Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
137. Gagal


Nayya mendekati sosok yang tertidur itu dengan berjingkat. Ia tahu bahwa kunci ruangan apartemen itu ada di tas kecil yang dipakainya. Dadanya berdegup. Khawatir sosok itu akan membuka mata. Memang, sosok itu terlihat pulas dengan remote TV tergenggam di tangan. Sementara, TV masih tetap menyala menyiarkan program acara memasak.


Nayya agak ragu, ketika ia sudah berada di samping sosok yang tertidur pulas itu. Perlahan, ia mendekatkan tangannya ke tas kecil yang masih diselempangkan di tubuh. Ia membuka tas kecil itu perlahan, sambil menahan napas. Ia sadar gerakan yang mendadak bisa saja membuat sosok itu terbangun.


Ia mengaduk isi tas kecil itu dengan hati-hati, mencari kunci. Sialnya, ada beberapa kunci lain yang ada di dalam tas, sehingga ia harus memastikan kunci mana yang sesuai dengan pintu apartemen. Ia tahu apartemen ini masih menggunakan teknologi konvesional. Bangunannya memang cukup tua, tidak seperti apartemen modern yang banyak bermunculan di penjuru kota. Sistem akses di apartemen yang biasanya menggunakan kartu identitas, tidak berlaku di apartemen ini.


Setelah beberapa menit, ia mengambil sebuah anak kunci dengan gantungan berbentuk hati. Yah, ia tadi sempat melihat kunci yang digunakan sosok itu mengunci pintu. Tak salah lagi, pasti kunci dengan gantungan berbentuk hati ini yang ia pakai untuk mengunci ruangan. Ia mengambil kunci itu segera, perlahan ia mendekati pintu.


Ia memasukkan anak kunci ke dalam lubang, memutarnya dengan hati-hati. Semuanya terjadi dengan begitu cepat sampai ia merasa pundaknya disentuh oleh seseorang. Sebilah belati menempel di punggungnya.


“Jangan coba-coba kabur!” bisik sosok itu dengan tatapan marah.


Sekujur tubuh Nayya serasa lemas seketika. Terpaksa ia menyerahkan kunci kepada si sosok yang kini berdiri di depannya. Nayya menahan napas. Ia merasa ada yang hendak meledak di dadanya. Perasaannya bercampur aduk. Ia kesal terhadap dirinya sendiri yang gagal lolos dari ruangan itu, padahal kesempatan sudah di depan mata.


“Tidak semudah itu kabur dari aku, Nayya!”


“ Dasar bedebah! Polisi akan meringkusmu! Kamu akan membusuk dalam penjara!”


Nayya tak mampu menahan emosinya lagi. Ia meluapkan emosi yang mulai memuncak. Sayangnya, sosok itu seolah tak peduli. Ia hanya bergeming dan menyeringai.


“Mereka juga tak akan mudah menangkapku, Nayya. Akan kubuat semua jadi rumit. Mungkin besok pagi, mereka akan menemukan mayat baru. Seseorang yang berbeda dari sebelumnya. Mereka pikir pembunuhan ini hanya berlaku untuk para gadis. Tetapi lihat saja! Aku akan memberikan kejutan berbeda. Akan ada korban baru yang tak seperti sangkaan mereka. Aku akan buat mereka berpikir keras!” ucap sosok itu.


“Kamu gila! Kamu sudah gila!” pekik Nayya.


“Iya Nayya. Kamu boleh olok aku gila atau apapun. Dunia ini memang nggak adil dan penuh hal-hal gila kan? Aku akan menuntut keadilan itu dengan caraku sendiri!”


Nayya tak berkata apa-apa lagi. Ditatapnya sosok itu dengan penuh kebencian, sementara sosok itu bersiap pergi meninggalkannya.


“Aku akan pergi malam ini! Baik-baiklah di dalam sini, dan jangan coba-coba keluar. Aku akan mempersembahkan korban baru buat para polisi itu. Seorang korban yang tak mereka duga sebelumnya!”


Sosok itu keluar dari ruangan, meninggalkan Nayya sendirian. Tentu saja ia mengunci pintu agar Nayya tak bisa keluar kemana-mana. Hal itu membuat Nayya semakin merasa cemas. Kembali ia pergi ke balkon untuk memeriksa apakah ada peluang untuk kabur dari tempat itu. Namun, sepertinya tak ada. Ia terperangkap di dalam ruangan yang menjulang ratusan kaki dari permukaan tanah.


