
Langit terlihat mendung sejak pagi, matahari enggan menampakkan diri. Cuaca menjadi lebih dingin daripada biasanya. Cuaca seperti ini paling nyaman digunakan untuk rebahan, tanpa melakukan apa-apa. Hal itulah yang dulakukan Ollan. Ia enggan keluar hari ini, hanya menghabiskan waktu untuk membaringkan diri di atas ranjang sambil menonton acara variety show di televisi. Sesekali dia tertawa terbahak melihat adegan yang ditayangkan.
Tok ... tok ... tok!
Keasyikan Ollan menonton televisi sedikit terganggu ketika ia mendengar suara pintu apartemennya diketuk agak keras. Ia abaikan saja, karena terkadang tukang tagih iuran sampah datang untuk menagih pagi-pagi. Namun, ketukan itu terus terdengar. sehingga membuatnya jengkel. Mau tidak mau, Ollan bangkit dari tempat tidur dan beranjak untuk membuka pintu.
"Siapa sih! Jengkelin banget pagi-pagi!" keluhnya.
Ia membuka pintu dengan paras kesal. Dilihatnya seorang pria di depan pintu dengan paras marah. Ollan merasa kaget, karena tak biasanya ia menerima kehadiran seseorang pagi-pagi begini.
"Bang Hen?" tanya Ollan.
Henry Tobing tampaknya sedang dalam keadaan marah. Ia langsung merangsak masuk sambil mencengkeram kerah leher Ollan. Matanya terlihat memerah berapi-api. Ollan merasa takut, karena tidak tahu mengapa Henry Tobing berbuat seperti itu.
"A-Ada apa, Bang?" tanya Olla dengan gugup.
"Kamu jangan pura-pura ya, Lan! Kamu ngomong apa sama Rianti! Kamu umbar-umbar rahasiaku dengan Laura, padahal aku sangat percaya kamu! Di mana balas budimu, ha! Kamu dulu bukan apa-apa, seorang pesakitan yang hampir mamp*us, sekarang kamu mulai belagu! Kurang ajar kamu!" ucap Hendry dengan marah.
"Tunggu ... tunggu, Bang! Sungguh ... aku nggak ngerti apa maksud Abang!" ucap Ollan.
"Kamu masih berani mengelak? Kamu pergi ke salon kan kemarin dengan Rianti? Pikirmu aku nggak tahu? Terus kamu cerita-cerita tentang aku yang berkunjung ke rumah Laura. Kamu jangan coba-coba bohongi aku ya!" gertak Henry.
"Oh, ma-maaf, Bang. Biar aku jelaskan. Tapi tolong lepaskan cengkeraman Abang!"
Henry mulai melunak. Ia melepaskan cengkeraman tangannya, tetapi napasnya masih terengah karena menahan rasa marah.
"Silakan duduk dulu, Bang. Abang mau minum? Biar kubuatkan sesuatu agar pikiran Abang lebih tenang," ucap Ollan dengan hati-hati.
"Tidak usah! Aku butuh klarifikasimu segera!"
Ollan mengangguk, kemudian duduk di sebuah kursi. Henry juga ikut duduk, memnunggu Ollan bercerita.
"Jadi gini, Bang. Kemarin Bu Rianti memang mengajak bareng pergi ke salon. Karena kebetulan aku ke sana, dan kami juga berada di salon yang sama, maka Bu Rianti jemputin aku. Ya, kami ngobrol dong. Bu Rianti sih banyak nanya tentangAbang, ya aku jawab yang aku tau aja, Bang. Kalau ngasi tahu Abang ke rumah Laura ya enggak lah. Abang juga nggak pernah kasih tahu pergi ke sana kan? Memang Abang beneran pergi ke sana? Tetapi kalau Abang memang suka sama Laura, aku cerita sih ke Bu Rianti. Habis dia maksa, Bang! Aku kan nggak enak juga!" papar Ollan.
"Itu namanya kamu cerita ke dia! Kan aku sduah bilang kalau dia nanya-nanya, jangan djiawab. Ternyata kamu ember banget ya! Dikasih apa sih kamu sama dia!" cecar Henry.
