Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Rasa sakit yang sama


Amelia membuka mata. Ia mengerjapkan pandangannya. tubuhnya terasa remuk bahkan ia merasa sangat sulit untuk sekedar menyempurnakan penglihatannya.


Di tengah rasa sakitnya. Amelia tersenyum getir. Tak perlu menebak dan tak perlu bertanya dia sudah tahu bahwa ia sedang berada di ruang kesehatan.


Selalu berakhir seperti ini, setiap Gabriel datang ia akan berakhir di tempat ini dan berbaring di brankar dengan sakit yang sama.


“Ibu!” lirih Amelia. Saat ia terpuruk dan ia kesakitan, Ia hanya akan mengingat nama ibunya, dan mengingat wajah ibunya ia berharap ibunya baik-baik saja di sana agar rasa sakit yang ia dapatkan tak percuma.


Ia bisa saja mengakhiri hidupnya, atau pun dengan melakukan cara yang lain untuk pergi dari Gabriel. Tapi, setiap kali ia melihat foto ibunya yang sedang melakukan perawatan, ia selalu membatalkan niatnya dan lebih memilih untuk tetap bertahan dan terus menerus menerima rasa sakit.


Ya, Gabriel pernah memberikan foto ibunya, saat ibunya sedang melakukan perawatan. Gabriel memberikan foto itu sebagai bukti bahwa ia benar mengobati ibunya dan memberi yang terbaik untuk ibu Amelia.


Bukan hanya sebagai bukti, Ia memberi foto ibu Amelia untuk sebagai peringatan bagi Amelia agar Amelia tak macam-macam dengannya selangkah saja Amelia membuat Gabriel murka, maka nyawa ibu Amelia taruhannya. Gabriel akan menghentikan pengobatan sang ibu.


••••


Gabriel menghentikan langkahnya saat ia berada di depan ruang kesehatan. hentikan langkahnya karena mendengar suara isakan, dan ia tau, itu isakan Amelia.


Gabriel menghela nafas, kemudian ia melanjutkan langkahnya. Namun l bukan untuk kembali ke kamarnya melainkan untuk masuk ke ruangan kesehatan, untuk menemui Amelia.


Biasanya, ia tak pernah seperti ini. Hanya saja, mendengar isakan Amelia ia mendadak Ia ingin melihat kondisi wanita malang itu.


Saat mendengar suara derap langkah, Amelia menggigit bibirnya. Ia berusaha meredam tangisannya. Ia yakin, itu adalah Gabriel. Sebab, para dokter sudah keluar dari ruangannya dan hanya Gabriellah Yang yang bisa masuk secara bebas selain kedua dokter yang menanganinya


Pintu terbuka, sosok Gabriel masuk ke dalam ruangan membuat Amelia memalingkan tatapannya.


“Aku belum puas, lalu kenapa kau harus tumbang,” ucap Gabriel dengan sadisnya membuat Amelia menggigit bibirnya semakin keras agar tak mengeluarkan tangisannya. Ia sungguh enggan menangis di hadapan lelaki kejam seperti Gabriel. Tapi, untuk tak menangis pun rasanya tak bisa. Ini terlalu menyakitkan dan terlalu menyesakkan.


“Lihat aku!” hardik Gabriel ketika Amelia tak melihatnya. Seperti biasa, Gabriel akan meredang ketika Amelia tak mau mematuhi perintahnya.


Amelia menghela nafas beberapa kali, kemudian menoleh kearah Gabriel. Ia menatap Gabriel dengan tatapan terluka, Gabriel bukan hanya menghancurka raganya tapi juga menghancurkan jiwanya.


“Aku akan disini untuk waktu yang lama. Jadi, cepat pulihkan dirimu karena kau masih harus melayaniku!” titah Gabriel membuat mata Amelia membulat. Biasanya Gabriel akan jarang sekali datang ke Villa ini.


Tapi sekarang, ia mendengar Gabriela kan di sini dengan waktu yang lama sudah dipastikan ia akan tubuhnya akan sering terbaring di brankar.


Setelah Gabriel keluar, Amelia menatap langit-langit. tangis sesegukan lolos dari bibirnya, Air mata mengenang dari pelupuk matanya. Tiba-tiba, ia teringat pada masa lalu, saat ia menggalkan rencana Gabriel.


Saat itu,


Flashback


Scroll lagi gengs ini dua bab terbaru ya.