***


“Jangan cemas, kamu akan baik-baik saja. Ya, aku tahu siapa pun pasti akan panik ketika mendapat ancaman pembunuhan. Kamu tenang saja, aku akan melindungi kamu, karena memang sudah tugasku. Jangan remehkan aku! Walaupun aku perempuan, aku adalah penembak terbaik di kepolisian.”


Fani mulai mengoceh, sedangkan Gerry masih tampak gelisah. Kali ini mereka melewati sebuah kawasan sepi dengan deretan pepohonan di kanan-kiri jalan. Tak heran, kawasan ini cukup rawan dengan tindak kejahatan karena selain sepi, agak jauh pula dengan kawasan permukiman penduduk. Lampu jalan juga sebagian mati, sehingga menambah kesenyapan tempat itu.


“Aku selalu kesal apabila lewat jalan ini! Sayangnya kita nggak bisa menghindar karena ini adalah jalur satu-satunya yang menghubungkan wilayah tengah dan timur. Sebenernya bisa saja kita lewat jalan pintas, melalui gang-gang sempit. Namun, akan memakan waktu lama karena aku tidak begitu hapal jalan, serta banyak polisi tidur.”


Tiba-tiba mata Fani memicing. Ia memperhatikan sorot lampu mobil yang begitu terang dari kaca spion mobil. Ia menoleh ke belakang. Dilihatnya sebuah mobil tampak membuntuti dari belakang. Fani memperlambat laju mobil, mempersilakan mobil di belakang untuk mendahului. Sayangnya, ketika mobil Fani melambat, mobil itu ikut melambat. Sehingga, Fani berpikir bahwa mobil di belakang mempunyai niat tidak baik.


“Kurang ajar! Ia tidak tahu dengan siapa berurusan! Ini adalah mobil polisi, masih juga berani bermain-main!” gerutu Fani.


Ia mempercepat mobil, kemudian memarkir mobil di pinggir jalan. Suasana sangat sepi, tak ada satu kendaraan pun melintas. Mobil yang membuntuti itu tampak sudah diparkir agak jauh di belakang. Gerry semakin panik melihat itu.


“Kamu nggak usah panik. Daerah sini memang terkenal rawan. Mungkin itu anak muda iseng yang sedang mabuk. Biar aku saja yang hadapi!” ucap Fani.


Mobil yang membuntuti itu diparkir beberapa puluh meter di belakang mobil Fani. Sementara polisi wanita itu menunggu, apakah penumpangnya turun atau tidak. Ia mengamati mobil dari spion. Namun, setelah menunggu beberapa lama, mobil yang membuntuti itu tetap bergeming. Tak ada seorang pun turun dari mobil. Hal ini membuat Fani merasa gemas. Ia menyiapkan pistol di pinggangnya.


“Kamu tunggu di sini dan jangan keluar kalau tak kusuruh!” perintah Fani.


Fani turun dari mobil dengan waspada, kemudian melangkah dengan penuh percaya diri ke arah mobil yang berhenti tak jauh dari mobilnya. Ia tak dapat melihat pengemudi mobil karena kaca terlalu gelap. Fani mengetuk kaca mobil, menunggu respon dari pengemudi.


“Maaf Pak, saya polisi. Anda sudah menyetir melebihi batas kecepatan. Bisa tolong dibuka kacanya?” ujar Fani.


Sayangnya tak ada sahutan dari dalam mobil. Hal ini membuat Fani penasaran. Ia meraih senter di saku celana, kemudian mengarahkan ke kaca mobil. Sayangnya usaha ini tak banyak membantu. Tetap saja ia tak mendapat respon dari dalam mobil.


Fani menjadi jengkel. Ia membuka pegangan pintu mobil dengan kasar. Rupanya pintu itu tidak dikunci. Namun, ia terkejut! Mobil itu tidak ada penumpangnya. Seseorang pasti sudah menyelinap keluar saat ia tidak memperhatikan tadi.


Sementara di dalam mobil polisi, Gerry melihat semua itu dengan perasan cemas. Mobil berwarna putih itu terlihat begitu misterius. Tadi terlihat membuntuti, lalu penumpangnya menghilang begitu saja!


***