Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
337


“Carla!” bentak Briana. Ia tak menyangka sang putri akan bersikap begitu pada Josh.


Carla tersadar, ia langsung menormalkan ekpresinya. Gadis kecil yang sebentar lagi menginjak 15 tahun itu kembali bersandiwara.


Mungkin Carla dan Ariana seperti kaka adik lainnya. Hanya yang berbeda adalah pada Ariana yang mengalah. Tapi, berbeda dengan Carla. Seiring berjalannya waktu, ia mengerti apa yang terjadi pada Kaka dan kedua orang tuanya.


Dan sejak mengerti semuanya, Carla semakin menjadi-jadi. Ia selalu mencari perhatian pada kedua orang tuanya dan selalu bersikap manis di hadapan ayah dan ibunya. Ia seakan haus perhatian dan ia tak rela ayah dan ibunya berbagi perhatian pada Ariana, sang Kaka.


Karena tau Ariana selalu menolak untuk bermain dengannya, Carla selalu berpura-pura mendekati Kakanya dan membuat Kakanya marah hingga saat orang tuanya datang menghampiri, ia akan di anggap sebagai orang yang teraniyaya dan Ariana akan di cap buruk oleh orang tuanya.


Ia selalu sengaja memamerkan semua pada Ariana. Ia ingin sang Kaka iri padanya. Termasuk saat kejadian di Restoran. Saat itu, ia menyadari bahwa yang duduk di depan meja yang di dudukinya dan di duduki kedua orang tuanya, adalah Ariana.


Saat itu, jiwa jahatnya bangkit, ia mengeraskan suaranya saat meminta laptop baru dan ingin pergi ke Korea. Kesenangannya semakin menjadi-jadi saat kedua orang tuanya menyetujuinya dan dia semakin berada di atas awan.


“Ma-maksudku ....” Carla menghentikan sejenak ucapannya. Lalu mendudukan diri di sebelah Josh. “Maksudku, jika Daddy merasa tak enak badan. Daddy bisa beristirahat dan Mommy temani Daddy. Aku bisa bersama teman-temanku.” kata Carla. Ia berbicara semanis mungkin, meyakinkan kedua orang tuanya.


Helaan nafas terlihat dari wajah Briana. Ia mengelus rambut sang putri, “Mommy rasa, Daddy memang perlu beristirahat. Apa semua temanmu sudah datang ke Korea?” tanya Briana.


“Sudah Mommy, mereka menginap di hotel yang sama dengan kita.“ jawab Carla. Matanya berbinar saat ibu dan ayahnya tak akan mengikutinya.


“Kalau begitu hati-hati. Jangan pulang terlalu malam,” sela Josh yang menimpali ucapan istri dan anaknya.


••••


“Kau masih datang ke kampus? Apa skripsimu belum selesai?” Tanya Gabriel yang menghampiri Ariana. Gabriel mengernyitkan keningnya saat wajah Ariana berseri-seri.


Ariana menggeleng. “Gabriel ayo ke kantin,” ajak Ariana. Dengan senang hati, Gabriel pun mengikuti ajakan Ariana.


Langkah Ariana terasa ringan, Bunga-bunga sedang tumbuh di hatinya, beban yang selama ini di tanggungnya seoalah sirna.


“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau berada di kampus,” kata Gabriel. Ia menarik kursi untuk Ariana. Lalu, setelah Ariana duduk. Ia pun ikut duduk.


“Gabriel ayo pesan makanan terlebih dahulu,” kata Ariana, lagi-lagi Gabriel menggeleng saat Ariana mengalihkan pembicaraan.


10 menit kemudian, segelas jus dan kentang goreng terpampang di hadapan Gabriel dan Ariana.


“Ariana apa kau belum sarapan?” tanya Gabriel ketika Ariana menyeruput jus yang di depannya hingga tandas.


Belum Ariana menjawab, ponsel di tasnya berdering. Satu pesan masuk dan ternyata dari Justin.


[”You are mine, Baby”] Tulis Justin dalam pesannya.


Melihat pesan dari Justin, Ariana langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh Kantin. Hingga pandangannya terhenti di meja ujung, sosok Justin sedang duduk dan menatapnya


Rupanya, saat ia akan mengajar, ia melihat Ariana dan Gabriel di kantin, hingga ia memutuskan untuk mengawasi Ariana. Ia membatalkan niatnya untuk mengajar dan meminta dosen lain untuk bertukar jadwal dengannya.


Lelaki itu sudah lama menunggu untuk bersama dengan Ariana, setelah Ariana ada di dalam genggamannya, tentu saja ia tak akan membiarkan lelaki lain mendekati kekasihnya, sekalipun itu Gabriel yang ia tau adalah sahabat Ariana.


Scroll