Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
271


Saat berada di dalam mobil, Gabby duduk di pangkuan Simma, sedangkan Gabriel duduk di sisi ibunya. Gabby dan Gabriel masih terdiam, begitu pun Simma. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kalian ganti baju dulu, oke. Mommy akan menyiapkan makanan untuk kalian," ucap Simma setelah mereka sampai di mansion. Gabby dan Gabriel pun mengangguk lesu, mereka bergandengan tangan untuk pergi ke kamar.


••••


waktu menunjukan pukul 10 malam, Simma yang sedari tadi berdiam diri di balkon memutuskan masuk karena udara semakin dingin. Ia menutup pintu dan berjalan ke arah ranjang.


Simma mendudukan diri di ranjang, lalu membambil ponselnya. Ia mencari nomer Stuard dan menimang-nimang untuk menelpon suaminya. Ini sudah dua hari Stuard pergi, dan sama sekali tak menelpon Simma.


Walaupun dua hari lalu, Stuard sudah membuat kecewa anak-anaknya. Simma tetap berusaha untuk memahami Stuard, dan terus memberi pengertian pada Gabby dan Gabriel. Di tengah rasa kecewanya yang hebat, Simma masih mengingat semua kebaikan Stuard selama ini.


Tapi sedari tadi, perasaanya di Landa tak tenang. Sedari tadi, ia ingin menelpon Stuard tapi ia terus menahannya. Namun, semakin di tahan. Hatinya semakin tak tenang.


Pada akhirnya, Simma menyerah. Ia memutuskan untuk menelpon Suaminya


Jari Simma berselancar mencari nomer ponsel suaminya. Setelah itu, ia menempelkan ponselnya ke telinga.


Berdering


Simma bisa bernapas lega ketika ponsel Stuard berdering, setidaknya Stuard bisa di hubungi. Dan tak lama, panggilan nya di angkat.


"Dad ...." lirih Simma saat panggilannya terangkat. Baru saja Simma akan berbicara, ia menghentikan niatnya karena bukan Stuard yang menjawab panggilannya melainkan Rain, sekretaris Stuard.


"Ra-Rain, dimana Stuard?" tanya Simma.


Tak lama, Simma menurunkan ponsel dari telinganya saat mendengar jawaban Rain tentang Stuard. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya, saat mendengar jawaban Rain.


Simma terdiam, ia merenung dalam waktu yang lama. Setelah merenung, ia berjalan ke arah dinding, di mana terpajang fotonya dan Stuard.


Simma berdiri di hadapan foto itu, lalu menatapnya lekat-lekat. Kemudian ia tersenyum getir, bibirnya bisa saja tersenyum. Tapi, matanya tak bisa berbohong. Bahwa saat ini, hatinya sedang hancur berkeping-keping.


"Stu, kau terlalu sempurna untuk kami, kau bagai dewa di kehidupan kami, jika kau tak bisa melepaskan kami karena merasa sungkan. Maka kamilah yang akan melepaskanmu," lirih Simma dengan berderai air mata. "Kau lelaki baik, Stu. Kau pasti bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih," ucapnya lagi sambil menunduk. Air mata mengenang, sesak itu semakin terasa.


Pintu kamar terbuka, membuat Simma menoleh. Ia menghapus air matanya saat melihat Gabby dan Gabriel masuk kedalam kamarnya.


"Kenapa kalian belum tidur, hmm?' tanya Simma saat mendekat ke arah kedua anak kembarnya. Ia menuntun tangan Gabby dan Gabriel lalu mereka pun duduk di sofa.


"Kalian kenapa belum tidur?" tanya Simma lagi saat Gabby dan Gabriel tak menjawab. Namun, Gabby dan Gabriel masih tak menjawab. Mereka malah menunduk dalam-dalam


"Gabby ... Gabriel!" panggil Simma lagi.


"Mommy bolehkah kami menginap di rumah Aunty Audrey saja," jawab Gabriel, membuat kening Simma mengernyit.


"Kenapa kalian ingin menginap di rumah Aunty Audrey?" tanya Simma.


"Mommy, Daddy tak pulang pasti karena membenci kami. Jadi, kami akan pergi agar Daddy pulang," lirih Gabby.


Nyessss


Sungguh, Simma tak menyangka, ucapan itu terucap dari bibir kedua anak kembarnya. Ia tak menyangka, bahwa pikiran kedua anaknya bisa sampai jauh seperti ini.


Simma tak bisa berkata apa-apalagi. Ia merangkul tubuh kedua putra putrinya, mendekap mereka begitu erat.


"Kita akan pergi bersama-sama, Sayang. Kita akan pergi dari sini." tangis sesegukan lolos dari bibir Simma. Ia mengigit bibirnya, menangis dalam diam karena ini terlalu menyesakkan.


••••


Scroll lagi iesss 😉 nih aku udpate 3 bab