Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
172. Rencana Pulang


Nayya merasa bosan berada dalam rumah kecil di Kampung Hitam itu. Kerinduannya bertemu keluarga sudah tak tertahankan. Di rumah ini, hanya dia satu-satunya perempuan. Oleh karena itu, ia merasa canggung untuk mengobrol bersama para pria anggota The Raymond Brothers. Apalagi, tampang mereka sangar, jadi kadang Nayya agak segan mengobrol bersama mereka.


Padahal Nayya menyadari bahwa The Raymond Brothers adalah manusia biasa juga, tidak ada beda dengan dirinya. Nayya menyimpulkan bahwa dibalik dunia hitam yang dijalani mereka, ternyata masih tersimpan kebaikan. Buktinya, selama tinggal bersama mereka, Nayya diperlakukan dengan baik, tanpa disakiti sedikit pun. Yah, Nayya sadar bahwa memang tidak boleh melihat seseorang dari kulit luar saja.


Nayya merasa gelisah. Yang ia lakukan di malam seperti ini adalah merenung di depan jendela, memikirkan hal-hal yang telah terjadi dalam hidupnya. Semua berjalan begitu cepat seperti mimpi. Dari seorang gadis yang menjadi idola di kampus, sampai kini menjadi gadis yang terdampar di antah-berantah, tanpa seorang pun mengetahui keberadaannya. Ia sangat merindukan kehidupan di luar sana. Diam-diam ia merindukan dunia kepopuleran yang membuat namanya makin naik daun.


Nayya begitu piawai naik ke atas panggung, disinari lampu warna-warni, berjalan berlenggak-lenggok memamerkan busana yang ia pakai. Dunia panggung adalah sisi lain dari kehidupannya, selain sebagai seorang mahasiswi. Namun, kadang Nayya merasa bosan di dunia seperti itu. Ia merasa hampa, seolah orang-orang di sekitarnya hanya mengeruk keuntungan dari dirinya.


“Bosan ya?”


Tiba-tiba Badi muncul dari arah belakang. Nayya terkejut, kemudian membalikkan badan. Ia melihat Badi berdiri di depan pintu kamar, menatap dirinya dengan iba. Ya, pria itu sebenarnya merasa kasihan melihat keadaan Nayya. Ia paham, di dalam rumah seperti ini pasti membosankan. Namun Badi berpikir, bahwa apa yang dilakukan adalah untuk kebaikan Nayya sendiri.


“Aku ingin pulang, Bang,” lirih Nayya.


Badi mengangguk perlahan seraya berkata,”Aku tahu apa yang kamu rasakan Nay. Pasti kamu merindukan keluargamu. Tadi aku juga sudah berbicara dengan Raymond mengenai ini. Kamu tahu, dia juga sangat peduli dengan keselamatanmu, untuk itu dia berusaha melindungimu di sini. Tapi kemarin kubilang bahwa kamu sangat ingin bertemu keluarga. Jadi kami punya ide untuk mengantarmu ke pulang ke rumah,” ucap Badi.


“Serius Bang?”


Mata Nayya berbinar karena gembira. Kerinduannya untuk pulang ke rumah sudah tak tertahankan lagi. Ia ngin merasakan betapa nyaman kamar tidurnya. Ia tak sabar menunggu saat-saat itu.


“Iya, tadi Raymond sudah berbicara denganku. Aku sendiri yang akan mengantarmu pulang ke rumah. Dengan satu catatan .... “


“Apa itu, Bang?”


“Mungkin setelah kamu melepas kangen dengan keluarga, dan memastikan bahwa kamu baik-baik saja, kamu boleh tinggal bersama kami lagi, karena kami khawatir kalau-kalau pembunuh itu sudah melacak jejakmu dan menunggu kedatanganmu di rumah. Itu saja sih,” terang Badi.


“Iya Bang. Mungkin aku akan pulang barang tiga hari. Setelah itu aku akan memberi pengertian keluargaku bahwa aku aman dan baik-baik saja. lebih baik aku tidak menceritakan kronologis kejadian detail kepada mereka agar mereka nggak cemas. Aku hanya akan bilang bahwa aku baik-baik saja,” ucap Nayya.


“Baiklah, besok pagi aku akan antar kamu ke rumah keluargamu,” kata Badi.


