Mereka berjalan keluar dari gerbang, memutar kastil menuju jalan setapak kecil yang diapit perkebunan teh. Pagi masih menyisakan tetes-tetes embun di dedaunan teh, dan kabut tipis yang masih enggan menguap.


Yang mengherankan, hamparan teh seluas ini seolah tak bertuan, karena jarang pemilik atau penjaga kebun mengunjungi. Hanya saja saat musim panen teh, tempat itu tiba-tiba ramai dikunjungi. Sayangnya, area sekitar kastil tetap sepi. Aura mistis dari kastil tua itu seolah menjadi daya tolak bagi orang-orang untuk berkunjung ke sana.


Elina sibuk mengambil foto cakrawala ufuk timur yang mulai memerah, pertanda matahari akan segera bertahta di singgasana. Ia sangat mengagumi keindahan alam yang ditawarkan di sana. Aldo dengan setia menungguinya. Sementara, Hans dan Maira mulai tak sabar.


“Kalian membuang waktu kami yang sangat berharga. Selesaikan saja urusan kalian, kami akan berjalan sendirian!” keluh Hans.


“Sebentar Hans! Ini sangat berharga untuk dilewatkan!” jawab Elina, sambil terus fokus mengamati panorama dari lubang kecil di kameranya.


“Kami tidak tahu jalan ke air terjun itu, Hans. Tunggulah sebentar!” Aldo menambahkan.


Hans dan Maira mengangkat bahu. Maira berbisik pada Hans,”Kurasa salah besar membawa mereka bersama kita. Ini akan menyita waktu agak lama. Bagaimana kalau kita tinggalkan saja mereka diam-diam?”


“Ide yang bagus. Mereka bukan anak kecil, tak mungkin tersesat. Mumpung mereka masih sibuk, mari kita pergi!” ucap Hans.


Hans dan Maira segera mengendap diam-diam meninggalkan pasangan yang sedang asyik mengambil objek foto itu.


***


Hari masih belum terlampau siang ketika Michael mencoba menenangkan pikiran di dapur. Ia membutuhkan segelas air dingin, agar dapat menyegarkan otak yang terasa panas. Tak dijumpainya Helen di sana, padahal sepagi ini biasanya ia menyiapkan sarapan. Mungkin dia tahu bahwa sebagian penghuni kastil sedang tidak ada di tempat, sehingga ia hanya menyediakan roti dan keju di meja dapur. Michael tak terlalu merasa lapar. Ia hanya ingin menyegarkan kerongkongannya saja.


Tiba-tiba, ia melihat tingkap yang menghubungkan dengan ruang bawah tanah terbuka. Helen keluar dari dalam ruang bawah tanah sambil membawa bungkusan. Wanita paruh baya itu agak terkejut melihat kehadiran Michael di dapur. Buru-buru ia bersikap biasa, melirik ke arah Michael sekilas.


“Helen? Dari mana kamu?” tanya Michael penasaran.


“Eh, anu ... aku hanya melihat kondisi ruang bawah tanah sebentar. Karena kondisi di dalam sana sangat kotor. Banyak tikus berkeliaran akhir-akhir ini jadi aku mencari tahu apa penyebabnya,” ujar Helen ragu-ragu.


“Tikus? Aku nggak pernah bertemu tikus di bawah sana,” ujar Michael.


“Lalu apa yang kamu bawa itu?” tanya Micheael penuh selidik.


“Ini? Oh, ini adalah sisa makanan. Aku menemukan di bawah sana tadi. Entah ada tikus yang membawa ke sana atau hal lain, aku kurang mengerti.”


“Helen, apakah kamu tahu seluk-beluk lorong gelap di bawah kastil ini?” tanya Michael lagi.


“Lorong gelap? Maaf aku tidak begitu mengerti. Yang kutahu adalah dalam lorong sana banyak bilik-bilik peninggalan zaman kolonial. Agak menyeramkan memang. Kadang kita bisa tersesat apabila tak hati-hati,” ucap Helen.


Michael mengangguk, sambil mengernyitkan kening.


“Maaf, aku harus mengirim sarapan ke kamar Pak Ammar,” ujar Helen.


Gerakannya sigap, menyiapkan beberapa lembar roti, botol selai, segelas susu, dan keju. Ia bahkan tak peduli ketika Michael berada di situ, mangamati tiap gerakan yang dilakukan.


Setelah semua siap, ia membawa makanan itu ke kamar Ammar yang sedang bersandar di dinding sambil membaca sebuah buku biografi usang milik Anggara Laksono. Helen tak ingin mengganggu. Ia hanya meletakkan makanan itu di meja.


“Kalau perlu apa-apa, jangan segan panggil saya,” ucap Helen.


“Iya Helen. Terima kasih. Aku tak begitu lapar pagi ini. Mungkin aku hanya akan meminum susu. Ngomong-ngomong, cukup lama kita tak mengobrol bukan? Kita memang sering bertemu, bahkan sebelum kasus pembunuhan ini ada di kastil. Tetapi kita jarang bicara,” ucap Amar.


“Ada yang ingin kau tanyakan, Pak?” tanya Helen.


“Tak banyak Helen. Aku tahu kau adalah pelayan yang setia melayani paman Anggara Laksono, bahkan menjelang hari terakhirnya. Tentunya kau sangat mengenal beliau secara pribadi, bukan?” tanya Ammar.


“Eh, iya Pak. Tentu saja aku sangat mengenal Tuan Anggara dengan baik,” jawab Helen.


“Bagaimana menurutmu?”


“Beliau baik. Tapi agak pendiam, suka menyendiri dalam ruang bacanya. Beliau menyukai kopi tanpa gula. Banyak juga hal-hal tak terjelaskan pada dirinya, Pak. Kadang dia menyuruhku untuk menemani hingga larut malam dalam ruang kerjanya. Dia bercerita tentang....” Helen berpikir sejenak.


“Tentang apa, Helen?”


“Tentang istrinya, Anastasia Pratiwi.”


“Hmm. Lalu siapa wanita yang menggendong anaknya itu, Helen? Apa kau tahu tentang dia?” desak Ammar bersemangat.


“Dia ... dia adalah perempuan baik. Perempuan baik yang tersakiti. Maaf aku tidak bisa bercerita tentang itu, Pak.” Ucap Helen takut-takut.


“Lalu di mana dia sekarang? Apakah masih hidup? Bagaimana pula nasib anaknya, Helen?”


“Apakah aku harus menjawab pertanyaan ini, Pak?”


“Ya. Kamu harus menjawabnya, Helen! Anggap saja ini interogasi.”


“Yang kutahu, Anggara Laksono mempunyai anak kembar, sayangnya aku tidk tahu keberadaannya Pak. Aku juga tidak tahu keberadaan Anjani,” jawab Helen.


“Kembar? Tapi hanya satu anak dalam foto itu kulihat!”


“Wajah mereka nyaris sama, Pak. Beliau pernah bilang padaku kalau ia sama sekali tidak menginginkan anak kembar dalam hidupnya. Jadi beliau memutuskan untuk berfoto dengan salah seorang saja,” ucap Helen.


Ammar terdiam, mencerna semua perkataan Helen. Paling tidak ia mempunyai gambaran yang mungkin mengarah ke kasus besar ini. Ia berharap, agar dugaannya tak meleset.


***