Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
275. He is Back!


Semua mata memandang ke arah sosok berwibawa yang baru datang di ambang pintu. Seorang pria gagah, berkemeja rapi, dan berkacamata hitam, menebar senyum ke semua penghuni rumah isolasi itu. Reno hampir tak percaya dengan siapa yang baru saja datang. Bukankah ini Ammar Marutami? Ia terlihat sehat dan bersemangat pagi itu. Kabar yang terakhir didengar Reno, Ammar Marutami masih dalam proses pemulihan kakinya yang sakit.


"Kamu seperti melihat hantu saja, Ren!" ucap Ammar Marutami sambil tersenyum.


"Aku merasa terhormat dengan kedatanganmu," timpal Reno.


Ia balas tersenyum dan merasa sangat gembira karena Ammar hadir di tempat itu. Siapa pun tak perlu meragukan kepiawaian polisi itu dalam menangani kasus. Ammar dikenal  cepat dan tanggap dalam mengambil keputusan, walau itu sangat membahayakan bagi keselamatannya sendiri. Reno segera bangkit, hendak menolong Ammar untuk duduk bersama mereka. tetapi langsung ditepis oleh Ammar.


"Jangan kamu pikir aku ini orang cacat. Ren. Ya, kakiku memang pernah cedera, tetapi bukan berarti karirku tamat. Aku masih bisa beraktivitas dan menyelidiki kasus seperti kamu. Kamu lihat, aku sekarang di sana tanpa bantuan siapa pun. Aku menyetir mobil sendiri untuk bisa sampai di tempat ini, setelah pihak kepolisian memberitahuku. Aku tak ingin dikasihani, aku sama sehatnya seperti kalian," ucap Ammar sambil berjalan perlahan menuju tempat duduk.


Reno mengangguk. Ia sangat kagum dengan semangat yang dimiliki oleh Ammar. Ia tahu bahwa kaki Ammar masih belum sembuh maksimal, tetapi ia menyempatkan diri untuk datang ke rumah isolasi ini. Tentu, Reno sangat menghargai itu. Sebenarnya, ia merasa sedikit segan berhadapan dengan polisi senior itu.


"Jadi mereka ini yang diisolasi?"


Ammar menebar pandangan ke para penghuni rumah isolasi yang duduk di sekitarnya. Tatapan itu begitu tajam, menebar ancaman seolah Ammar sudah bisa mengenali pembunuh dari tatapan mata. Para penghuni juga heran dengan kedatangan Ammar yang begitu tiba-tiba dan di luar dugaan. Ada sebagian dari mereka yang mencibir kedatangan Ammar. Si pembunuh yang berada di antara mereka sudah membatin terlebih dahulu.


"Cih, mengapa kepolisian mengirim polisi cacat seperti ini? Apa yang bisa dia lakukan? Sebentar saja pasti bisa kulumpuhkan."


Reno memperkenalkan Ammar Marutami kepada para penghuni rumah isolasi, dan mengatakan bahwa kehadiran Ammar di sini adalah untuk membantu penyelidikan kasus pembunuhan ini. rata-rata penghuni senang dengan kedatangan polisi ini, karena akan merasa lebih aman. Namun, ada pula yang terlihat tak senang.


"Bukankah Anda polisi yang ada di kasus kastil tua itu?" tanya Henry Tobing.


"Ya, saya adalah salah satu polisi yang menangani kasus pembunuhan di kastil tua itu. Kalian juga mengikuti kasus itu?"  Ammar Marutami balik bertanya.


"Saya hanya menonton siaran televisi terkait kasus itu, tak terlalu mengikuti juga," jawab Henry.


Selepas berbasa-basi dengan Ammar, semua penghuni dipersilakan beraktivitas bebas, asal tidak keluar dari lingkungan rumah. Sepeninggal para penghuni, Ammar segera menarik Reno ke sebuah ruang yang agak sepi, yaitu ruang baca yang berada di samping beranda utama. Ruang baca itu jarang dikunjungi, karena koleksi buku-bukunya sudah tua dan usang. Kondisinya juga sangat berdebu, sehingga orang yang alergi debu mungkin akan terbatuk dan bersin bila masuk ke ruang baca itu.


"Ada yang harus kusampaikan padamu!" bisik Ammar Marutami.


"Sepertinya penting sekali. Apa itu?" tanya Reno penasaran.