"Nggak ada, Bang! Bukan begitu, aku hanya .... "
"Ah, sudahlah! Kamu memang nggak bisa pegang rahasia. Dasar mulut perempuan! Tak bisa dipercaya. Mulai sekarang, kamu nggak usah kerja sama aku lagi. Aku mau cari manajer baru yang bisa dipercaya. Kamu ternyata musuh dalam selimut!" ucap Henry dengan ketus.
"Loh, bang! Jangn dong, Bang! Terus aku kerja nanti kerja apa?" ucap Ollan dengan memelas.
"Itu bukan urusanku! Kamu cari saja Om-om yang bisa biayai hidupmu. Tapi janga aku ya! Aku sudah muak sama kamu!"
Henry beranjak, hendak pergi meninggalkan apartemen Ollan. Pria gemulai itu langsung panik. Tidak terbayang kalau Henry benar-benar memecatnya. Ia tidak punya pekerjaan apa-apa, tentu ia akan terlunta-lunta kalau Henry benar-benar memecatnya.
"Bang! Jangan Bang! Abang tega sama aku?" pinta Ollan.
"Kamu juga tega sama aku, Lan. Mengapa aku nggak?"
"Aku minta maaf, Bang! Sungguh, aku tidak ada maksud sama sekali mengkhianati Abang. Ya, aku memang salah, dan aku akan perbaiki kesalahan itu, Bang. Tapi kumohon, Bang! Jangan pecat aku! Aku sangat membutuhkan pekerjaan itu, Bang! Please, bang!" pinta Ollan.
"Udah terlambat, Lan! Sudahlah!"
Kali ini Henry benar-benar beranjak dari kediaman Ollan. Pria gemulai itu ta dapat berbuat apa-apa. ia hanya bisa menyesali apa yang terjadi. Ia merasa semuanya bargai mimpi buruk untuknya. Dunia terasa tidak adil baginya. Ia hanya bisa meratap, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Di tengah kesedihannya yang mendalam, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ollan semakin kesal. Rasanya ia tak ingin menerima panggilan telepon dari siapa pun hari ini. Siapa pula yang memanggil? Ia periksa si pemanggil, ternyata nomor asing. Ia jengkel, kadang ada saja nomor asing yang menyasar ke nomornya. Ia abaikan panggilan itu.
Padahal di seberang, Reno dan Dimas berusaha menelepon Ollan. Mereka berusaha mengingatkan Ollan agar waspada, terkait dengan kertas berisi tulisan ancaman yang ditemukan dalam mulut Anita. Mereka menduga bahwa kali ini Ollan adalah seseorang yang sedang diincar. Reno berkali-kali menghubungi nomor Ollan, tetapi diabaikan oleh pria gemulai itu.
"Gimana?" tanya Dimas penasaran.
"Nggak diangkat. Mungkin dia sibuk atau bagaimana?" tebak Reno.
"Hmm, kita harus segera mengingatkan dia kalau dia memang-memang benars edang diincar oleh si pembunuh. Kita tudak tahu motifnya apa, yang jelas jangan sampai kita kecolongan. Sebenarnya ada yang lebih aku khawatirkan daripada ini," ucap Dimas.
"Apa yang membuatmu khawatir?" tanya Reno.
"Aku khawatir, jangan-jangan tulisan itu hanya pengecoh belaka. Jangan sampai kita fokus pada Ollan, ternyata ia mengincar korban lain. Semoga saja tidak, tetapi kita perlu mengantisipasi hal ini," ucap Dimas.
"Kamu benar! Tapi sepertinya, kalau merujuk di kasus Anita, apa yang ditulis di kertas itu benar-benar tepat. Anita benar-benar dibunuh dengan cara digantung di pohon durian. Dan kali ini, identitas korban benar-benar mengarah kepada Ollan, tapi kita tidak tahu dengan cara apa dia akan dibunuh,"kata Reno.
"Perlukah kita minta bantuan Niken untuk mengawasi ini?" tanya Dimas.
"Sementara ini tidak! Bagaimanapun dia seorang perempuan yang hatinya lemah. Saat kematian Anita kemarin dia sempat syok dan terpukul. Dia merasa bersalah karena ia berpikir bahwa Anita adalah tanggungjawabnya. Aku khawatir, kalau Niken dilibatkan di lapangan lagi, dia akan mengalami banyak tekanan. Lebih baik dia kita perbantukan ke hal lain yang sifatnya tidak bersentuhan langsung dengan si pembunuh, karena yang kita hadapi ini juga berbahaya!" kata Reno.
