Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
379. Meringkus Sosok Misterius


Ryan hanya bisa melangkah menembus kegelapan, tanpa alat penerangan apa pun yang ia bawa. Ia sadar bahwa ia mungkin telah tersesat. Ia merasa asing dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Sebenarnya ia hampir menyerah dan putus asa. Ia langsung mendaratkan dirinya di rerumputan, sembari berjongkok. Kemungkinan terburuknya adalah ia tidak bisa kembali ke kastil malam ini juga. Namun, tiba-tiba ia mencium aroma busuk yang menyengat, seperti bau bangkai.


"Aroma bangkai ... ya aku mencium aroma ini sebelumnya. Ini sudah tidak jauh dari kastil!" gumamnya.


Semangat Ryan kembali meledak. Saat ia berangkat ke hutan, ia mencium aroma bangkai ini juga. Ia menduga ini adalah tempat yang sama saat dirinya berangkat. Itu artinya, kastil sudah tak jauh lagi. Ia kembali berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Ia tidak boleh patah semangat.


"Pasti sudah tidak jauh," gumamnya.


Aroma bangkai semakin menguat, membuat dirinya harus menutup hidung erat. Perutnya terasa diaduk, dan isinya siap dikeluarkan. Ia bergegas menjauhi tempat itu, sambil menerobos semak dan rerumputan. Kaki terasa nyeri karena banyak duri dan ranting yang menempel. Namun, ia tak peduli. ia harus mencari jalan menuju kastil.


Namun, kekuatan tetap ada batasnya. Ryan merasakan energinya semakin lemah,apalagi asupan makanan yang masuk ke lambungnya sangat sedikit. Ia tersungkur di dekat sebuah semak lebat. Ia mencoba terlentang, beralaskan daun-daun kering, sambil menatap langit yang gelap. Ia berpikir mungkin ia akan tidur di hutan malam ini.


Langit terhampat tak terbatas, begitu gelap tanpa bintang. Ryan mengatur napas, mengumpulkan sisa-sisa oksigen yang tersisa. Lapar dan haus semakin meremas-remas lambungnya. Ia menoleh ke kiri danke kanan, hanya gelap yang meraja. Tak ada siapa pun di situ, hanya serangga malam dan burung malam yang mendengkur.


Tiba-tiba, di kegelapan malam ia melihat sesuatu seperti jeruji besi yang menempel pada sebuah tebing yang mnejulang beberapa puluh meter dari tempatnya terbaring. Seketika rasa letih Ryan menghilang. Ia perlaha bangkit dan mendekati jeruji besi itu. Ia baru pertama kali melihat jeruji besi di tengah hutan seperti ini. Benaknya segera bertanya-tanya. Jeruji besi ini menuju kemana? Setelah sampai di depan jeruji besi, ia merasa takjub. Ia mencoba membuka pintu jeruji dan ternyata tak dikunci. Di depannya terbentang lorong yang panjang dan gelap!


***


Juned sama sekali tak menyangka kalau pintu yang di depannya itu menutup tiba-tiba. Waktu ia berusaha membuka, ternyata pintu dalam keadaan tak dikunci atau digembok. Daun pintu hanya dibanting begitu saja di depan matanya. Lalu mengapa sosok misterius itu melakukan hal ini kepadanya?


Krieet!


Perlahan Juned membuka pintu bilik sambil menyorotkan senter ke kanan dan ke kiri. Suasana lorong kembali hening. Sosok yang berlari tadi sudah lenyap tak meninggalkan jejak. Perasaan Juned semakin tidak enak. Bisa jadi ia akan disergap dari belakang ketika ia lengah.


"Sepertinya tak aman kalau aku berlama-lama di sini. Aku harus kembali ke Pak Ammar," gumam Juned.


Ia bergegas melangkah meninggalkan bilik itu, menyusur lorong ke arah berlawanan. Keinginanannya untuk menyisir ruang bawah tanah seketika musnah.Jantungnya masih berdegup kencang gara-gara terkejut saat pintu bilik dibanting dengan keras di depan matanya. Ia mempercepat langkah agar segera sampai ke tempat Ammar yang sedang memperbaiki instalasi listrik.


Tiba-tiba, belum jauh ia melangkah menyusur lorong, ia kembali mendengar suara langkah kaki. Juned memasang telinga baik-baik, sambil mengira-ngira darimana datangnya suara itu. Sepertinya tidak jauh, tetapi entah dari cabang lorong sebelah mana. Ia menoleh ke belakang dengan cepat, sambil menyorotkan senter. Ia khawatir sedang diikuti oleh sosok misterius itu.


