
Semua masih terpana dengan kejadian yang terjadi secara cepat di depan mata mereka. Bahkan saking takjubnya, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Rudi menggelepar di rerumputan dengan mulut mengeluarkan busa, sementara Lena tampak berdiri dengan ketakutan dan cemas, sambil tangannya masih menggenggam sebotol air.
“Aku akan panggil ambulans!”
Untunglah, Dimas segera sigap melihat kejadian itu. Sementara Ferdy dan Alex memegangi Rudi agar tidak bergerak kemana-mana. Para gadis tak kuasa menahan tangis, bahkan Rasty terlihat terpukul melihat Rudi dengan keadaan seperti itu.
“Jaga dia agar tetap hidup! Jangan sampai kehilangan dia!”
Dimas memerintah, sementara dia mengeluarakan ponsel untuk menghubungi ambulans. Paras semua penghuni rumah isolasi itu terlihat cemas. Mereka tidak menyangka ada racun di botol minuman yang dibawa Lena.
“Sumpah! Bukan aku yang melakukannya!”
Lena terlihat paling takut daripada yang lain. Ia berusaha membela diri, tetapi sepertinya tidak ada yang mau peduli dengan ucapannya. Mereka lebih fokus dengan keadaan Rudi saat itu. Pria muda itu sekarang kelihatan lebih tenang dan tak bergerak-gerak. Dadanya masih naik-turun, menandakan bahwa dia masih hidup.
Sementara, Gilda yang melihat kejadian itu juga merasa bergidik ngeri. Dalam hati, ia menyesal karena tidak membawa kamera karena kejadian ini bisa direkam. Kejadian menarik ini akan menjadi berita yang sangat faktual. Ia hanya terdiam, sambil menutup mulutnya. Ia baru menyadari, betapa mengerikannya tinggal serumah dengan seorang pembunuh. Nyawa bisa terancam kapan saja, di mana saja, bahkan tak kenal waktu.
“Petugas medis akan datang setengah jam lagi. Pak Paiman, tolong bersiap ke depan! Aku akan menjaga Rudi di sini. Yang lain, jangan ada yang pergi ke mana-mana. Aku akan usut kasus ini sekarang juga. Pembunuh ini sudah membuatku sangat marah!” geram Dimas.
Semua terdiam mendengar Dimas yang terlihat marah seperti itu. Sementara, Pak Paiman segera pergi ke depan untuk bersiap ke gerbang depan, dan mengarahakan kalau-kalau petugas medis tiba di rumah isolasi. Polisi muda itu terlihat mondar-mandir sambil memegang dahunya, tanda ia sedang berpikir keras. Kejadian di depan mata ini seolah melecehkan profesinya sebagai penegak hukum.
“Setelah ini aku ingin tahu dari mana air-air ini berasal. Jangan dibuang dulu! Aku akan menguji air dengan tes laboratorium untuk mengetahui racun apa yang ada di dalam air ini. Bagaimana bisa ada racun dalam botol air ini? Ini sungguh licik dan jahat, karena pembunuh itu sekarang bermain secara diam-diam,” ucap Dimas.
Semua masih terdiam mendengar perkataan Dimas. Mereka saling berpandangan, seolah saling menuduh, siapa di antara mereka yang membubuhkan racun dalam botol-botol air itu? Bagaimana bisa?
“Siapa yang menyiapkan air ini?” tanya Dimas.
“Tadi pagi, air-air ini sudah disiapkan, dan disusun rapi di meja dapur. Aku pikir Bu Mariyati yang sudah menyiapkan air-air ini, jadi aku ambil begitu saja,” ucap Adinda.
“Iya, sama. Kami hanya mengambil air-air ini di atas meja, nggak ada pikiran macam-macam.”
Lena menambahkan. Saat ini semua mata tertuju padanya, seolah dia lah yang betanggungjawab atas kejadian yang menimpa Rudi. Saat ini Adi terbaring lemah, kepalanya menumpu di pangkuan Rasty. Bagaimanapun, gadis itu masih sayang kepada Rudi. Ia yang paling terpukul dengan kejadian barusan. Air matanya spontan mengalir di pipinya yang bersemu merah.