Mendengar itu, Nayya tak dapat menutupi kegembiraannya. Ia merasa bahagia sekali, tak sabar menunggu hari esok. Matanya berbinar-binar. Sungguh rasanya seperti mimpi, apabila ia bisa menjejakkan kaki dirumah.


“Terima kasih Bang!”


Badi hanya tersenyum sembari mengangguk. Ia turut bahagia menyaksikan kegembiraan Nayya yang meluap-luap. Dalam hati, diam-diam ia mengagumi Nayya. Menurutnya, gadis itu memang terlihat lembut dan lemah, tetapi ia merasa Nayya cukup tangguh. Sebenarnya dibalik kelembutan gadis itu tersimpan semacam kekuatan tersembunyi yang bisa meledak kapan saja. Badi bisa merasakan hal itu.


Walaupun begitu, Badi tak ingin melambungkan pikirannya ke arah lebih jauh. Ia menyadari siapa dirinya. Ia bukan pria idaman yang diharapakan seorang wanita. Pekerjaannya tidak jelas, dan masa lalu yang kelam. Ia tidak ingin terbang, kemudian jatuh terjerembab ke dasar jurang.


***


Permainan catur antara Lena dan Ferdy berjalan dengan hening. Masing-masing berkonsentrasi memikirkan cara bagaimana bisa mengepung raja masing-masing. Lena terdiam sambil mengernyitkan kening, sementara Ferdy kadang tersenyum penuh kemenangan. Di atas kertas, memang seharusnya Ferdy berhasil menumbangkan Lena. Ferdy pernah memenangkan lomba bermain catur tingkat kota, walaupun bukan juara pertama. Sedangkan Lena menikmati permainan catur hanya karena hobi. Walaupun begitu, gadis itu juga tak bisa dianggap enteng.


Dimas dan Alex mengamati permainan keduanya dengan saksama, sembari mempelajari strategi yang dapat dicuri dari permainan itu. Sudah satu jam lebih mereka bermain, tetapi masih belum bisa dipastikan siapa yang akan tumbang duluan. Detik demi detik berlalu, masing-masing dari mereka seolah tak ada yang mau kalah. Dimas menilai keduanya masih sama kuat, dan berpeluang untuk menang.


“Skak!”


Tiba-tiba suara Lena memecah keheningan. Gadis itu menyunggingkan senyum mengancam. Ferdy tersentak, tidak menyangka kalau posisi rajanya terancam. Ia menyeka peluh yang mulai menetes di kening.


“Luar biasa! Kamu brilian sekali!” puji Ferdy.


Serangan dari Lena yang tak diduga sebelumnya itu juga membuat Dimas merasa terkejut. Ia berpikir bahwa Lena adalah seorang yang penuh taktik, dan bisa menyerang kapan saja di saat lawan lengah. Yah, mirip seekor ular derik yang bisa saja diam-diam mematuk. Awalnya ia memang sedikit meragukan kemampuan Lena, tetapi mendadak gadis itu melancarkan serangan mendadak.


Ferdy kemudian tersenyum sambil memindahkan posisi rajanya ke bidak yang lain. Serangan dari Lena tak membuat mentalnya jatuh. Bahkan, kini ia bisa paham apa yang sedang dipikirkan Lena. Ia hanya mengangguk-angguk, mencari celah agar bisa melancarkan serangan balik.


“Gerakan bagus, tapi bisa berakibat fatal, karena kamu mungkin akan kehilangan personel pentingmu!”


“Aduh ... “ tiba-tiba Lena bergumam.


Paras Lena tiba-tiba berubah. Seperti menahan sesuatu.


“Ada apa?” tanya Dimas.


“Sepertinya saya harus izin meninggalkan permainan sejenak. Aku harus ke kamar mandi,” desis Lena sambil menahan sesuatu yang mendesak di kandung kemihnya.


“Oh iya ... iya. Silakan. Jangan khawatir, permainan tetap adil kok. Kami akan tunggu!” ucap Dimas.


Ferdy hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Segera Lena beranjak dari tempat duduknya untuk menuju kamar mandi yang ada di lantai satu. Sebenarnya ada kamar mandi pula di lantai dua, tetapi karena ruang tamu berada di lantai satu, ia memilih untuk menggunakan kamar mandi yang di lantai satu pula. Ia agak malas untuk naik tangga.


