Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
246


"Mommy tunggu sebentar, kakiku lemas," ucap Ariana saat keluar dari ruangan kerja Josh. Sedari tadi, kakinya gemetar karena mendengar perdebatan yang cukup menegangkan.


Briana menghentikan langkahnya. "Tunggu sebentar, Sayang," ucap Briana yang berniat mengambilkan Ariana minum.


"Mommy jangan tinggalkan aku. Aku takut," ucap Ariana. Ia masih berada di rumah utama dan ia takut sang kakek akan datang dan melakukan hal buruk padanya.


Mendengar ucapan sang putri, jantung Briana seperti di tusuk ribuah jarum, hatinya teriris perih, batinyanya terasa tercubit saat mendengar putrinya berkata takut. Briana tak sanggup membayangkan bagaiamana perasaan putrinya selama ini, ia yakin, putrinya selalu hidup dalam ketakutan dan rasa sakit yang luar biasa.


Briana menekuk kakinya, ia menyetarakan diri dengan sang putri. "Sayang, maafkan Mommy," ucap Briana, membuat mata Ariana berkaca-kaca.


"Mo-mommy, bolehkah aku memanggilmu Mommy seterusnya?" tanya Ariana tanpa membalas ucapan Briana yang meminta maaf padanya. Ia masih tak percaya jika sekarang, ia bisa memanggil Briana Mommy, bukan lagi Aunty.


Tangis Briana semakin luruh saat mendengar ucapan sang putri. Ia mengambil tangan Ariana, lalu mengeluskannya pada pipinya. "Seterusnya, kau boleh memangil Mommy.. Mommy berjanji, Mommy takan meninggalkanmu lagi. Mommy akan selalu bersamamu dan menemanimu."


Jantung Ariana berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar ucapan Briana, tanpa menunggu lagi, ia langsung berhambur memeluk sang ibu.


Kini sepasang anak dan ibu yang selama ini hidup dalam belenggu saling berpelukan, melepaskan kerinduan dan melepaskan rasa sakit yang mendera mereka.


•••


"Daddy, kapan kita akan berberlanja buku dan perlengkapan sekolah?" Tanya Gabby pada Stuard yang sedang fokus pada laptopnya. Ia mendudukan dirinya di pangkuan sang ayah.


"Kau ingin kapan, hmm?" Tanya Stuard. Gabby tampak berpikir.


"bagaimana jika sore ini setelah Daddy pulang bekerja," jawabnya sambil memainkan dasi sang ayah.


"Kita harus pergi bersama Gabriel dan Mommy Sayang. Bagaimana jika besok?" Tanya Stuard. Ia menghentikan gerakan tangannya yang sedang memainkan keybord laptop dan langsung menatap wajah sang putri.


"Tapi belikan mainan, dan jangan bilang pada Mommy, oke," jawab bocah kecil itu.


"Tapi aku bosan, Dad memainkannya," jawab gadis kecil itu.


"Baiklah-baiklah aku mengerti," ucapnya lagi saat terlihat sang ayah akan membuka mulut, dan Gabby tau bahwa sang ayah akan membahas janji yang sudah di sepakati, bahwa Gabby dan Gabriel boleh membeli mainan sepuasnya hanya sebulan sekali.


Stuard tergelak dengan ucapan putrinya, ia mengelus rambut Gabby dengan penuh kasih sayang.


"Bagaimana jika kau bermain game di ponsel Daddy. dan Daddy akan meneruskan pekerjaan Daddy, agar kita bisa pulang secepatnya," ucap Stuard.


Belum Gabby menjawab, pintu di ketuk, sekretaris Stuard masuk kedalam ruangan. Seketika Stuard dan Gabby menoleh.


"Maaf Tuan. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa Tuan Josh sudah menunggu anda," ucap Rain, sekretaris Stuard.


"Baiklah, Suruh dia menunggu 10 menit. Setelah itu, persilahkan dia masuk," jawab Stuard, Rain pun mengangguk, lalu keluar dari ruangan Stuard.


"Daddy, apa dia Uncle Josh yang aku kenal?" Tanya Gabby, Stuard pun tersenyum dan menangguk. Gabby dan Gabriel pernah beberpaa kali bertemu Josh, gadis kecil itu tak mengerti kenapa ia sangat tak menyukai Josh.


"Daddy, aku sungguh tak suka padanya. Dia selalu menatapku dan Gabriel," jawab Gabby dengan mencebikan bibirnya. Gadis kecil itu sangat tak menyukai Josh.


Stuard


Hate komen blok 😎😎.


next bab di jelasin ya kenapa Gabby Gabriel iti ga tau Josh bapaknya, kenapa Zayn dan Zidan ga nolongin Ariana. terus gimana hubungan Josh sama Simma sama Stuard selama 9 tahun


Semua di next bab ya.