“Bu Mariyati tidak mungkin membubuhkan racun ke dalam botol minuman ini. Pasti ada yang menyelinap ke dapur untuk membubuhkan sesuatu. Ini sudah luar biasa kurang ajar. Aku berjanji akan menangkap pelakunya sendiri. Jadi siapa pun kalian yang saat ini berpura-pura tidak bersalah, kamu jangan bangga dulu, karena setelah ini aku akan membekukmu dengan caraku sendiri!
Dimas mengancam dengan masih diliputi rasa marah. Semua yang ada di situ menunduk, tak berani manatap mata Dimas. Mereka tahu, ancaman itu bukan main-main.
Sementara, Gilda mendekati Dimas perlahan.
“Aku ... aku boleh ambil kamera nggak untuk meliput ini?” tanya Gilda ragu-ragu.
“Gilda! Bisa nggak kamu pakai nuranimu sedikit saja? Saat ini ada seseorang yang hampir kehilangan nyawa dan kamu masih berpkir tentang acara TV sialan mu itu! Kamu tidak kemana-mana, kamu di sini saja!” ucap Dimas dengan tegas.
“Tapi aku hanya .... “
“Tidak Gilda! Aku nggak mau berdebat denganmu. Tapi jika kamu masih terus memaksa, mending kamu minum air sisa dari Rudi itu, dan silakan ambil gambar dirimu sendiri. Biar kamu merasakan langsung, dan berita yang kamu liput akan lebih aktual. Kamu mau seperti itu?”
“Astaga! Kamu pengen aku mati, Dim?” tanya Gilda.
“Aku tidak bilang begitu, Gilda. Tapi aku hanya ingin kamu merasakan sendiri jika kamu yang mengalami hal yang sama, agar tumbuh empati di hatimu yang hanya memikirkan materi, materi, dan materi. Cobalah jadi manusia, sebentar saja!” ucap Dimas.
Ucapan Dimas tadi begitu menohok. Gilda hanya bisa terdiam, menahan rasa kesal. Ia menyilangkan kedua tangan di dada. Ia tidak mau berkata apa-apa lagi.
“Kalau begitu ... tidak ada gunanya aku di tempat ini kalau tidak bisa meliput!”
Pada akhirnya Gilda merasa gusar dengan keputusan Dimas. Ia berjalan pergi meninggalkan rombongan kecil itu, menuju rumah isolasi. Dimas membiarkan saja wanita muda yang sedang merajuk itu pergi, tak berniat untuk menyuruhnya kembali. Ia tak peduli dengan apa pun yang dilakukan Gilda, tetapi lebih fokus dengan yang terjadi sekarang di hadapannya.
Beberapa saat kemudian, mereka mendengar raungan sirene ambulans di kejauhan. Dimas mengembuskan napas lega, karena ia merasa tidak sabar dari tadi. Kondisi Rudi semakin lemah. Dimas khawatir kalau anak muda itu tidak akan bertahan lama. Ia segera memerintahkan semua untuk bersiap membawa Rudi apabila petugas paramedis sudah tiba.
Beberapa saat kemudian, dua orang paramedis tiba beserta Pak Paiman. Ia membawa sebuah tandu untuk mengusung Rudi yang sedang meregang nyawa. Dimas membantu seperlunya, agar proses evakuasi itu berjalan cepat.
“Dia masih hidup kan?” tanya Rasty dengan cemas.
“Dia masih hidup. Petugas paramedis akan segera membawanya ke rumah sakit. Semoga dia masih bisa diselamatkan,” ucap Dimas.
Rasty mengangguk. Kedua paramedis itu bertindak cepat. Mereka segera menaikkan Rudi ke atas tandu, kemudian menggotongnya secara hati-hati. Jalan yang dipenuhi belukar dan ilalang menjadi tantangan tersendiri proses evakuasi itu. Namun, karena sudah berpengalaman dan terampil, mereka dengan cepat membawa Rudi.
“Apakah aku boleh mengantar hingga ke mobil?” tanya Rasty.