"Tapi ... bukankah dai cukup berpengalaman di berbagai kasus yang pernah ia tangani?" tanya Dimas.
Tiba-tiba pintu kantor Reno terbuka. Seorang polisi wanita berambut pendek masuk dnegan paras kesal. Rupanya sejak tadi Niken mendengarkan pembicaraan mereka. Reno dan Dimas saling berpandangan.
"Jadi kalian tidak melibatkan aku dalam kasus ini?" tanya Niken.
"Niken? Kupikir kamu sedang berada di rumah," ucap Reno.
"Tidak! Aku bukan tipe wanita lemah yang menghabiskan waktu untuk meratapi kesalahan berjam-jam di dalam kamar. Kalian selama ini salah menilai aku. Aku tidak selemah sangkaan kalian. Jadi biarkan aku terlibat dalam kasus ini!" ucap Niken.
Reno menghela napas. Sebenarnya ia masih merasa ragu dengan Niken. Mungkin dia benar, bahwa Reno harus memberi satu kesempatan lagi untuknya.
"Sebenarnya kami mengkhawatirkanmu," ucap Reno kemudian.
"Mengkhawatirkan? Aku adalah wanita dewasa yang tidak perlu kalian khawatirkan, dan aku bisa jaga diri sendiri. Aku akan turut serta memecahkan kasus ini. Perlu kalian tahu, bahwa aku hampir menemukan identitas Margareth Prawira itu!" ucap Niken.
"Oya? Jadi siapa sebenarnya Margareth Prawira itu?" tanya Reno penasaran.
"Aku berhasil membuat janji dengan pengacara Daniel Prawira ini, dan kami akan bertemu nanti malam. Aku akan menanyakan siapa sebenarnya Margareth Prawira ini.
"Sepertinya berita yang cukup menarik. Kurasa pengacara itu akan memberitahu siapa sebenarnya Margareth Prawira ini. Kalian bertemu di mana?" tanya Reno.
"Boleh aku tidak menjawab pertanyaan ini? Karena ini adalah urusanku. Aku sudah berjanji padamu Pak bahwa aku akan mengungkap siapa sebenarnya Margareth ini. Jadi, biarkan aku laksanakan tugasku dengan baik, nanti kalian bisa segera mendapat berita baik dariku. Ngomong-omong, aku senang bisa bertemu denganmu kembali, Dimas!" ucap Niken.
Dimas tersenyum mendengar ucapan Niken. Mereka pernah bertugas bersama sebelum aktif di kepolisian pusat.
"Selamat datang kembali, Niken! Semoga kali ini prestasimu bisa cemerlang, seperti saat aku mengenalmu pertama kali," ucap Dimas.
"Aku tidak pernah mengecewakan, Dimas. Kau sendiri. masih jalan dengan reporter wanita itu?" tanya Niken.
"Gilda?" tanya Dimas.
"Siapa lagi kalau bukan dia?" cibir Niken.
Dimas tergelak sambil menggeleng.
"Aku sedang tidak ingin membicarakan masalah pribadi, Niken. Jadi lebih baik kita profesional dan hanya berbicara masalah pekerjaan," tandas Dimas.
"Terserah kamu, Dimas!"
Niken berlalu meninggalkan ruangan Reno. Sepeninggal polisi wanita itu, Reno menghela napas.
"Apa dia selalu angkuh seperti itu?" tanya Reno.
"Ya, dia memang wanita yang angkuh, tetapi sebenarnya dia baik. Kita lihat saja apakah dia memang benar-benar bisa membantu kita. Tak ada salahnya kita memberi eksempatan buat dia kan?" usul Dimas.
Reno mengangguk pelan.
"Dia juga tahu hubunganmu dengan Gilda?" selidik Reno.
"Semua orang di kepolisian tahu itu, bukan hanya dia. Sudahlah! Mendadak aku mulas kalau kau membahas tentang Gilda. Itu adalah masa lalu dan jangan dikait-kaitkan denganku lagi. Kami mempunyai kehidupan masing-masing," ucap Dimas.
"Hahaha ... baiklah! Sekarang mari kita kunjungi Ollan dan kita peringatkan dia akan bahaya yang mengancam. Mari kita buat pembunuh itu gagal!"
***