Sayangnya ia tidak menemukan siapa pun di belakangnya. Ia tidak mau mengambil risiko. Jelas lorong gelap ini bukanlah tempat yang ideal untuk mempertahankan diri apabila ada serangan mendadak. Lagipula ia juga merasa sangat asing berada di tempat seperti ini. Ia masih harus waspada, sambil memikirkan langkah apa yang harus dilakukan apabila diserang secara tiba-tiba.


Langkah kaki itu terdengar makin dekat. Juned merasakan ketegangan yang luar biasa.  Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah pintu bilik yang terbuka sedikit di antara bilik-bilik yang pintunya tertutup.Tak mau berlama-lama, ia segera masuk ke dalam bilik itu dan menutup pintunya. Dari jeruji kecil yang ada di pintu bilik, ia bisa melihat siapa yang melangkah mendekat. Namun, lampu senter harus dimatikan agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Perasaannya tak menentu. Detak jantungnya berpacu cepat. Suara langkah itu terdengar makin dekat, hingga Juned melihat sosok hitam yang melewati bilik tempat ia sembunyi. Hanya saja karena gelap, tidak jelas siapa sosok itu sebenarnya. Juned memberanikan diri untuk menguntit siapa sosok mencurigakan itu. Secara perlahan, ia membuka pintu bilik agar tak terdengar oleh sosok mencurigakan itu.


"Astaga! Apa yang kau lakukan di sini!" geram Juned ketika mengetahui paras sosok yang baru saja ia ringkus.


***


Ammar masih berkonsentrasi dengan seperangkat instalasi yang ada di depannya. Jelas hal itu membutuhkan ketelitian dan konsentrasi yang tinggi. Ia sudah mengutak-atik jaringan listrik itu, tetapi belum ada tanda-tanda akan selesai. Keringat sebesar biji jagung mulai menetes di kening, sehingga ia mengusapnya. Sesaat kemudian, ia menggeleng-gelengkan kepala.


"Sekeringnya sengaja dirusak," gumamnya.


Ia berpikir, bahwa lampu tak akan menyala dalam waktu dekat. Harus mendatangkan teknisi yang membawa suku cadang untuk memperbaiki sistem jaringan listrik di bawah tanah. Ia berpikir, sia-sia saja apabila memaksakan untuk memperbaiki. Sejenak kemudian, ia teringat akan Juned. Mengapa ia belum kembali juga?  Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat ujung lorong yang agak terang karena pantulan lampu yang ia gunakan untuk penerangan.


Tiba-tiba, ia melihat sosok bayangan hitam yang di ujung lorong yang gerak-geriknya mencurigakan. Ammar memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas. Namun, jarak yang cukup jauh, membuat Ammar tak dapat memastikan siapa sebenarnya yang berada di ujung lorong.


"Juned!" panggil Ammar.


Rupanya sosok berpakaian hitam itu juga tak sadar kalau gerak-geriknya diawasi oleh Ammar. Ia tampak kaget, kemudian bergegas menghilang ditelan kegelapan malam. Tentu saja hal itu membuat Ammar makin curiga. Ia mengambil pistol di pinggangnya kemudian melangkah perlahan menuju ujung lorong. Ia khawatir telah terjadi apa-apa dengan Juned. Ia harus mencari Juned segera, jangan sampai korban jatuh kembali.


***


Semua masih terdiam mendengar penjelasan Dimas. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau ada korban lain yang tewas selain kawan-kawan mereka. Tadi, Dimas sempat menyebutkan nama Kara yang dilempar dari atas loteng. Mereka baru saja tahu bahwa tentang kejadian itu.


"Kara tewas karena benturan keras di kepala. Anehnya, si pembunuh itu sengaja mengganti baju Kara dengan baju Rosita, sehingga awalnya jasad Kara ini disangka sebegai Rosita. Padahal faktanya Rosita sendiri ditemukan dalam keadaan tak berbusana dalam sebuah kardus," lanjut Dimas.


"Aku tak pernah mendengar nama Kara," gumam Rosita.


"Malam semakin larut, sedangkan lampu masih belum menyala juga. Apakah di sini ada yang bersedia membuatkan teh untuk kita semua? Tak apa lah kita melewatkan makan malam kali ini, yang penting tubuh kita sedikit hangat. Aku akan bacakan analisisku, sambil minum teh. Bukanlah itu jauh lebih nyaman? Jadi siapa yang akan buat teh?" tawar Dimas.


Sejenak mereka semua terdiam, sampai kemudian Lily berdiri sambil berkata," Biar aku saja yang buat teh!"


"Tidak, Lily! Kau tidak boleh kemana-mana. Biar Edwin saja yang membuat teh, ditemani oleh Pak Reno. Kau bersedia Edwin?" tanya Dimas.


"Tentu saja!"


***