Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
54


Setelah Gia masuk kedalam kamar, Zayn bangkit dari duduknya. Ia berjalan kearah pintu kamar Gia. Zayn bisa mendengar bahwa Gia sedang menangis.


"Maafkan aku, Gia. Setelah ini aku berjanji akan menebus semuanya padamu. Terimakasih telah bertekad akan membesarkan anakku. Tapi, aku berjanji, aku takan membiarkanmu membesarkannya seorang diri. Jika saatnya tiba, aku akan menemani kalian," lirih Zayn dalam hatinya saat mendengar Gia menangis dan Zayn tau Gia sangat terpukul. Zayn pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari apartemen Gia.


Saat berjalan ke basament, ada beberapa orang yang mencurigakan. Zayn bersikap senormal mungkin berpura-pura tak menyadari. Beruntung saat Gia belum datang dia sudah menyimpan cctv secara diam-diam di apartemen Gia.


Saat di dalam mobil, dia masih merasa di ikuti. Dan benar saja, orang-orang yang tadi berada di basement mengikuti dirinya sampai ke mobil. Ia bisa bernapas lega saat orang-orang tadi mengikutinya. Setidaknya Gia aman.


Zayn pun kembali memacu mobilnya untuk kembali ke perusahaannya.


"Mark, aku akan menikah besok. Siapkan segalanya!" titah Zayn saat menghampiri Mark yang berada di mejanya.


"Menikah ...Besok! apa kau bercanda Zayn?" Mark menjawab dengan nada terkejut. Bagaimana bisa ia mempercayayi ucapan Zayn yang akan menikah.


"Aku akan menikahi Gia! urus semuanya sekarang dan jangan bertanya lagi!" seru Zayn saat Mark terlihat akan kembali membuka mulutnya.


•••


Waktu menunjukan pukul 12 malam, Zidan pun turun dari kamarnya untuk mengambil charger ponselnya yang ia letakan dalam mobil. Saat turun, la melihat Albert akan keluar dari mansion. Namun, yang membuat Zidan heran, Alberth keluar secara diam-diam.


Zidan yang curiga, akhirnya menghentikan langkahnya. Tiba-tiba, ia penasaran pada Alberth yang keluar tengah malam.


Beruntung dia sudah mengambil kunci mobil, saat Albert sudah melewati pintu dan keluar dari Mansion. Zidan pun mengendap-ngendap mengikuti langkah Alberth.


Zidan semakin mengerutkan keningnya kala melihat Alberth menaiki mobil tanpa supir. Karena setaunya, Alberth tak pernah menyetir sendiri.


Rupanya, Albert pergi karena mendengar kabar dari anak buahnya bahwa Josh hampir saja melarikan diri. Ya, setelah Josh hampir saja bebas dan tinggal selangkah lagi keluar dari tempat penyekapannya, anak buah Albert yang tadi di kurung Josh di kamar mandi pun berteriak dengan keras.


Saat anak buah Albert mendengae teriakan, mereka pun langsung mencari Josh ke sekeliling rumah. Dan mereka menemukan tempat Jos bersembunyi. Albert yang mendengarnya merasa geram. Ia pun berpikir harus menangani Josh seorang diri


Tanpa Albert sadari, ada mobil yang mengikutinya sedari tadi.


Zidan berusaha menjaga jarak agar ayahnya tak menyadari bahwa ia mengikutinya. Apalagi ia memakai warna mobil yang mencolok.


Kening Zidan mengkerut bingung saat melihat Alberth mendatangi sebuah rumah. Saat Albert turun, ia pun ikut turun. Tapi sayang, gerbang itu langsung di tutup kembali kala Albert masuk.


Zidan pun dengan perlahan mendekat kearah rumah itu, ia mencari celah untuk mengintip. Saat dia sudah mendapatkan celah untuk melihat kedalam. Matanya membulat sempurna saat Albert berbicara dengan seseorang yang sedang terikat di kursi.


Setelah Josh ketauan melarikan diri, Anak buah Albert tak membawa Josh ke ruang yang selama ini Josh tinggali. Mereka mengikat Josh di kursi dan menunggu Albert datang.


Karna suasana yang sepi, Zidan bisa mendengar apa yang Albert bicarakan. Tak lama, dia mendengar ucapan Albert pada orang yang sedang diikat yang tak lain adalah Josh. Zidan menutup mulut saat mendengar kebenaran yang selama ini dia curigai tentang dirinya dan Zayn. Tak perlu menunggu hasil tes dna keluar, dia sudah mengetahui jawabannya. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, dia bergidik. Ia tak sanggup lagi mendengar kebenaran dari mulut Albert. Ia pun memutuskan untuk pulang.


Saat Zidan akan berbalik, dia menginjak daun kering.


"Siapa disana!" teriak salah satu anak buah Albert.


Zidan ....,