Kamar mandi lantai satu tempatnya berada di belakang dapur, dan menghadap halaman belakang. Kalau malam begini pasti suasananya sangat sepi. Lagipula kadang lampu-lampu di rumah ini kadang berfungsi tidak normal. Kadang lampu-lampu itu berkedip tak jelas penyebabnya, padahal lampu masih dalam keadaan baru. Pak Paiman sendiri pernah menyampaikan hal itu, bahwa sistem listrik di rumah tua ini kadang agak aneh. Lampu kadang tanpa sebab mati sendiri, dan akan menyala lagi beberapa saat kemudian.


Lena melangkah sedikit cepat melewati lorong yang menghubungkan dengan kamar mandi. Sepi sekali di sekitar rumah ini. Ia merasa sedikit takut, tetapi ia berusaha untuk memberanikan diri.


Sesampai di kamar mandi yang lampunya sedikit redup, ia segera masuk ke dalamnya. Kamar mandi juga tidak didesain dengan ukuran besar, hanya ada bak kamar mandi porselen yang sudah sedikit berlumut dan tentu saja gayung plastik warna hijau kusam. Tak ada shower. Bahkan toilet pun dirancang bukan toilet duduk, melainkan toilet jongkok.


Di dalam kamar mandi juga berasa tidak nyaman, karena banyak nyamuk berdengung-dengung di sekitar telinganya, dan ia mendapati dua ekor kecoa di dekat saluran air. Lena merasa sedikit jijik, tetapi terpaksa ia harus menuntaskan hajatnya di tempat itu.


Tok ... tok ... tok!


Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan, tetapi bukan seperti orang mengetuk pintu. Suara ketukan itu terdengar agak pelan, dari arah luar kamar mandi. Mendengar itu, Lena bertanya-tanya, suara apa gerangan di luar sana. Mendadak ia merasa sangat tegang. Ia memilih untuk tetap bertahan di dalam kamar mandi, tidak berani keluar. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak mau berakhir sama seperti Miranti.


Suara ketukan itu sebentar berhenti sebentar terdengar. Tiba-tiba, Lena mempunyai ide untuk mengintip sedikit dari pintu, siapa yang menimbulkan bunyi-bunyi aneh di luar. Ia membuka pintu kamar mandi sedikit, untuk melihat situasi di kamar mandi. Perasaannya tidak karuan, antara takut dan cemas. Ia berharap agar bisa segera keluar dari kamar mandi dalam keadaan hidup.


Suasana terlihat senyap di luar sana. Hanya gelap, tetapi ada pula beberapa bayangan pohon yang menjulang terpapar cahaya lampu yang redup. Ternyata, lampu yang di halaman belakang memang berkedip tiba-tiba. Lena semakin dicekam rasa takut.


Sesosok bayangan hitam berdiri di bawah pohon!


***


Ferdy menunggu dengan bosan. Ia melirik ke arah jam tangannya. Sudah lumayan lama Lena pergi ke kamar mandi, tetapi belum muncul juga. Kegelisahannya dibaca oleh Dimas, sehingga polisi itu menjadi khawatir juga. Jarak ruang tamu dan kamar mandi sebenarnya tak seberapa jauh, tetapi suasananya senyap, sehingga mungkin kalau ada orang berniat jahat, pasti akan mudah dilakukan.


“Sepertinya Lena sudah terlalu lama di kamar mandi. Kalian tunggu di sini. Aku akan memeriksa!”


Dimas segera bertindak sigap. Ia beranjak dari tempat duduknya. Baru saja berdiri, Ferdy juga ikut beranjak dari tempat duduknya.


“Aku ikut!”


“Aku juga. Aku nggak mau di sini sendiri!” ucap Alex.


“Kamu takut ya?” ledek Ferdy.


“Nggak sih, hanya merasa nggak nyaman saja!” Alex membela diri.


Untuk sejenak, permainan catur terlupakan. Papan catur dibiarkan terbuka dengan buah-buah catur yang berserakan. Ketiga pria itu bergegas menuju kamar mandi belakang rumah. Dimas berharap agar tak ada kejadian buruk terjadi pada Lena.


***