
Suara letusan pistol itu mengagetkan Gerry. Ia tersentak melihat kejadian yang berjalan cepat tak jauh dari tempatnya. Beberapa menit setelah bunyi letusan itu, suasana kembali hening. Ia melihat sosok Fani yang terbaring di rerumputan tak bergerak lagi. Sementara, sosok berbaju hitam itu kembali berdiri dengan masih memegang pistol. Tatapannya kini mengarah ke arah Gerry yang sedang berada dalam mobil.
Sontak, Gerry menjadi panik. Ia segera mengunci semua pintu mobil seraya mencari kunci mobil. Sayangnya ia tak menemukan. Kemungkinan kunci itu dibawa oleh Fani. Sementara, sosok berbaju hitam semakin mendekat. Gerry semakin tak terkendali, mengingat ia tak punya apa-apa untuk melindungi dirinya. Ia hanya bisa bertahan di dalam mobil. Ia berharap bisa bertahan di dalam sana.
Braaak!
Sosok itu menggebrak kaca mobil samping. Suaranya seolah meruntuhkan jantung Gerry. Ia meringkuk, tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia berharap ada keajaiban datang untuk menyelamatkan dirinya. Sosok itu masih diam di samping mobil. Rupa-rupanya ia juga sedang memikirkan cara agar dapat masuk ke dalam mobil.
Tiba-tiba dari arah jalan raya, terlihat lampu mobil menyorot. Sebuah mobil lewat dengan kecepatan sedang. Ingin sekali Gerry meminta tolong, tetapi rasanya mustahil. Bagaimanapun, ia tetap mencoba. Gerry menempelkan wajahnya di kaca mobil sembari berteriak meminta pertolongan, berharap mobil yang lewat itu dapat mendengar atau melihatnya.
Rupanya usaha Gerry membuahkan hasil. Penumpang mobil itu sepertinya melihat Gerry yang seperti terperangkap dalam mobil. Ia menghentikan mobilnya beberapa meter di depan mobil polisi yang dinaiki Gerry. Penumpang mobil yang baru berhenti itu adalah seorang bapak. Ia merasa heran karena ada sebuah mobil polisi dengan penumpang terperangkap di dalamnya.
Sosok hitam itu segera menyembunyikan pistol, seraya bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa. Bapak itu mendekat tanpa rasa curiga sedikit pun.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” tanya bapak itu.
“Tidak apa-apa, Pak. Maaf, teman saya terkunci di dalam mobil. Kami sudah memanggil tukang kunci dan sedang dalam perjalanan ke sini,” kata sosok itu dengan penuh percaya diri.
Bapak itu manggut-manggut, sambil melirik ke arah Gerry yang terlihat ketakutan di dalam mobil. Bahkan Gerry terlihat menggeleng-gelengkan kepala, sebagai isyarat agar tak percaya dengan ucapan sosok itu. Gerry tak berani keluar mobil, karena ia khawatir dengan keselamatan si bapak
Bapak itu mengernyitkan kening. Sebenarnya ia curiga, tetapi ia berusaha untuk berpikiran positif. Apalagi ketika dilihatnya sosok berbaju hitam itu tersenyum ramah.
“Yakin tidak membutuhkan bantuan?” tawar bapak itu lagi.
“Kami baik-baik saja, Pak. Nggak usah khawatir. Maaf sudah merepotkan Bapak,” ucap si sosok.
Si Bapak manggut-manggut lagi. Kali ini ia percaya dengan ucapan sosok berbaju hitam itu. Ia segera kembali ke dalam mobilnya. Tak lama, mobil kembali melaju meninggalkan Gerry dan sosok hitam itu. Kali ini, pupus sudah harapan Gerry. Padahal ia sangat berharap agar bapak itu dapat memberi pertolongan kepadanya.
Gerry dapat melihat wajah sosok berbaju hitam itu sebenarnya. Dalam hati ia mengutuk, karena ia sangat kenal dengan sosok itu. Ia tak menyangka kalau ternyata pelaku dari segala kekacauan. Ingin rasanya ia turun dari mobil dan meringkus si pelaku dengan tangannya sendiri. Sayangnya, sosok itu membawa senjata berbahaya. Ia tidak mau mati konyol begitu saja. Ia harus mencari cara agar dapat meloloskan diri dari ancaman sosok berbaju hitam.
