Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
348. Pria Tergorok


Reno berdiri di depan sebuah bilik yang terbuka lebar. Di dalamnya, ia melihat seorang pria yang tangannya diborgol, dalam keadaan tergantung, dan kepalanya terkulai. Sementara, darah mengalir dari lehernya, membasahi dada dan sekujur bajunya. Reno tak membuang waktu berlama-lama, ia segera memeriksa kondisi pria yang tergantung itu. Ia mengenali pria itu sebagai Aditya, yang dikabarkan menghilang setelah turun ke bawah tanah bersama Jeremy. Segera saja Reno memeriksa bagian leher Aditya, ternyata ada bekas sayatan seperti digorok. Darah mengucur tiada henti. Pria ini terkulai, meregang nyawa, bagai hewan ternak yang baru saja disembelih.


"Biadab!" gumam Reno.


Baju Reno juga basah terpercik darah Aditya. Ia berusaha untuk tenang, karena di bawah tanah itu ia hanya sendirian. Waktu juga sudah merapat menuju ke dini hari. Satu-satunya yang bisa dimintai pertolongan adalah Ammar atau Juned, yang kini masih bersiaga di atas. Untuk menyelamatkan nyawa Aditya sepertinya mustahil, mengingat darah sudah banyak yang mengucur, sedangkan tempat ini sangat jauh dengan rumah sakit atau pusat kesehatan. Pria ini juga sudah tak bergerak lagi. Sudah dapat dipastikan bahwa nyawa Adit tidak tertolong lagi.


Reno menahan napas. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang datang terlambat ke tempat itu. Namun, ia memang sama sekali tak menyangka kalau ada peristiwa ini. Pantas saja ia tadi mendengar langkah kaki menjauh dari lorong. Reno tidak mau lagi terlalu menyalahkan dirinya. Segera ia keluar bilik, menuju ke bagian atas kastil melewati lorong di ruang baca, tempat ia masuk tadi. Ia berharap pintu rahasia itu masih terbuka. Jangan sampai ia pun terkurung di dalam ruang bawah tanah. Ia tahu, saat ini si pembunuh saat ini tengah berlari ke atas, melewati tingkap dekat bagian dapur.


Untunglah, ia masih melihat seberkas cahaya di ujung lorong. Itu artinya dinding rahasia itu masih terbuka, dan langsung terhubung dengan ruang baca. Setengah berlari ia mendekati ruang baca, tetapi ketika ia menuju ke sana, tiba-tiba dinding itu tertutup perlahan.


"Jangaaan!"


Reno spontan berteriak, sebab apabila dinding itu menutup, maka ia akan terkurung di dalam ruang bawah tanah. Itu artinya, kecil kemungkinan ia akan keluar dalam waktu dekat. Ruang bawah tanah bukan tempat yang sering dikunjungi oleh penghuni kastil. Perlahan, dinding itu bergeser, sehingga Reno harus memacu langkahnya, agar bisa mengejar dinding itu.


Situasinya genting. Sebentar lagi dinding itu menutup, tetapi Reno sudah sampai di sana, dan menahan laju pergerakan dinding dengan tubuhnya. Kini, ia terjepit di antara dinding, tetapi dengan cepat ia meloloskan diri dari jepitan dinding dengan cara melemparkan tubuhnya ke samping,  ke lantai ruang baca. Benar saja, ia sempat melihat sosok hitam berlari keluar dari ruang baca. Rupanya ia yang menarik tuas, sehingga dinding itu menutup.


"Jangan lari kau bangs*at!" pekik Reno.


Ia bangkit, hendak mengejar sosok itu, setengah berlari ke keluar dari ruang baca, tetapi ketika ia sudah sampai di depan pintu ruang baca, ia mendapati sosok itu sudah tak terlihat. Reno hanya menghela napas. Untuk sementara ia harus abaikan sosok itu, dan lebih fokus untuk mengurus Aditya yang sudah dalam keadaan tewas di bawah sana. Mencari sosok itu di kastil yang luas ini tentu membutuhkan waktu yang lama, dan dia pun hanya sendirian.


