
"Albert lepas," ucap Sonya saat Albert tak mau melepaskan tangannya dari pinggang Sonya. Saat ini, mereka sedang berendam bathube dengan posisi Sonya yang membelakangi. Tentu saja, setelah mereka melalukan ritual panas.
Dan tentu saja perjuangan Albert tidak mudah.
Bukannya menjawab, Albert malah semakin memeluk erat Sonya, dia meletakan kepalanya di pundak Sonya. Sesekali ia mencium leher Sonya membuat Sonya merinding.
"Albert kepalaku pusing," dusta Sonya agar Albert melepaskannya. Benar saja, seketika Albert melepaskan tangannya. Sonya tak membuang kesempatan. Ia langsung bangkit dari berendamnya dan langsung menyambar handuk.
"Sonya kau berbohong?" tanya Albert sambil membulatkan mata.
Tanpa membalas ucapan Albert, Sonya langsung memakai kembali bathrobe dan keluar dari kamar mandi.
"Alberth!" teriak Sonya saat dia membuka pintu. Sonya berteriak saat melihat lampu di kamarnya padam. Tentu saja itu semua ulah Albert.
Sedangkan Alberth hanya terkekeh. Ia menyenderkan tubuhny kebelakang dah tak lama, Sonya mendatanginya lagi.
"Albert cepat bangun. Nyalakan lampu!" teriak Sonya sambil berkacak pinggang. Ia tak mengerti lagi dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
Dengan santai, Albert bangkit dari berendamnya dan memakai bathrobe. Sonya memalingkan tatapannya kearah lain.
Ia benci mengakui ini, tapi harus ia akui walau usia Albert tak muda lagi, kharisma dan ketampanan Albert tak berkurang sedikitpun . Bahkan, urusan ranjang saja, Albert benar-benar tak main-main.
Tak lama Sonya menggeleng mengusir pikiran mesumnya.
"Cium aku, maka akan kunyalakan lampu," ucap Albert, membuat Sonya membulatkan mata.
"Albert!" protes Sonya.
"Tutup matamu!" titah Sonya.
Albert pun menurut, ia menutup mata. Setelah di rasa bibir Sonya sudah dekat dengan pipinya, Albert langsung berbalik mengahadap Sonya hingga kini posisi wajah Sonya dan Albert berdekatan, sehingga Sonya bukan mencium pipi Albert melainkan mencium bibir Albert.
"Abert!" ucap Sonya dengan gemas, membuat Albert tergelak. Ia pun menarik tangan Sonya untuk keluar dari kamar mandi.
•••
Setelah mendapat kabar dari Frank, Zayn bisa bernapas lega. Ia kembali menjalankan mobilnya untuk menyusul Gia ke apartemennya. Setidaknya, ia bisa memastikan kondisi Gia sebelum ia pergi menyusul Frank.
Zayn memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tak sabar untuk segera bertemu dengan istrinya.
Saat sampai di apartemen Gia, Zayn langsung berlari menuju unit apartemen Gia. Ia menekan kode apartemen Gia. Namun sayang. Ia tak bisa masuk karena rupanya Gia sudah mengganti kodenya dengan kode baru.
"Gia ... ku mohon buka pintunya. Biarkan aku masuk!" teriak Zayn saat Gia tak mau membuka pintu. Padahal Zayn sudah memencet bel berkali-kali.
Sedangkan Gia yang mendengar suara Zayn di luar sana hanya menutup telinganya. Rasanya ia terlalu muak untuk menghadapi suaminya.
"Gia, ayolah!" ucap Zayn dengan nada melemah. Lalu ia mengambil ponsel untuk menelpon Gia. Namun, lagi-lagi ia harus menggigit jari kala nomer ponsel Gia tidak aktiv.
Zayn menyenderkan kepalanya di pintu, kepalanya berdenyut nyeri. Ia melewatkan makan malamnya hingga perutnya juga perih.
Tak lama, ponselnya berdering kembali. Ternyata Frank menelponnya. Setelah mendengar ucapan Frank di sebrang sana. Zayn pun meninggalkan apartemen Gia untuk menyusul Frank.