Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
193


"Audrey, ini berlebihan. Aku tak bisa menerima ini," ucap Simma. Kemudian ia langsung tertunduk.


"Simma, aku bahkan merasa ini masih kurang. Kau menjaga Kelly, mendidik Kelly dan menemani Kelly. Jika tak ada kau, aku tak tau harus bagaimana." Setelah mengatakan itu, mata Audrey berkaca-kaca. Ya, Audrey pun berhutang banyak pada Simma.


Simma membantunya semasa hamil, menjaga Kelly sedari bayi, membantu mendidik Kelly hingga Kelly tumbuh menjadi anak yang baik, sopan dan pintar. Belum lagi Audrey kerap bekerja dan tak bisa menemani Kelly.


Tapi, karena ada Simma, Audrey bisa tenang, setidaknya Kelly bersama orang yang tepat. Itu sebabnya, Audrey merasa sangat berterimakasih pada Simma. Karena pada dasarnya, Simma dan Audrey saling melengkapi. Mereka saling berbagi suka dan duka.


"Kumohon Simma. Jangan menolak, aku akan merasa sangat sedih jika kau tak menerima ini," ucap Audrey dengan tatapan memohon.


Belum Simma menjawab, Kelly datang bersama Zidan dari arah belakang.


"Apa Aunty tak menyayangiku?" tanya Kelly, seketika Simma tak bisa membendung lagi tangisnya. Audrey menggeser tubuhnya, memberi Kelly ruang untuk duduk di pangkuannya.


"Aunty, jika Aunty menyayangiku. Tolong terima ini," ucap bocah kecil itu. Yang tentu saja sudah di perintahkan oleh Audrey untuk membujuk Simma. Karena Audrey tau, hanya Kelly yang bisa membujuk Simma.


Simma menghapus air matanya. "Ka-kalian kerja sama, kan?" Tanya Simma terbata-bata. Seketika Kelly menutup mulut agar Simma tau melihat ia tertawa. Rupanya, Simma sudah tau trik Audrey, sedangkan Audrey pun memalingkan tatapannya ke arah lain agar Simma tak melihatnya tertawa.


"Kau tak boleh menolak, Simma. Ini hadiah dari kami," kali ini, Zidan yang berbicara. Ia mendudukan diri di sebrang Simma dan Audrey.


Melihat anggukan Simma. Audrey menurunkan Kelly dari pangkuannya. Ia langsung berhambur memeluk Simma. Kedua sahabat itu saling memeluk dan menangis haru.


"Caffe ini bisa di buka dua hari lagi. Jadi, persiapkan dirimu," ucap Zidan setelah Simma dan Audrey saling melepaskan pelukannya.


Mata Simma membulat. "Bagaimana dua hari lagi, aku belum menyiapkan apa-apa," jawab Simma dengan terkejut. Membuat Zidan tergelak.


"Simma, aku sudah mengurusnya. Kau mempunyai 8 pegawai yang sudah tau apa tugasnya. Kau tak perlu khawatir caffe mu sepi. Semua karyawan Smith company akan kemari setiap hari. Mereka akan membayar dengan metode voucher dan setiap caffe mu tutup akan ada pihak Smith company yang akan menukar voucher dengan uang tunai," ujar Zidan panjang lebar. Membuat mata Simma membulat.


Beruntung Zidan menemukan bangunan yang tepat untuk di jadikan caffe dan Caffe Simma tepat di depan perusahaannya. Sebenarnya, di dalam kantin perusahaannya, sudah ada caffe. Namun, Zidan menutup caffe tersebut agar semua karyawan datang ke cafee Simma dan tentu sangat membantu penjualan Simma. Bisa di bayangkan berapa penghasilan yang akan Simma dapat dari karyawan Smith compani.


"Zi-Zidan ...." Simma tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Ia terlalu terkejut dengan apa yang terjadi.


"Simma. karena kau mengalami gangguan panik, kau harus pergi ke psikiater, atau kau bisa mencoba memberanikan dirimu untuk bertemu orang-orang baru. Setelah kau bisa mengendalikan diri, kau bisa memamerkan keahlianmu menjadi seorang barista," ucap Audrey. "Mungkin, kau bisa memulai dengan menjadi kasir atau berkeliling mengontrol caffe mu dan membiasakan diri bertemu orang-orang baru," sambung Audrey lagi, Simma pun mengangguk. Simma percaya, ia bisa sembuh karena dirinya sendiri.


Scroll lagi ies.