
Setelah, Mark keluar dari ruangannya. Zayn tersenyum. Sebelum Mark datang memberitaunya, ia sudah tau bahwa Gia hamil, karena anak buahnya yang ia tugaskan mengawasi Gia sudah memberitaunya.
Seringai Zayn semakin lebar saat dirinya membayangkan bagaimana hancurnya adik tirinya saat dia membawa Gia sebagai pengantinnya.
°°°°
Setelah pulang dari kantor, Zayn memutuskan untuk pergi ke restoran kesukaannya.
Saat dia sedang duduk menunggu pesanannya. Seseorang menarik kursi yang berada di hadapannya.
"Bagaimana kabarmu, Zayn?" tanya orang itu yang tak lain adalah Santosh.
"Paman Santos!" Zayn melihan Santosh lekat-lekat. Tiba-tiba ia merasakan kepalanya berdenyut nyeri. tiba-tiba sekelebat kejadian-kejadian dulu melintas di otaknya. Seketika Zayn langsung tak sadarkan diri.
Santosh yang berada di depannya terhenyak kaget saat melihat tubuh Zayn terjatuh di lantai. Ia memanggil pelayan untuk membantu Zayn.
••
Zayn membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjap pandangannya, keningnya mengkerut bingung saat dia melihat dinding berwarna putih.
"Kau sudah bangun, Zayn?" tanya Santosh yang sedari tadi menemani Zayn di ruang rawat.
Mendengar suara Santosh, Zayn pun bangkit dari tidurnya. Zayn menatap Santosh dengan linglung. Tak lama kepalanya kembali berdenyut. Ia memejamkan matanya, tiba-tiba, kilas masa lalu melintas di otaknya.
Dan kini Zayn mengingat semua.
"Gia!" lirih Zayn saat ingatan tentang penculikannya kembali. Dia ingat, wanita yang dulu di culik bersamanya adalah Gia.
Zayn pun turun dari ranjang, dan berjalan kearah Santosh. "Urusan kita belum selesai," ucap Zayn sambil mencengkram leher Santosh dan setelah itu ia melepaskan cengkramannya secara kasar. ia pun keluar dari ruang rawat yang di tempatinya.
Ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, dan menelpon anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi Gia.
Anak buahnya mengatakan jika Gia sedang berada di pantai. Zayn terhenyak kaget saat mendengat kata pantai. Ia takut Gia akan berbuat nekad.
Ia pun menaiki taxi, dan berniat kembali ke restoran untuk mengambil mobilnya. Sepanjang jalan, ia mengutuk dirinya sendiri. Tanpa sadar ia menyakiti wanita yang telah kehilangan ibunya, karena ibu Gialah Zayn bisa selamat. Dan kini berjuta sesal menyapanya, Ia sadar, ia telah menorehkan goresan luka di hati Gia, tapi ia sadar, menyesal pun tak ada guna.
Zayn memajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia menelpon anak buahnya untuk menanyakan sedang apa Gia. Zayn sedikit tenang kala, ia mendengar anak buahnya mengatakan bahwa Gia sedang duduk di pasir.
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Zayn pun sampai di pantai. Ia langsung berlari kesana kemari mencari Gia. Tapi ia tak menemukan Gia di mana pun.
"Shitt!" teriak Zayn saat ponselnya kehabisan daya. Ia berencana menelpon anak buahnya untuk menanyakan keberadaan Gia.
Zayn pun kembali berlari kearah mobil. Ia mengetuk kaca mobil, tapi sepertinya anak buahnya sedang tertidur. Ia tak punya waktu untuk membangunkannya.
Karena mobil anak buahnya menghadap ke laut, Zayn yakin, Gia duduk tak jauh dari mobil anak buahnya. Itu sebabnya anak buahnya bisa tau aktivitas Gia.
Zayn berlari kearah laut, karena kondisi sangat gelap, ia lebih mempertajam penglihatannya.
"Sial!" teriak Zayn saat melihat ada wanita yang sedang berjalan di tengah laut dan itu dia yakin, itu adalah Gia.
Seketika Zayn melepaskan jasnya. Ia berlari menyusul Gia. Ia memanggil-manggil nama Gia, tapi suaranya tenggelam karena suara ombak.
Setelah berhasil mengejar Gia, Zayn pun dengan cepat menarik tangannya.
"Apa kau gila, Hah!" teriak Zayn.
Seketika Gia membuka matanya. Tak lama, mata ekor Zayn menangkap ombak yang akan datang, dengan cepat, ia menarik pinggang Gia dan memeluknya begitu erat, ia memeluk Gia untuk melindungi Gia dan calon anak mereka.
Zayn tidak melawan saat ombak datang, sebab jika dia melawan arus ombak mereka bisa terbawa ke lautan. ia membiarkan ombak menghantam mereka agar membawa tubuh mereka kedaratan.
"Gia peluk aku, apa pun yang terjadi jangan lepaskan tanganmu!" teriak Zayn saat ombak akan datang. Dan akhirnya ombak itu menghantam mereka.
Saat mereka tersapu ombak, Gia langsung tak sadarkan diri. Zayn yang menyadari tangan Gia tak berada di punggungnya lebih mengeratkan pelukannya.
Namun, belum sempat mereka kembali ke daratan. Tubuh Zayn menghantam batu karang, punggungnya tergores oleh bagian sisi batu, hingga batu itu merobek bagian punggungnya. Dengan sigap, satu tangannya berpegangan kearah batu karena takut ombak membawa mereka kembali, satu tanganya ia gunakan untuk menarik tubuh Gia agar menempel pada tubuhnya. Dalam titik ini, Zayn sungguh takut jika terjadi sesuatu pada Gia dan calon anaknya.
Setelah semuanya aman, Zayn berusaha bangkit, ia takut ombak akan datang kembali. Dengan segera ia memangku Gia, dan berlari kearah daratan. Tanpa Zayn sadari, darah terus mengalir dari punggungnya karena luka robek di punggung Zayn.
Saat sampai daratan. Ia langsung berlari mengambil jas yang tadi di ia lepaskan, saat sudah mengambil jas itu, ia langsung membalutkannya pada tubuh Gia. Setelah itu ia kembali memangku Gia menuju mobilnya dan berniat mencari rumah sakit terdekat.
Beruntung, tak lama dia menemukan rumah sakit, Zayn berteriak memanggil perawat agar segera memberikan pertolongan pertama pada Gia.
Setelah Gia ditangani, Zayn merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Tubuhnya tiba-tiba lemas.
"Tu-tuan, punggung anda!" ucap perawat saat melihat punggung Zayn yang masih mengeluarkan darah. Karena kemeja Zayn robek, darah itu pun menetes ke lantai.
Zayn merasakan matanya mulai memberat, lamat-lamat ia pun kehilangan kesadarannya.
Wah, setiap bab ada ketegangan ya bunds.