Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
199


Stuard terpaku saat Simma menggengam tangannya. Ia menoleh ke arah Simma dan membalas senyuman Simma.


"Stu, bawa aku pergi dari sini. Ada Josh, perutku mual sekali," ucap Simma. Di tengah rasa puasnya karena berhasil membuktikan pada Josh. Ia kembali merasa mual. Reaksi yang sama setiap ia melihat Josh.


Stuard mengerti, ia pun mengangguk. Lalu mbalas genggaman tangan Simma dan mengajak Simma untuk berbalik dan pergi.


Stuard tau, Simma sudah ingin muntah. Ia pun bergegas untuk mengajak Simma ke toilet.


"Sudah baikan?" tanya Stuard saat Simma keluar dari kamar mandi.


Simma menggeleng, kemudian memegang perutnya. "Aku sungguh lemas, Stu," jawab Simma. Stuar pun dengan cepat membingbing Simma dan mengajak Simma untuk masuk ke dalam restoran. Sepertinya, Simma memuntahkan semua makanan yang sudah di makannya.


"Stu, kenapa kau memesan sebanyak ini?" tanya Simma saat makanan datang.


"Simma, uangku masih cukup untuk membayar makanan ini. Jadi jangan menolak. Kedua anakku harus mendapat gizi terbaik," ucap Stuard. Membuat Simma langsung tertunduk. Ia mengelus perutnya.


Hati Simma menghangat saat Stuard begitu memerhatikan dirinya dan memerhatikan kedua calon anaknya. Ia pikir, ia akan sendiri. Tapi, ada lelaki asing yang baru di kenalnya dan begitu perduli pada dirinya. Sedangkan ayah dari kedua anaknya, sama sekali tak memerdulikan kedua calon anaknya.


"Simma, apa aku berbuat salah? apa kau tak suka makanan ini, apa kau ingin makanan yang lain?" tanya Stuard bertubi-tubi. Membuat Simma terisak. Lihatlah, lelaki di depannya ini begitu perduli padanya.


Simma mengangkat kepalanya. Ia menghapus air matanya lalu tersenyum. Lalu ia memberanikan diri menggenggam tangan Stuard.


Walau pun Stuard sudah mengungkapkan perasaannya, Tak di pungkiri, Simma kerap merasa tak nyaman saat Stuard memberi perhatian lebih padanya. Tapi di titik ini, Simma menyadari sesuatu. Stuard adalah lelaki yang tulus padanya.


Namun sekarang, ada lelaki yang tak tau apa-apa, malah ingin melindunginya dan kedua anaknya. Dan di titik ini, Simma memasrahkan semuanya. Ia akan membuka hati dan berusaha melupakan Josh dan semua kenangan yang menyakitkan, fokusnya ingin sembuh dan bahagia


"Simma, apa kau ingin makanan lain?" Tanya Stuard ketika Simma menggegam tangannya.


Simma menggeleng, "Ini sudah cukup Stuard, terimakasih," jawab Simma. "Bisakah kau memotongkan steak untukku?" tanya Simma. Stuard pun mengangguk dengan antusias. Ini, pertama kalinya Simma meminta tolong padanya, karena biasanya, dia lah yang akan memaksa untuk membantu Simma.


•..


Briana masih terdiam di tempat, ia sudah keluar dari toilet sedari tadi. Hanya saja, langkahnya terhenti kala melihat tatapan Josh yang sedang menatap Simma.


Bri menyadari Josh menatap Simma dengan tatapan yang berbeda. Tiba-tiba, ada rasa sesak yang menghimpit dada Bri, membayangkan bahwa Josh adalah ayah dari yang bayi di kandung Simma dan Josh akan meninggalkannya.


Bri menggeleng, lalu berusaha tersenyum, kemudian meyakinkan dirinya sendiri bahwa Josh tetap mencintainya dan tetap akan berada di sampingnya.


Saat Simma sudah pergi bersama lelaki yang berada di sampingnya, Bri pun kembali berjalan ke arah Josh. "Josh!" panggil Bri, Josh pun tersenyum.


"Kau sudah selesai?" tanya Josh. Bri pun mengangguk. "Josh aku ingin pulang, bisakah kita pulang saja."


Josh pun mengelus rambut Briana, lalu tersenyum dan mengangguk.


Scroll lagi iesss