Dari arah dapur, tiba-tiba ia melihat Juned berlari tergopoh-gopoh menghampiri Reno. Rupanya ia sempat mendengar teriakan Reno di ruang baca, sehingga ia langsung bergerak ke sana. Ia tampak heran melihat Reno berada di depan ruang baca dengan paras bingung.


"Ada apa, Pak? Saya tadi sedang berada di belakang, tiba-tiba denger ada teriakan makanya saya ke sini," tanya Juned.


"Aku melihat sosok hitam itu berlari menuju ke ruang tengah, tetapi sekarang sudah menghilang. Ia hendak mengurungku di dalam ruang bawah tanah. Tapi untung aku bergerak cepat. Pintu rahasia ini harus segera diamankan, jangan sampai dia menguasainya. Ngomong-ngomong, kita akan bekerja keras malam ini. Ada kejadian buruk di bawah sana!" ucap Reno.


"Astaga! Aku nggak lihat kalau ada orang lain di sekitar sini, Pak. Tadi saya pas jaga di luar, juga tidak melihat apa pun.  Memangnya ada apa di ruang bawah tanah, Pak?" tanya Juned.


"Aku nggak bisa cerita sekarang, Juned. Sekarang kita harus turun dan mengevakuasi seseorang yang terluka di sana. Namun aku khawatir, akan terjadi hal buruk di dalam kastil, sementara kita tinggal ke bawah. Baiknya kita minta Bang Ammar dulu untuk bersiaga di atas, sedangkan kita turun untuk mengurus yang ada di sana!" ucap Reno.


"Baik, Pak. Saya mah ngikut aja!"


Tanpa membuang waktu. Reno segera bergerak cepat. Hal pertama yang ia lakukan adalah memberi informasi kepada Ammar tentang kejadian yang baru saja ia alami. Saat itu, Ammar memang sedang beristirahat di kamar bersama Mariah. Namun, karena ini mendesak, Reno mengetuk pintu kamar Reno dengan keras. Ia menceritakan kronologis kejadian, begitu Ammar keluar.


Tentu saja, berita mengejutkan itu segera ditanggapi serius. Ammar masuk kembali ke kamar untuk menyiapkan senjata dan jaket. Ia akan berjaga-jaga di kastil, sedangkan Reno dan Juned yang akan turun ke ruang bawah tanah. Dilihatnya Mariah terlihat lelap tertidur. Ia tidak mau membangunkannya, jadi ia segera keluar dan bersiap-siaga.


Reno dan Juned masuk ke dalam ruang bawah tanah melalui pintu rahasia di ruang baca, karena memang lebih dekat dari tempat itu. Untuk menghindari seseorang menutup pintu rahasia, Reno sengaja mengunci pintu ruang baca dari dalam, sehingga tidak ada yang masuk ke situ. Juned tampak takjub melihat pintu rahasia itu terbuka, memperlihatkan sebuah lorong gelap yang panjang menuju ruang bawah tanah. Ia kira, hal-hal seperti ini hanya ia temukan dalam film-film, kini ia merasakan sendiri.


"Ayo Jun, kita harus segera memindahkan jasad itu sebelum pagi menjelang. Takutnya nanti malah menimbulkan kepanikan!" ajak Reno.


"Siap Pak!"


Mereka telah sampai di bilik tempat Aditya meregang nyawa. Pria itu sudah tak bergerak-gerak, dan dapat dipastikan ia telah tewas. Juned hanya bisa menahan napas melihat pemandangan mengerikan itu. Awalnya mereka agak kesulitan bagaimana memindahkan jasad Aditya, karena kedua tangan Adit dalam keadaan diborgol, dan mereka tak punya kunci borgol. Namun, mereka melihat kalau borgol itu digantung pada sebuah tali di atas langit-langit, jadi mereka bisa memotong tali tersebut,  tanpa perlu membuka kunci borgol.


"Kita putus saja tali itu!" ucap Reno.


Juned mengangguk.  Ia naik ke atas sebuah kursi yang ada di bilik itu, kemudian memotong tali yang mengaitkan borgol. Untunglah, selalu sedia pisau kecil, sehingga kalau ada apa-apa ia bisa mengatasi masalah dengan mudah. Kini jasad Aditya sudah berada di bawah, dan Reno memeganginya.


