Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
286


Simma melihat kesuluruh sudut ruangan di kamarnya. Matanya memanas, rasanya, air mata mendesak untuk di keluarkan.


Selama bertahun-tahun, kamar ini menjadi tenpat faporitnya. Kamar ini adalah tempat yang paling membuatnya nyaman.


Ia pikir setelah pergi, ia takan pernah kembali lagi kesini dan masuk lagi ke kamar ini. Tapi Ia salah, nyatanya. Hari ini, ia kembali lagi kesini. Yang membedakan adalah ia kembali kesini dengan hati yang remuk redam.


Sekelebatan ucapan Rain melintas di pikirannya. Ia teringat saat menelpon Stuard dan Rain yang mengangkatnya, dan mengatakan bahwa Stuard sedang pergi ke pesta bersama Magdalena. Rupanya, saat itu Rain kecepolosan mengatakan pada Simma.


Magdalena, bukan nama yang asing di telinga Simma. Sejak awal, Simma tau siapa Magdalena. Ia tau, bahwa wanita itu tertarik pada suaminya.


Sakit? Tak usah di tanya sesakit apa hati Simma saat mendengar itu dari Rain. Sebelum terjadi kejadian Gabby yang memecahkan Guci. Stuard mengajaknya dan anak-anak berlibur ke Hawai untuk sekaligus mengajaknya dan kedua putra-putrinya untuk menghadiri pesta koleganya.


Tapi setelah Gabby memecahkan guci milik Stuard, Stuard pergi ke Hawai seorang diri dan ia mendengar bahwa Stuard pergi bersama wanita lain.


Hancur, Simma kembali ke titik terendah dalam hidupnya. Magdalena, wanita itu begitu cantik, mempesona dan dari keluarga terpandang.


Stuard lelaki normal, ia sepadan dengan Magdalena. Mustahil jika Stuard tak tergoda dengan wanita secantik Magdalena, buktinya mereka bisa bertemu di Hawai dan pergi ke pesta bersama-sama.


Simma melepaskan cincin pernikahannya karena ia merasa, terlalu percuma untuk tetap bertahan.


Mungkin, jika Gabby dan Gabriel anak kandung Stuard, Stuard akan berlapang dada dan takan mempermasalahkannya apalagi sampai harus bersikap berbeda bahkan sampai menatap dingin pada kedua anak yang bahkan tak mengerti apa-apa.


Kini, Simma juga sadar. Kenapa Stuard tak ingin memiliki lagi anak darinya, Stuard tak ingin, anaknya lahir dari wanita hina dan wanita kotor seperti Simma.


Ia yakin, bahwa selama ini Stuard ingin melepaskan diri dari Simma dan kedua anaknya, mustahil lelaki sesempurna Stuard mau hidup dengan wanita kotor sepertinya dan mengasuh kedua anak yang bukan darah dagingnya. ia juga yakin Stuard terasa sungkan untuk mengatakan keinginannya. Hingga ia sadar diri dan memilih pergi membawa Gabby dan Gabriel.


Lamunan Simma buyar setelah mendengar suara derap langkah, ia menggapus air matanya, kemudian menoleh kebelakang. Muncul sosok Stuard masuk kedalam kamar. Belum Simma berkatak sepatah kata pun. Stuard sudah berlari, menerjangnya dan memeluknya.


Tubuh Simma menegang saat Stuard memeluknya. Dia mencintai Stuard, sangat mencintai Stuard, dan ia akui, ia merindukan Stuard, ia rindu pelukan suaminya. Tapi sayang ... hatinya sudah tak sama lagi seperti dulu. Walaupun rindu, tapi kali ini, pelukan Stuard begitu menyakitkan.


Stuard memeluknya begitu erat, Simma berusaha mati-matian agar ia tak mengeluarkan air matanya, padahal satu kali kedipan saja. Sudah di pastikan air mata akan mengenai wajah cantiknya.


Pelukan Stuard begitu nyaman, dan juga sangat menyakitkan. otak Simma mengembang, seolah semua rasa melebur menjadi satu.


Scroll lagi iess