Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
161. Penyelamatan


Acara makan malam yang sedianya akan dimulai jadi tertunda gara-gara Miranti tidak hadir. Menurut keterangan dari Bu Mariyati, Miranti pergi ke area belakang rumah untuk berjalan-jalan tadi sore. Padahal wanita paruh baya itu sudah mengingatkan bahwa kondisi belakang rumah sangat berbahaya bagi orang yang tak biasa berada di sana. Sejumlah sumur tua menganga, tertutup semak belukar sehingga tak dapat dilihat dengan jelas.


Reno mendengar laporan dari Pak Paiman bahwa pria tua itu mendengar suara minta tolong dari arah belakang rumah, walau suara itu cukup pelan tetapi masih terdengar. Dugaan para penghuni rumah menguat bahwa suara itu adalah suara Miranti yang sedang tersesat atau mengalami kesulitan.


Tanpa membuang waktu, Reno ditemani dengan Pak Paiman segera bergerak ke area belakang rumah. Selain itu, mereka juga ditemani oleh Alex, Ferdy, dan Rudi. Para gadis dipersilakan untuk masuk ke dalam rumah, karena situasi mungkin berbahaya bagi mereka. Rombongan kecil itu segera menyusur jalan kecil yang menuju pekuburan tua.


“Jalan ini akan berujung ke pekuburan tua yang terbengkalai. Nah di sekitar tempat itu banyak sumur-sumur tua tak terpakai. Sumur-sumur itu sudah ada sejak zaman Belanda, mungkin sebagai tempat persembunyian para pribumi atau tempat menyimpan persenjataan di bawah tanah,” terang Pak Paiman.


Sesuai arahan Reno, mereka tidak diizinkan berpencar karena khawatir dengan keberadaan sumur tua yang tak dapat dideteksi. Reno juga memerintahkan mereka semua untuk waspada, dan lebih peka dengan situasi sekitar, kalau-kalau mendengar suara teriakan.


Suasana gelap sudah menyelimuti areal belakang rumah. Langit juga terlihat kelam tanpa bintang. Semua yang ada di sana terlihat pekat, sehingga mereka harus berbekal lampu sorot dan senter. Suara serangga-serangga malam sahut-menyahut, sedikit menyeramkan. Angin malam berdesir mencengkeram kulit.


“Tolong ... tolong aku!”


Tiba-tiba di antara deru angin malam, mereka sayup-sayup mendengar suara teriakan tak jauh dari situ. Semua terdiam. Reno mengisyaratkan untuk diam, sambil meletakkan telunjuk di depan bibirnya. Ia ingin memastikan bahwa suara teriakan itu bukan halusinasi belaka.


“Kalian dengar suara itu?” tanya Reno.


Semua mengangguk cepat. Reno mengisyaratkan untuk mendatangi arah suara yang sepertinya tak jauh.


“Miranti! Apakah itu dirimu?” Reno berteriak lantang.


“Iya. Ini aku! Tolooong! Aku sudah nggak tahan lagi!”


Terdengar suara perempuan dengan nada lemah. Suara itu semakin jelas terdengar dari arah depan, keluar dari jalan setapak. Semak-semak setinggi paha manusia dewasa tumbuh rimbun di mana-mana, sehingga Pak Paiman mengibaskan parang yang dibawanya untuk membuka jalan.


Senter terus mengarah ke sekitar tempat itu menerangi apa saja yang ada di sana. Pohon-pohon menjulang bagai raksasa jangkung tumbuh jarang di beberapa bagian. Daunnya yang lebat, dengan sulur-sulur bergelantungan menjadi pemandangan yang sangat menyeramkan.


Tak lama, mereka telah tiba di arah suara teriakan. Mereka berdiri di sebuah lubang berdiameter satu setengah meter yang nyaris tak terlihat karena tertutup semak belukar. Reno dengan sigap mengarahkan lampu ke dalam lubang.


“Miranti, apa kamu di dalam?” tanya Reno.


“Iya! Aku di dalam sini!” jawab suara dari dalam lubang dengan nada putu asa.


Yang lain juga mengarahkan cahaya lampu ke dalam lubang, agar terlihat lebih jelas. Benar saja, mereka melihat sosok gadis di dalam lubang dengan kedalaman sekitar dua meter. Gadis itu menutup matanya karena silau dengan cahaya yang banyak menerangi.


“Ah, untunglah dia masuk ke dalam sumur yang dangkal. Hanya sekitar dua meter. Padahal ada sumur dengan kedalaman lebih dari enam meter. Kalau dia terperosok di sana, mungkin dia tidak akan selamat, karena udara di bawah sana bikin sesak,” ucap Pak Paiman.


“Kita butuh tali!” ucap Reno.


Rupanya Pak Paiman sudah mengantisipasi hal itu. Ia sudah menyiapkan tali tambang untuk menyelamatkan Miranti yang tampak takut di dalam sumur dangkal itu.


“Miranti! Apa kamu baik-baik saja?” tanya Reno lagi.