"Bagaimana ini, Pak? Kita pindahkan ke mana jasad ini?" tanya Juned.


"Seperti biasa, Jun. Untuk sementara kita simpan di salah satu bilik yang ada di sini, sambil menunggu paramedis datang dari kota. Kebetulan Mariah hari ini berencana pergi ke kota untuk berbelanja keperluan dapur, nanti akan kumintai tolong untuk mampir ke kepolisian dan memberitahu agar segera ke kastil," kata Reno.


Juned tiba-tiba merasa sedih. Entah ini keberapa kalinya paramedis bolak-balik ke kastil, karena selalu ada mayat yang harus dievakuasi. Juned berharap ini adalah mayat terakhir yang dievakuasi. Menit itu juga, mereka segera bertindak cepat, menggotong jasad Aditya ke sebuah bilik yang pintunya tidak digembok. Untunglah , tak jauh dari tempat itu ada sebuah bilik yang pintunya tak terkunci. Mereka memasukkan jasad Aditya ke dalam bilik tersebut.


"Kita tandai biliknya, agar mudah mencari!" perintah Reno.


"Jangan khawatir, Pak, Saya bisa mengingat dengan baik," jawab Juned.


"Jangan mengambil risiko, Jun. Nanti jangan-jangan ketika tim paramedis ke sini, kita masih mencari-cari biliknya. Lebih baik kita antisipasi dengan memberi tanda bilik ini," saran Reno.


"Baik, Pak!"


"Bilik ke tujuh Pak! Bilik ke tujuh dari persimpangan lorong itu. Jangan khawatir, tidak akan lupa kok!"


Untuk lebih meyakinkan, Juned menggoreskan pisau lipatnya di pintu baja, dengan membentuk angka 7. Namun, pintu baja itu tentu saja sulit untuk digores, sehingga tak ada pilihan lain, kecuali menghitung nomor urutan bilik dari percabangan lorong. Ia yakin, tidak akan lupa dengan nomor urutan bilik itu.


***


Ammar berjaga di dalam kastil, mondar-mandir dari lantai bawah ke lantai atas, memastikan bahwa situasi benar-benar aman. Memang, kalau dilihat, kastil ini begitu tenang, seolah tak terjadi apa pun. Namun, sebenarnya kastil ini menyimpan suatu kejahatan yang mungkin tak terbayangkan. Dalam kastil yang luas ini, menyimpan banyak kasus kejahatan, sejak berpuluh tahun lalu, dan berlanjut hingga sekarang. Tak terhitung jumlah nyawa melayang di kastil tua ini, sehingga aura yang ada di kastil ini juga senantiasa negatif.


Ammar berjalan penuh waspada di sepanjang koridor lantai dua. dari lantai tersebut, ia bisa melihat ke bawah di lantai satu, tepatnya di ruang makan. Ia merasa malam itu tidak ada yang janggal. Semua berjalan sesuai mestinya. Para penghuni seperti terlelap dibuai mimpi. Walaupun begitu, Ammar berusaha untuk tetap menajamkan segala indera yang ia punya. Sosok hitam yang dilihat Reno menghilang entah kemana, dan Ammar berasumsi bahwa sosok itu sudah berganti peran.


Sementara, di kamar Ammar, Mariah rupanya terbangun dari tidurnya. Ia merasa heran tak mendapati Ammar di sampingnya, sehingga ia keluar dari kamar untuk memeriksa. Ia mengenakan jaket rajutnya, kemudian melihat situasi di luar kamar yang senyap. ia melihat jam dinding yang jarumnya merapat di angka 3. Ia heran, kemana suaminya dini hari begini?


Mariah menyusuri lorong kamar yang agak gelap. Tujuan utamanya adalah dapur, karena ia merasa sedikit gerah malam itu. Walau udara dingin merejam kulit, ia merasa sangat haus. Ia berjalan agak malas menuju dapur, tetapi tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara aneh dari kamar Lily. Ia menduga bahwa Lily belum tidur, sehingga kamarnya terdengar agak ribut. Mariah ingin memeriksa, apakah dia dalam keadaan baik-baik saja. Ia urungkan niatnya pergi ke dapur, dan mengetuk pintu kamar Lily.