"Aku tadi menganalisis ekspresi para penghuni yang diisolasi di rumah ini. Sepertinya aku mendapati tiga orang yang parasnya cemas dan sepertinya terganggu dengan kehadiranku di sini. Aku bisa membaca dari mata-mata mereka. Ingat, ilmu psikologi mengatakan bahwa mata tak bisa berdusta! Bisa jadi ini menajdi petunjuk penting. Ingat! Aku sudah menangani kasus puluhan kali. Aku dapat membaca ekspresi seseorang apakah dia berbohong, gugup, atau cemas," ucap Ammar Marutami dengan yakin.


"Hmm, mungkin bisa kita jadikan pertimbangan. Siapa saja mereka?" tanya Reno.


"Aku belum tahu nama mereka satu-persatu. Kusebutkan saja letak duduk dan ciri fisiknya saja ya!"


***


Di belakang gedung utama, Gilda mengendap di antara pepohonan berusaha menerobos masuk ke dalam rumah. Matanya menyapu keadaan sekitar, memastikan bahwa semua aman. Ia melihat rumah kecil milik Pak Paiman dan istrinya dalam keadaan tertutup. Ia segera berlari menuju dapur, karena ia melihat satu-satunya akses yang bisa dilewati adalah dapur. Ia bergegas menuju ke sana.


Di dalam dapur, rupanya ada Bu Mariyati yang sedang membersihkan piring sisa-sisa sarapan di wastafel. Bu Mariyati terpekik melihat kehadiran Gilda yang begitu tiba-tiba. Ia agak takut, karena jurnalis itu masuk dengan cara menyusup. Gilda yang tertangkap basah, segera memasang isyarat dengan jarinya agar Bu Mariyati tidak berteriak.


"Ini Mbak Gilda kan? Yang kemarin disekap di gudang?" tanya Bu Mariyati.


"Iya Bu. Bu Mar masih ingat aku kan? Tolong Bu Mar diam saja ya. Jangan bilang-bilang Pak Reno atau siapa pun kalau saya ada di sini ya Bu. Minta tolong ya Bu. Saya nggak bermaksud jahat kok. Saya hanya pengen tahu saja keadaan dalam rumah untuk melengkapi berita yang saya liput. Boleh ya Bu?" pinta Gilda.


"Waduh, Mbak. Nggak berani saya. Pak Reno kan aturannya sudah jelas tidak membolehkan orang lain masuk area sini. Saya nggak berani Mbak. Nanti saya disalahkan dan dimasukkan ke penjara. Pokoknya nggak berani. Saya harus bilang ke Pak Reno!" ucap Bu Mariyati.


"Aduh, jangan dong Bu. Gini aja deh, Ibu pura-pura nggak tahu saja ya kalau saya ada di sini. Nanti kalau ditanya bilang saja nggak tahu. Saya cuma sebentar saja kok. cuma mau ambil foto saja. Boleh ya Bu?"


Bu Mariyati agak bimbang, hampir saja terbujuk dengan ucapan Gilda. Namun, ia menggelengkan kepala sambil melangkah pergi.


"Maaf Mbak, saya nggak berani!"


Gilda merasa jengkel karena Bu Mariyati ternyata keukeuh dengan pendapatnya. Gilda jadi gemas dibuatnya. Entah setan apa yang merasuki, ia mengambil wajan yang berada di atas meja dapur, kemudian memukul kepala Bu Mariyati dengan wajan itu, hingga wanita paruh baya itu jatuh tak sadarkan diri.


"Aduh gimana nih! Moga nggak mati!"


Gilda memeriksa segera napas Bu Mariyati, ternyata ia masih bisa merasaka embusan napas perempuan paruh baya itu Setelah berhasil melumpuhkan Bu Mariyati, ia masuk ke dalam menuju ruangan kamar-kamar yang berderet di situ. Suasana terlihat sepi dan tak ada seorang pun terlihat, sehingga Gilda makin berani untuk masuk. Namun, ia bingung harus kemana, karena kalau ia tetap berada di situ, maka akan tertangkap basah lagi. Ia menyelinap masuk ke dalam sebuah kamar, entah kamar siapa yang ia masuki.


Ia kini berada dalam kamar yang terletak di ujung lorong. Kalau melihat dari barang-barang pribadi yang ada di dalamnya, jelas ini adalah kamar pria. Ia baru sadar kalau kamar yang ada di lantai satu memang dikhususkan buat pria. Ia hendak keluar lagi dari kamar itu, tetapi ia mendengar suara orang bercakap-cakap di luar.


"Aduh gimana ya?" ucapnya dengan bingung.


Gilda takut tertangkap basah lagi, mau tak mau ia harus mencari akal agar tak ketahuan oleh siapa pun. Satu-satunya tempat yang tak terlihat di dalam kamar itu adalah kolong ranjang! Ya, ia akan menyelinap di kolong ranjang.


***