
Malam kembali menyelimuti kota itu. Kegelapan berpadu dengan pendar lampu warna-warni di seluruh penjuru kota. Tak seperti biasanya, kota terasa lebih senyap. Dalam satu bulan terakhir, telah terjadi tiga pembunuhan berantai dengan korban para selebritas. Dunia hiburan berduka. Banyak para artis melakukan solidaritas dengan mengadakan doa bersama yang ditujukan kepadapara artis yang sudah meningga itu. Bahkan ada pemutaran film gratis untuk mengenang almarhum Daniel Prawira.
Namun sejatinya, duka-cita para artis itu hanya sesaat, bahkan sekedar pencitraan agar diliput oleh media. Setelah itu mereka kembali berpesta dan tertawa-tawa penuh kegembiraan menghabiskan malam, seolah kematian rekan-rekan mereka adalah hal biasa. Gaya hidup hedonis dan glamour tetap melekat di kehidupan para selebritas itu, tanpa ada rasa empati pada kehidupan sekitar.
Di sebuah rumah besar yang telah kosong, dua orang perempuan yang terikat dan terplester mulutnya, duduk dalam keadaan sangat lemah, karena dari pagi belum mendapat makanan dan minuman. Beberapa saat kemudian, sesosok manusia tiba di rumah itu, lalu menyodorkan masing-masing sekotak makanan dan sebotol air mineral.
"Aku bukan pembunuh tanpa perasaan yang membiarkan korbannya mati dalam keadaan lapar. Makanlah!" perintah sosok itu.
Setelah berkata seperti itu, sosok misterius itu membuka plester dari mulut mereka. Kedua perempuan itu, Rani dan Niken. tak berkata apa-apa. Sementara sosok itu membuka ikatan pada tangan, tetapi membiarkan kaki dalam keadan terikat.
"Kalian membutuhkan tangan kalian untuk makan, tetapi tidak untuk kaki. Jadi silakan makan agar kalian punya energi. Bukan energi untuk meloloskan diri, tetapi energi untuk tetap hidup dan menyaksikan satu-persatu dari mereka akan mati. Aku suka melihat kematian. Kuharap kalian suka juga melihat caraku membunuh. Besok, akan ada dua lagi yang akan terbunuh. Berita-berita di televisi akan kembali dihebohkan, dan kalian, para polisi akan terus mendapat teror ketakutan, sampai permainan ini akan berakhir," kata sosok itu.
"Kamu akan tertangkap dan akan mati, tak perlu menunggu permainan sampai akhir! "
Niken bergumam lemah. Suaranya terdengar serak karena kurang minum. Kerongkongonnya terasa kering dan panas. Sementara Rani hanya bisa menangis, tak bisa bersuara apa-apa, hanya sesenggukan.
"Aku tidak semudah itu tertangkap, sampai aku terpuaskan dengan kematian para rival dan orang-orang yang bersalah dalam hidupku. Daniel akan menangis dalam kuburnya karena tak menyangka Anita akan menyusul kematiannya secepat itu. Renita juga akan menyesal, sedangkan Ollan hanya tinggal menunggu waktu," sungging sosok itu.
"Kamu biadab! Bunuh aku saja sekalian! Pengecut!"
Tiba-tiba Rani yang sedari tadi diam, memekik juga. Ia terbayang kematian kakaknya yang begitu tragis di depan matanya. Tangisnya mulai pecah, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Tenang saja, gadis kecil. Ck ... ck ... ck! Tak perlu emosional seperti itu. Semua ada waktunya sendiri Kamu tak usah memohon untuk mati, karena waktumu juga akan tiba. Sabarlah sebentar, setelah itu aku akan mengurusmu. Malam ini aku harus pergi, tapi aku harus pastikan kalian makan makanan kalian. Setelah itu aku akan ikat tangan kalian lagi, agar kalian bisa merasakan penderitaan seseorang yang sedang dibelenggu!" ucap sosok itu.
"Kau gila! cepat atau lambat Pak Reno akan menemukanmu dan meringkusmu. Dia adalah polisi hebat. Jadi jangan jumawa dulu. Aku yakin, semua kejahatanmu akan terendus dalam waktu dekat!" ucap Niken.
"Aku tidak butuh ancamanmu polisi sombong! Kalian lekas makan sebelum aku berubah pikiran!"
Tiba-tiba sosok itu mengeluarkan sebilah benda tajam dari balik bajunya, kemudian ia menjambak rambut Niken, menariknya ke atas, dan meletakkan benda tajam itu ke leher Niken. Rani hanya bisa menangis ketakutan melihat pemandangan itu.
"Kalau kau banyak tingkah, maka aku tak segan-segan menggorokmu sekarang!" ancam sosok itu.
Niken sebenarnya merasa gentar menerima perlakuan itu, tetapi ia berusaha menguatkan hati. Ia tak boleh terlihat lemah, sebab apabila kelemahannya terbaca, maka ia akan semakin dipermainkan. Sayang, kakinya dalam keadaan terikat. Kalau tidak, pasti ia akan lawan si pembunuh ini.
***
Di sebuah cafe yang terletak di pelosok kota, Dimas memilih menyingkir dari keramaian kota. Cafe itu adalah cafe kecil, terletak di distrik pinggiran yang agak jauh dari keramaian. Walaupun begitu, pengunjung cafe tetap banyak, kebanyakan orang-orang tua yang memang ingin mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kota. Dia meminum tetes-tetes akhir kopinya, sambil menikmati alunan musik country yang sedang diputar.