"Tok ... tok ... tok!


"Siapa?" tanya Lily dari dalam ruangannya.


Mariah jelas sekali mendengar dari nada suara Lily, sepertinya wanita itu dalam keadaan ketakutan. Mariah merasa heran. Ia berpikir, pasti ada kejadian buruk yang menimpa Lily. Ia mendengar seperti suara benda berat diseret-seret dalam ruangan itu.


"Ly, buka pintunya. Ini aku Mariah. Kamu nggak apa-apa?" tanya Mariah.


Pintu kamar Lily terbuka sedikit, terlihat wajah Lily muncul dari balik pintu kamarnya, dengan paras ketakutan. Ia menengok ke kiri dan ke kanan untuk melihat keadaan.


"Ada apa, Ly? Kamu kok kelihatan ketakutan banget," tanya Mariah.


"Mana sosok hitam itu ... mana? Apa kamu lihat juga, Mariah? Aku ... aku tidak sengaja melihat sosok itu sedang mengendap dekat ruang baca, saat aku hendak ke dapur. Tak disangka dia juga melihatku ... dia ... dia berlari ke arahku sambil memegang pisau di tangannya yang penuh darah. Aku ketakutan setengah mati, lalu segera berlari masuk kamar, sambil kuseret kursi untuk mengganjal pintu. Aku takut banget, Mariah!" ucap Lily dengan terengah-engah.


"Aku tidak melihat siapa-siapa, Lily. Dari tadi aku tak melihat siapa pun. Aku tadi mau ke dapur dan mendengar suara barang diseret dalam kamarmu. Mengapa tadi kamu tidak berteriak saja, agar kami bisa ikut juga menyergap sosok itu?" tanya Lily.


"Mulutku seolah terkunci, dan lidahku kelu seketika saking takutnya Mariah. Aku takut banget!"


"Ya udah, sekarang kamu sudah aman kan? Lebih baik kamu kembali ke kamar dan tidur agar besok kamu bisa bangun pagi dalam keadaan segar. Yang penting kamu nggak apa-apa kan? Kunci pintunya ya. Jangan sampai buka pintu kalau ada yang mengetuk," saran Mariah.


"Iya Mariah. Terima kasih!"


Setelah Lily sedikit tenang, ia menutup pintu dan kembali ke dalam kamarnya. Mariah agak cemas mendengar penuturan Lily, Ia melihat ke kanan dan ke kiri, takut kalau-kalau sosok hitam yang dimaksud Lily akan muncul tiba-tiba. Namun, ia merasa semua aman saja. Malahan ia agak mencurigai Lily. Bisa saja wanita itu hanya berakting, seolah ada sosok hitam yang mengejarnya. Mariah hanya menghela napas, meninggalkan kamar Lily, kembali berjalan menuju dapur.


Sesampai di dapur, Mariah membuka pintu kulkas, mengambil segelas air dingin, dan menenggak air itu, sambil melihat arah luar dari arah jendela dapur yang manghadap ke area halaman belakang. Tiba-tiba ia melihat sesosok manusia yang berdiri gelisah di tengah gelap malam, dibawah pohon di halaman belakang. Sejenak kemudian, sosok itu seperti tergesa hendak masuk ke dalam kastil melalui pintu dapur.


"Apa yang dilakukan malam-malam seperti ini di luar?" tanya Mariah dalam hati.


Mengetahui bahwa sosok itu hendak masuk ke dalam dapur, Mariah segera mencari tempat sembunyi. Satu-satunya tempat yang mungkin adalah kolong meja yang cukup lebar. Ia bisa duduk berjongkok di situ, sambil menunggu sosok itu masuk. Jangan-jangan sosok ini yang dilihat Lily, pikir Mariah.


Sosok itu tergesa masuk ke area dapur, bergegas hendak masuk ke area dalam kastil. Mariah segera keluar dari tempat persembunyiannya, segera menegur seseorang yang baru masuk area dapur itu.


"Selamat malam menjelang pagi .... " sapa Mariah.


***