“Ya, aku juga akan mengantar ke mobil ambulans. Yang lain kembali saja ke rumah. Kita tidak bisa lanjutkan kegiatan hari ini. Mungkin besok atau lusa bisa kita lanjutkan lagi, saat ini kejadian buruk menimpa kita sehingga kita harus fokus ke hal ini dahulu. Kalian kembali saja ke kamar, tak perlu mengantar Rudi hingga ke mobil, Biar aku dan Rasty saja yang mengantar. Pak Paiman, antar anak-anak ini kembali ke rumah!”
Mereka mengangguk tanda mengerti. Dimas dan Rasty bergegas menyusul paramedis itu ke depan, untuk mengantar Rudi hingga ke mobil ambulans yang diparkir di dekat jalan raya. Sementara, penghuni lain mengikuti langkah Pak Paiman untuk kembali ke rumah isolasi. Kejadian ini membuat mereka sangat terpukul, dan rasa takut semakin merayap.
***
Di dalam rumah isolasi, tepatnya di balkon lantai dua, Badi merasa kesal karena dikunci oleh Wandi, sehingga ia tidak bisa kemana-mana. Sementara, ia menengok ke bawah, tetapi terlalu tinggi untuk meloncat ke sana. Ia tidak mau mati konyol terjun bebas dari atas balkon.
Ia kembali ke arah pintu geser yang menguncinya di dalam balkon. Ia tidak bisa membukanya secara paksa, karena sistem kunci pintu ini berbeda dengan sistem kebanyakan yang pernah ia lihat. Ia hanya pasrah berada di tempat itu untuk beberapa lama. Yah, mungkin ia harus berhadapan dengan Dimas dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Greeek!
Tiba-tiba pintu geser terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam balkon. Ia sangat terkejut melihat kehadiran orang asing di balkon tersebut. Ia hampir menjerit, sehingga ia tutup mulutnya sendiri.
“Si-siapa kamu?” tanya Bu Mariyati yang baru saja masuk ke dalam balkon sambil bersikap waspada.
Di jam seperti ini, biasanya ia menyapu lantai balkon yang kotor karena banyak daun kering berserakan di sana. Ia sama sekali tak menduga ada orang asing di balkon tersebut.
“Tenang ... tenang, Bu! Aku tidak bermaksud jahat. Aku sedang mencari seseorang di sini, tetapi kemudian terkunci di sini. Ibu nggak usah takut kepada saya ya. Lanjutkan saja pekerjaan Ibu, dan saya akan pergi dari balkon ini,” ucap Badi.
“Tunggu! Aku tidak kenal siapa dirimu. Berarti kamu masuk ke dalam rumah ini secara diam-diam. Orang yang masuk diam-diam biasanya bermaksud tidak baik. Jadi siapa sebenarnya yang kamu cari?”
“Maaf, Bu. Saya tidak bisa memberitahu Anda. Saya terburu-buru dan tidak banyak waktu, saya harus segera pergi dari tempat ini,” kata Badi.
“Kamu nggak bisa pergi begitu saja. Di bawah sedang ada kejadian. Salah satu dari penghuni rumah ini iracuni, dan saya sarankan kamu nggak usah menampakkan diri karena akan menimbulkan kepanikan. Jadi lebih baik aku menguncimu lagi di sini!” ucap Bu Mariyati.
“Tidak Bu! Aku tidak mau berada di sini! Aku harus keluar!”
“Aku tidak mengizinkanmu!”
Bu Mariyati tetap kukuh pada pendiriannya, sehingga membuat Badi merasa geram. Sayangnya, yang di hadapannya sekarang adalah seorang wanita paruh baya. Di atas kertas, tentu akan sangat mudah dia lumpuhkan. Namun, ia tidak mau bertindak bodoh. Upaya untuk membujuk perempuan itu tidak membuahkan hasil. Terpaksa, ia harus mengambil langkah darurat.
“Maaf Bu! Saya harus pergi!”
Badi melangkah dengan gerakan cepat ke arah pintu. Bu Mariyati yang berusaha menghalangi ia dorong ke samping, sehingga wanita itu terjatuh. Badi tidak ingin kehadirannya diketahui yang lain.
Sesampai ia di luar balkon, ia mengunci pintu geser, sehingga kini posisi Bu Mariyati yang terkunci di dalam balkon!