Tiba-tiba Reno tergesa masuk ke dalam cafe itu. Kedatangannya sama sekali tak diduga oleh Dimas, sehingga ia agak canggung ketika Reno langsung duduk begitu saja di hadapannya. Seperti biasa, ia mengambil cangkir Dimas dan langsung menenggaknya. Sayangnya cangkir itu kosong, sehingga Reni hanya bisa tersenyum.
"Habis?" ucap Reno.
"Pesan sendiri sana!" perintah Dimas.
"Aku membutuhkanmu, Dim. Aku nggak bisa kerja sendiri! Waktu kita terbatas, dan teka-teki itu harus dipecahkan segera. Jangan khawatir, Firasatku mengatakan Niken masih hidup. Kita pasti akan temukan dia dalam keadaan hidup. Jangan putus asa! Kita pasti bisa memecahkan kasus ini!" kata Reno kemudian.
"Kipikir kamu sudah memecahkan isi teka-teki itu," ucap Dimas.
Reno menggeleng kemudian berkata," Aku masih ragu. Aku mengira si pembunuh ini mengincar pasangan suami-istri Henry dan Rianti, karena di situ dikatakan bahwa korban berikutnya adalah Romeo dan Juliet. Menurutmu bagaimana?"
"Hmm, malahan aku nggak kepikiran kalau Henry dan Rianti adalah Romeo dan Juliet. Dalam kisah Shakespeare diceritakan bahwa pasangan itu saling mencintai dan belum menikah. Sedangkan aku melihat Henry dan Rianti sudah menikah, hubungan mereka juga tak akur. Malahan mereka aku lihat seperti Tom and Jerry. Aku khawatir mereka sedang mengincar korban lain," ucap Dimas.
"Astaga! Mungkin analisismu benar. Aku sama sekali tidak berpikir ke arah situ. Jadi kalau bukan Henry dan Rianti, siapa yang berpasangan dalam hal ini? Apakah ada orang lain?" selidik Reno.
"Mari kita urai satu-satu! aku akan memulai dari orang-orang yang bekerja di studio film. Yang pertama Riky. Pemuda itu kelihatan sering gugup dan misterius, tetapi sejauh ini aku tidak tahu pasangannya, Kukira awalnya dia adalah pacar Widya, tetapi sepertinya bukan. Widya juga tak diketahui punya pasangan, hanya saja ia berteman dekat dengan Riky dan satunya lagi, siapa itu namanya?"
"Guntur?"
"Ya, Guntur! Sosok Guntur ini lebih misterius kurasa, seperti ada yang tersembunyi dalam hidupnya. Ia juga tak diketahui berpacaran dengan siapa pun, karena lebih sering sendirian. Ollan, jelas tak punya pasangan. Henry, jelas dia adalah pasangan Rianti. Laura? ya, aku memang nge-fans dengan artis itu, tetapi semenjak ia dekat dengan Henry, pikiranku sedikit berubah. Kupikir ia jauh dari kriteria Juliet, ia lebih mirip Cleopatra, si perempuan penggoda. Satu-satunya yang mungkin di sini adalah Faishal. Ia memang sering berganti-ganti pasangan, tetapi saat pemakaman Daniel kemarin ia tampak bersama seorang wanita cantik bukan dari kalangan artis. Yang jelas wanita ini sering terlihat berdua dengan Faishal," terang Dimas.
"Siapa wanita cantik itu? Kita harus segera tahu identitasnya!" ucap Reno.
"Kita bisa tanya seseorang yang tahu seluk-beluk wanita ini. Biasanya wartawan serba tahu mengenai hal-hal begini," ucap Dimas.
"Jadi siapa yang akan kita tanyain mengenai ini?"
"Gilda Anwar!"
***
Malam itu juga, Melani berkemas untuk menyiapkan kepergiannya ke villa seperti yang dikatakan oleh Faishal sebelumnya. walau ia tidak sepenuhnya yakin dengan maksud Faishal, ia merasa sebagai wanita paling beruntung malam itu. hatinya berbunga-bunga karena Faishal telah berjanji akan menikahinya. Sekejap saja, perlakuan kasar yang ia terima dari Faishal sudah musnah tak berbekas.
Mereka kini sedang berada di dalam mobil, menembus malam, menuju arah villa yang Faishal pinjam dari Henry. Di kalangan selebritas sudah tenar bahwa Henry mempunyai villa yang nyaman dan pemandangan bagus. Villa itu sering dipakai untuk pesta dan kumpul-kumpul kalangan selebritas.
"Aku akan matikan ponselku, aku nggak mau ada urusan kerja menggangguku, atau orang lain yang mengganggu. Aku hanya ingin kita berdua fokus dengan liburan ini. Kuharap kamu juga matikan ponselmu," ucap Faishal sambil terus menyetir.
"Iya, Sayang. aku hanya ingin liburan ini berkesan bagi kita berdua, tanpa ada orang lain yang gangguin kita," sambut Melani.
Faishal tersenyum mesra, kemudian mengecup kening kekasihnya. Mereka melaju dengan kecepatan sedang meminggalkan kota. Malam sudah larut dan mulai sepi. Mereka sudah menyiapkan perbekalan di bagasi belakang, berupa bahan makanan sampai bahan bakar untuk menyalakan diesel di sana nanti. Mereka sadar bahwa di villa itu agak susah mencari kebutuhan harian, jadi mereka membawa bekal agak banyak.
***