“Kakiku ... kakiku makin sakit. Kurasa terkilir. Aku nggak akan bisa jalan!” jawab Miranti.


“Baiklah. Kamu tunggu sebentar! Kami akan menolongmu. Jangan panik!” ucap Reno.


“Bagaimana kita bisa tolong dia, Pak?” tanya Ferdy.


“Aku harus turun ke bawah karena kakinya sakit. Nanti akan kuikat tubuhku dengan tali, dan kalian yang akan menarik talinya ke dalam. Sesampai di bawah, aku akan ikat tubuh Miranti, sementara kalian semua yang akan menariknya keluar. Nanti aku akan keluar belakangan!”


“Aku akan memberi aba-aba nanti!” ucap Reno.


Ia meluncur ke bawah, mendapati Miranti yang sedang cemas dan takut. Parasnya pucat dan sedikit kotor karena terkena tanah dan rerumputan.


“Oh, terima kasih Tuhan. Aku sudah berpikir mungkin aku akan mati di sini,” gumam Miranti.


Ia merasa senang melihat kehadiran Reno. Ia tidak menyangka bahwa ia akan ditemukan dengan cepat. Matanya berbinar penuh bahagia.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Reno.


“Kakiku sakit, Pak. Mungkin nggak kuat untuk jalan,” ucap Miranti.


“Kamu tenang saja! Nanti aku akan ikat tubuhmu, dan mereka akan menarikmu keluar. Kamu siap?”


Miranti mengangguk cepat. Segera Reno melepaskan ikatan di tubuhnya, kemudian mengikatkan tali di tubuh Miranti sedemikian rupa. Sebagai seorang polisi, ia cukup cekatan dan menguasai ilmu tali-menali, sehingga ia melakukan semua dengan cukup cepat, tanpa kesulitan yang berarti.


Setelah ikatan dirasa cukup kuat, tubuh Miranti perlahan ditarik ke atas oleh yang lain. Gadis itu bergelantungan dengan rasa khawatir. Untunglah kedalaman sumur itu tak begitu dalam, sehingga proses penyelamatan itu tak berlangsung lama. Setelah Miranti berhasil keluar, baru giliran Reno yang ditarik keluar.


Miranti segera mendapat pertolongan. Ia berjalan dengan bantuan teman-temannya, sambil menahan rasa nyeri di kaki.


“Gimana ceritanya kok kamu bisa masuk sumur itu?” tanya Ferdy.


“Nanti saja kuceritakan kronologis kejadiannya, karena menurutku yang kualami sangat menyeramkan. Aku ingin kalian semua waspada,” ucap Miranti.


Perkataan Miranti didengar oleh Reno. Ia mengajukan beberapa pertanyaan kepada gadis itu.


“Apa ada seseorang yang membuatmu takut?” tanya Reno.


“I-iya, Pak. Sebenarnya, aku dikejar sesorang yang menyeramkan. Seseorang dengan pakaian warna hitam dan topeng. Aku tidak bisa memastikan itu siapa, karena hari sudah mulai senja, dan aku tidak berani memerhatikan. Aku hanya fokus pada jalan di depanku, karena aku tahu di sini banyak sumur tua. Sayangnya, aku masih tetap terperosok ke dalam sumur, karena memang kalau dari atas, sumur-sumur itu nggak kelihatan sama sekali,” ucap Miranti.


“Kamu beruntung. Kata Pak Paiman, ada sumur yang dalamnya lebih dari enam meter. Kalau kamu jatuh ke sana, belum tentu kamu bisa selamat,” kata Reno.


Miranti bergidik. Dalam hati, ia merasa sangat bersyukur karena masih bisa lolos dari kejaran sosok misterius yang ingin menghabisinya. Justru ia merasa bahwa sumur itu menyelamatkannya. Kalau saja ia tidak terperosok dalam sumur, bisa jadi sosok itu bisa dengan mudah menghabisinya.


“Setelah ini aku akan memeriksa CCTV, siapa saja yang keluar kamar siang tadi. Aku yakin, orang yang mengejarmu itu akan dengan mudah dibekuk. Kalian tak perlu panik. Aku jamin tidak ada yang terbunuh lagi di rumah isolasi ini. Semua gerak-gerik sudah terpantau kamera,” ucap Reno dengan yakin.


“Dengan satu catatan ya Pak,” celetuk Alex tiba-tiba.


“Apa maksudmu?” tanya Reno.


“CCTV itu buatan manusia yang tentu saja ada kekurangannya. Apalagi sistem CCTV masih menggunakan kabel, serta tidak ada petugas yang selalu siap di depan layar selama 24 jam. Kejahatan selalu memanfaatkan kelengahan. Aku rasa CCTV tak akan banyak membantu,” ucap Alex.


“Tetapi paling tidak, dengan adanya kamera perekam ini, kita bisa mengetahui kejadian-kejadian yang sudah berlaku,” kilah Reno.


“Semoga saja begitu!” kata Alex dengan nada pesimis.


***