Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
112


Mau promo lagi, tapi jangan di buli ya mak. Plis jangan buli otor karena promo di lapak otor sendiri ya. Barangkali ada yang mau ikut dan baca Lihat aku suamiku season 2.


Masih di lapak Gani dan Mahira, kalian bisa baca season dua mulai bab 58


dan untuk bab di bawah, adalah cuplikan bab 64, cuplikan bab di bawah cuman setengah bab aja ya. Di saja juga udah ada bah terbaru lho.


Jangan di buli ya, takut mood down dan nanti malem malah ga dapet mood buat nulis zayn. Aku tau kok, kalian baik-baik. Hujat blok. ga suka skip aja ya. Zayn upload malem ya, Doain otor khilafya mana tau up buanyak 🤣🤣


Lututku melemah, aku terpekik kaget saat melihat rekaman di layar. Dua orang yang sedang bersetubuh, tapi terlihat jelas pemeran wanita itu adalah aku. Tapi kenapa, jelas-jelas aku tak melakukannya.


Aku semakin was-was, saat ayah turun dan menatapku dengan rahang yang mengeras. Ia menarik tanganku dengan kasar, aku meringis. Tapi, dia tak perduli. Aku malu, sangat malu.


Di hadapan banyak orang, Ayah kandungku memerlakukan aku seperti binatang. Runtuh sudah harga diriku karena dirinya.


Murahan.


Satu kata itu membuatku hancur, lelaki yang selama ini aku sayangi melebihi siapa pun di dunia ini, tega mengatakan itu padaku.


Duniaku seakan runtuh, kakiku seakan tak berpijak. Tubuhku limbung.


Ayah, aku putrimu. Tak bisakah kau bertanya baik-baik padaku. Ayah, taukah engkau, bahwa selama ini aku berkorban untukmu. Melindungimu, melindungi Bunda dan melindungi kedua adikku.


Ayah, taukan engkau. Terkadang aku selalu merasa sirik pada Khaila dan Albi. Kasih sayangmu pada mereka begitu nyata, tapi padaku ... Ya, aku tau kau pun menyayangiku. Tapi, tetap saja. Aku bisa melihat bahwa rasa sayangmu lebih besar pada mereka.


Walau terkadang aku merasa cemburu, tapi aku tak membenci mereka, aku menyayangi kedua adikku. Dan Bunda ... Tak di pungkiri, kau pun begitu memperioritaskan Bunda.


Ayah, kau begitu memperioritaskan mereka. Tapi, kau lupa, aku pun ingin menjadi salah satu prioritasmu. Walau aku anak pertamamu, dan di tuntut untuk jadi yang terbaik. Bukan berarti aku tak butuh dirimu.


Jika aku sakit, kau hanya akan bertanya padaku tanpa memberi solusi, tapi jika Khaila dan Albi yang sakit, kau akan langsung panik, seolah mereka akan meregang nyawa. Taukah engkau ayah, sikapmu membuatku sakit. Beruntung Bunda tak seperti dirimu, hingga aku sedikit terhibur. Tapi, tetap saja aku butuh dirimu.


Jika mereka ulang tahun, kau terlihat sangat antusias, memersiapkan semuanya. Tapi, saat aku ulang tahun. Kau bahkan tak mengingatnya bahkan setelah kau ingat, kau hanya memberikan ku kueh dan hadiah, tak pernah ada kata maaf karena kau melupakan hari ulang tahunku


Kau selalu bilang, jika aku ingin sesuatu, aku harus menabung terlebih dahulu, agar aku mandiri dan tak bergantung. Tapi, jika Albi dan Khaila meminta sesuatu padamu, kau langsung memberikannya. Bahkan, kau mengantar mereka.


Taukah kau ayah, kenapa aku membuka restoran tanpa memakai uangmu. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa dan tak bergantung padamu. Aku berharap kau bangga karena aku berhasil. Tapi, aku salah. Kau malah mencemooh restoranku yang baru ku rintis.


Ayah, taukah engkau. Saat kau terlihat bahagia bersama mereka, hatiku sakit Karena tanpa sadar, kau bahagia tanpa melibatkanku.


Berulang kali, aku mencoba menguatkan diriku ketika kau lebih memilih bersama mereka, mengajakku pun hanya sekedar mengajak. Walau pun berkata aku tidak mau atau tidak ingin ikut. Kau tak pernah memaksaku, seakan ada atau tidaknya kehadiranku tak penting untukmu.


Aku menahan semua kepelikan hidupku seorang diri. Bahkan ketika Alfian datang, aku mengorbankan diriku sendiri. Menjadi pelampiasan amarahnya, itu semua karena aku ingin melindungi kalian.


Saat kau mengatakan aku murahan, saat tanganmu terayun untuk menamparku, Saat itu pula aku menyadari sesuatu.


Aku sama sekali tak berharga bagimu. Kau cinta pertamaku, kau mematahkan hatiku, kau membuat duniaku hancur. Aku menyerah ayah. Setelah ini, aku rasa, aku tak sanggup untuk melihatmu lagi. Terimakasih.


Dita Pov end.


"Darah!"