***
Dimas tak punya pilihan. Gilda tetap bersikeras untuk ikut dengannya. Pada akhirnya, Dimas tetap menjalankan mobilnya dengan perasaan kesal. Gilda merasa seperti tak bersalah. Ia malah mengeluarkan permen karet dari dalam tas kecilnya, kemudian menawarkan kepada Dimas.
“Kamu kelihatan tegang banget. Aku yakin, mengunyah permen karet rasa buah ini dapat mengurangi rasa tegangmu,” ucap Gilda.
“Aku sedang tak ingin, Gilda! Maaf. Aku sedang terburu-buru. Lebih baik kamu diam saja, dan aku akan menurunkanmu di bengkel terdekat yang masih buka. Aku nggak bisa membawamu bersamaku,” kata Dimas sambil menggeleng.
Gilda memasukkan permen karet ke mulutnya sendiri, kemudian mengunyah dengan santai.
“Bengkel? Mobilku bisa ditangani besok saja. Nggak usah khawatir. Aku mau ikut kamu, Dimas. Aku ingin meliput kasus yang sedang kamu tangani!”
“Besok? Tidak Dim. Berita besok adalah berita basi. Aku akan hubungi Wandi untuk menyiapkan perlengkapan untuk siaran langsung malam ini juga. Aku mau yang pertama meliput berita itu. Aku nggak mau besok!”
Gilda tampak bersikeras dengan argumennya. Dimas semakin jengkel dengan kekeraskepalaan wanita muda ini. Akibatnya ia jadi kurang konsentrasi menyetir. Padahal Reno tengah menunggunya di kantor polisi. Dimas menyetir sambil mengamati sisi kanan-kiri untuk mencari bengkel yang buka.
Beberapa saat kemudian ia menemukan sebuah bengkel yang masih buka, di sisi jalan yang lumayan ramai. Bengkel itu cukup besar, dengan lampu terang yang menyala, terletak di deretan ruko-ruko dekat pusat keramaian. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan bengkel.
“Silakan turun!” perintah Dimas.
Gilda tampak tidak senang dengan ucapan Dimas. Ia menatap pria itu seolah tak percaya. Sayangnya Dimas bergeming. Ia tetap pada pendiriannya bahwa Gilda harus turun dari mobil.
“Aku ... aku nggak mau! Aku mau ikut kamu!” jawab Gilda.
“Nggak Gilda! Maaf, ini urusan pekerjaan yang nggak bisa dicampuradukkan dengan kepentinganmu. Coba kamu pikir, apa kata polisi lain apabila mereka tahu aku bekerjasama denganmu? Aku bisa dituduh yang membocorkan rahasia kepolisian kepadamu. Kamu jangan gila ya!”
“Dimas, please bantulah aku! Aku butuh berita ini. Kamu bisa saja beralasan dengan mereka kan? Aku janji nggak ngomong apa-apa deh!”
“Maaf Gilda! Aku nggak bisa bantuin kamu. Kalau kamu ingin berita, lakukan dengan cara yang wajar. Nggak begini caranya. Turun Gilda! Aku menyuruhmu sebagai seorang polisi!”
Dimas memerintah dengan nada agak tinggi. Mau tak mau, Gilda gentar dengan ancaman Dimas. Ia ragu-ragu hendak turun.
“Kamu tega ya sama aku, Dim?” ucap Gilda.
“Maafkan aku, Gilda! Tolong hargai aku juga!”
“Kalau aku tidak mau turun, apakah kamu akan memborgol dan menjebloskanku ke penjara? Apakah kamu akan memperlakukan aku seperti penjahat? Kalau begitu borgol aku saja!”
Gilda menyodorkan kedua tangannya ke arah Dimas. Pria itu benar-benar kesal dan hilang akal menghadapi Gilda. Ia hanya menggeleng dengan paras marah.
“Oke. Silakan tetap di mobil ini! Aku akan ke kantor polisi naik taksi!”
Dimas merasa sangat kesal. Ia segera turun dari mobil, kemudian berjalan menjauhi mobil meninggalkan Gilda yang masih tetap berada dalam mobil. Tentu saja, Gilda tak mau ditinggal sendiri. Ia turun dan memanggil Dimas.
“Dimas tunggu! Jangan tinggalin aku!”
Sayangnya, Dimas tak mau mendengar teriakan Gilda. Bersama itu, sebuah taksi berwarna biru melintas. Dimas menyetopnya, kemudian pergi melaju dengan taksi meninggalkan Gilda yang gusar. Wanita muda itu kini berubah kesal karena ditinggal sendiri bersama mobil Dimas.
***