***
Bukan hanya Rasty yang terpukul, Lena juga masih terlihat cemas karena faktanya, Rudi memang terkapar setelah minum air dari botolnya. Ia khawatir akan dipersalahkan, karena seingatnya ia hanya mengambil air yang ada di dapur. Ia tidak pernah menduga kalau air itu mengandung racun atau sejenisnya.
Adinda masuk ke dalam kamar Lena untuk menemani. Ia melihat paras Lena yang masih terlihat takut.
“Bukan aku yang melakukannya. Sungguh!” ucap Lena.
Adinda hanya mengangguk. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun karena ia juga bingung harus berkata apa. Ia juga tidak berani menyimpulkan bahwa Lena ini berbohong atau tidak. Semua bisa saja terjadi. Ia tidak mau terpengaruh dengan paras Lena yang tampak sedih.
“Jadi menurutmu Bu Mariyati pelakunya?” tanya Adinda kemudian.
“Entahlah. Aku tidak bisa menuduh siapa-siapa, dan aku nggak peduli. Kamu tahu Din, aku juga suka sama Rudi. Tidak mungkin aku melakukan itu pada Rudi,” ucap Lena.
“Kurasa itu bukan alasan, Lena. Pada kenyataannya banyak orang yang saling cinta pada akhirnya berubah saling membunuh,” kata Adinda.
“Jadi ... jadi kamu nggak percaya kepadaku kalau aku bukan yang orang yang menaruh racun di minuman Rudi?” tanya Lena.
“Maaf Lena. Untuk saat ini aku tak boleh percaya pada siapa pun. Kejadian yang baru saja terjadi seolah pengingat buat aku bahwa kita nggak boleh percaya siapa pun. Orang yang kelihatannya sangat baik dan dekat dengan kita, bisa jadi dia memiliki sisi lain sebagai seorang pembunuh berantai. Aku nggak mau seperti itu. Dan sepertinya, kamu seharusnya juga tak terlalu percaya padaku,” ucap Adinda.
Lena hanya mengangguk, berusaha memahami apa yang dikatakan Adinda. Ia tidak ingin membela diri lagi. Apa yang diucapkan Adinda tadi benar, untuk saat ini lebih baik tidak percaya pada siapa pun, karena semua berpeluang untuk menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan ini.
“Jadi ... mereka akan membawa Rudi ke Rumah Sakit?” tanya Lena.
“Iya. Rudi akan dirawat secara intensif agar bisa segera pulih dari racun yang masuk ke dalam tubuhnya. Aku tak habis pikir, ternyata ada di antara kita yang berbekal racun, sehingga ia bisa membubuhkan pada makanan atau minuman yang kita konsumsi. Kita harus lebih berhati-hati,” ucap Adinda.
“Kalau menurutku, ini memang sudah direncanakan oleh pembunuhnya. Ia memang mengincar Rudi. Kamu ingat tadi saat Gilda minum dari botol milik Rasty? Wanita itu baik-baik saja karena airnya memang tidak terkontaminasi racun. Hanya satu botol air saja yang dibubuhi racun. Rencana ini sudah diperhitungkan,” ucap Lena.
Adinda tersenyum mendengar penjelasan Lena.
“Kok aku punya pikiran jahat ya? Aku berharap sebaiknya Gilda saja yang minum air beracun itu? Kehadirannya sunggun membuatku merasa nggak nyaman Lagaknya melebihi polisi, dan kadang ia menanyakan hal-hal tak penting. Aku sama sekali nggak suka dengan gayanya!” keluh Adinda.
“Ya aku juga berpikir sama, Din. Kamu lhat sendiri ekspresi wajah Gilda saat Rudi terkapar tak berdaya. Perempuan itu malah sibuk mencari kamera. Aku sungguh jengkel. Kalau saja tak di hadapan Pak Dimas, sudah kuhantam mukanya yang menjengkelkan itu,” ucap Lena.
“Kalau begitu mari kita berdoa, Len,” ujar Adinda.
“Berdoa untuk siapa?”
“Berdoa untuk Gilda, semoga setelah ini dia yang akan menjadi korban selanjutnya. Setuju?”
Adinda tersenyum, kemudian disambut dengan anggukan Lena. Mereka setuju kalau Gilda perlu dilenyapkan dari rumah isolasi ini.
***