Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
264


Josh berjalan ke arah brankar Ariana dengan pelan. Ia takut membangunkan putrinya dan takut, Ariana akan kembali lagi mengamuk seperti tadi.


Setelah tadi sampai di rumah sakit, Ariana kembali mengamuk saat tersadar, bahwa Josh menggendongnya. Dan Ariana baru bisa ditenangkan setelah satu jam mengamuk.


Josh mendudukan dirinya di kursi, ia menatap Ariana dengan mata berkaca-kaca. Kini, ia bingung. Bagaimana caranya ia harus menggapai maaf dari putrinya. Melihat ia saja Ariana langsung mengamuk, apalagi jika Josh mendekatinya.


Ia mengelus rambut Ariana dan mencium kening putrinya. Tangis Josh luruh. Ia juga memikirkan, bagaimana jika Ariana tau bahwa Briana sedang mengandung. Josh yakin, Ariana akan membenci adiknya. Karena anak yang sekarang di kandung Briana tak akan merasakan kepahitan yang sama seperti Ariana rasakan.


Dan hal ini pula menjadi alasan kenapa Josh tak ingin Gabby dan Gabriel mengetahui bahwa ia ayah mereka. Selain tak ingin membuat Gabby dan Gabriel bingung dengan status ayah mereka. Ia juga tak ingin Ariana merasa minder dengan Gabby dan Gabriel.


Satu Minggu kemudian.


"Ariana buka pintunya, Sayang!" panggil Josh saat Ariana menutup pintu kamarnya. Hari ini, Ariana dan Briana sudah pulang dari rumah sakit..


Selama seminggu ini, reaksi Ariana selalu sama jika bertemu dengan Josh dan juga Briana, ia akan mengamuk dan menjerit.


Dan saat sampai di mansion. Ariana mendahului turun dari mobil dan berjalan ke paviliun, tempat selama ini ia tinggal seorang diri.


Luka Ariana sudah sangat


besar dan menganga. Bagi gadis kecil itu, semua sudah tak berarti lagi. Sekarang, ia tak menginginkan apapun lagi.


Ia sama sekali tak tersentuh dengan perhatian Josh dan Briana. Hati gadis kecil itu sudah mati, dan tertimbun dengan luka dan kecewa yang sangat luar biasa.


•••


"Gabby awassss!" teriak Gabriel saat Gabby berlari. Gabby tak mendengarkan teriakan Gabriel..Gadis kecil itu terus saja berlari, hingga tak sengaja ia memecahkan guci kecil di atas nakas.


"Bukankah sudah kubilang jangan berlari!" omel Gabriel yang mendekat ke arah Gabby.


"Ada apa ini?" tanya Simma yang menghampiri Gabby dan Gabriel. Belum Gabby dan Gabriel menjawab, mata Simma membulat saat melihat Guci kesayangan suaminya pecah.


"Ga-Gabby, Ga-Gabriel," ucap Simma, sedangkan Gabby dan Gabriel langsung menunduk.


"Kenapa kalian di sin ...." ucap Stuard yang tiba-tiba menghampiri anak dan istrinya. Ucapannya terputus saat melihat Guci kenangan bersama orang tuanya pecah dan berserakan di lantai.


Mata Stuard berkaca-kaca. Jantungnya terasa terbelah oleh belati. Hanya itu, kenangan Stuard bersama kedua orang tuanya. Tapi sekarang ...


"Da-Daddy ...." lirih Simma dengan terbata-bata. Ia bisa melihat wajah suaminya yang kecewa.


Stuard tersadar, kemudian tersenyum. "Aku akan berganti pakaian dulu," ucap Stuard, tanpa mendengar lagi jawaban Simma, Stuard pun berbalik dan meninggalkan anak istrinya.


Gabby dan Gabriel masih tertunduk. Mereka berdua merasa bersalah. Simma yang mengerti apa yang di rasakan oleh kedua putra putrinya, langsung berjongkok dan memeluk Gabby dan Gabriel secara bersamaan.


"Tak apa-apa, Mommy akan bicara pada Daddy. Setelah Mommy bicara pada Daddy, kalian minta maaf pada Daddy oke?" ucap Simma. Gabby dan Gabriel pun mengangguk secara bersamaan. Setelah mengatakan itu, Gabby dan Gabriel pun bergandengan tangan untuk pergi ke kamar mereka.


Setelah kedua putra putrinya pergi, Simma pun pergi ke kamarnya. Namun, Stuard tak ada di kamar. Akhirnya, Simma pun pergi ke ruang kerja suaminya.


Saat ia akan mengetuk pintu, pintu terbuka dari dalam. Simma bisa melihat sisa air mata di mata suaminya.


"Aku harus kembali ke kantor, ada pekerjaan yang harus aku tangani. Aku akan kembali secepatnya," ucap Stuard sambil tersenyum. Tanpa mendengar lagi jawaban Simma, Stuard pun melenggang pergi meninggalkan Simma, membuat Simma diam mematung.


Hate komen blok. 😎


Ceritanya melipir dulu ke Daddy Stuard ya soalnya aga kangen sama daddy Stuard dan Mommy Simma. 🤭🤭