
“Kau akan pergi ke kantor lagi Amelia?” tanya sang ibu. Amelia pun mengangguk.
“Mommy, aku titip Grisya, aku ada urusan sebentar,” jawab Amelia. Setelah itu, ia keluar dari rumahnya dan menuju rumah sakit.
Tadi, setelah Grisya tenang, Amelia langsung membawa Grisya untuk pulang dan saat ini, ia harus kembali ke rumah sakit untuk memeriksa Gabriel secara profesional. Walau bagaimanapun, kasus Gabriel ada di tangannya dan Ia lah yang harus mengintrogasi Gabriel.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya, Amelia sampai di rumah sakit. Sebelum turun dari mobil, ia terdiam sejenak. Matanya menatap lurus kedepan. Jujur saja, hari ini hari terberatnya. Di mana dia harus mengintrogasi Gabriel, dan ia yakin, sekarang di rumah sakit itu ada Stuard.
Di sisi lain, Amelia merasa tak enak karena memasukkan Gabriel kedalam penjara. Walau bagaimana pun Stuard dan Simma, berperan penting dalam kebebasannya. Tapi, di sisi lain,Ia juga tak bisa mengabaikan hukum, karena dia adalah aparat kepolisian.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Amelia turun dari mobil. Kemudian masuk ke dalam rumah sakit, dan saat berjalan menuju ruangan rawat Gabriel, Amelia menghentikan langkahnya ketika melihat Stuard sedang berdiri di depan pintu.
Setelah menyiapkan dirinya, Amelia pun maju dan kembali melangkahkan kakinya, untuk menghampiri Stuard.
“Tuan!” panggil Amelia. Stuard tersadar, kemudian menoleh. Lalu, ia menghapus sudut matanya yang berair.
“Kau ingin mengintrogasi Gabriel sekarang?” tanya Amelia, ia menunduk kemudian mengangguk. Ia benar-benar merasa tak enak pada Stuard.
Mengerti apa yang dirasakan dirasakan Amelia, Stuard menepuk bahu Amelia. Hingga Amelia, mengangkat kepalanya. “Lakukan tugasmu, karena kau adalah seorang polisi. Jangan ragu menindaknya, jjika memang Gabriel bersalah,” ucap Stuard dengan bijak.
Amelia tersenyum kemudian menundukkan kepalanya. “Kalau begitu, saya permisi, Tuan.” Setelah mengatakan itu, Amelia mendorong pintu dan masuk ke ruangan rawat Gabriel.
Saat Amelia masuk, Amelia kembali menghentikan langkahnya ketika melihat Gebby dan Gabriel sedang berpelukan. Kemudian ia berdehem, menyadarkan Gebby dan Gabriel, hingga mereka melepaskan pelukannnya
“Hai, Amelia,” ucap Gebby. Amelia tersenyum samar. “Hallo juga nona Gebby!” jawab Amelia.
“Aku akan keluar, kalian bisa melanjutkannya berdua.” Setelah mengatakan itu, Gebby pun keluar dari ruang rawat Gabriel, hingga kini, di ruangan itu hanya ada Gabriel dan Amelia.
Jantung Gabriel berdebar tak karuan ketika melihat Amelia. Ia memalingkan tatapannya ke arah lain, untuk menyeka sisa air matanya.
Amelia terdiam, tatapan matanya beralih pada kaki Gabriel yang diperban, tentu saja itu karena luka tembakan yang ia lakukan pada Gabriel.
Amelia menghela nafas, Kemudian menghembuskannya beberapa kali. Kemudian mulai melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah berangkar Gabriel.
“Tuan Gabriel, saya detektif Amelia Gibson. saya akan memulai penyelidikan pada anda,” ucap Amelia dengan tegas. Sekarang ia adalah seorang polisi, bukan warga sipil.
Gabriel tidak menjawab, ia malah menatap Amelia dengan tatapan yang tak bisa di mengerti. Amelia menarik kursi, lalu mendudukkan diri di sebelah Gabriel. Kemudian ia membuka berkas yang tadi di bawanya.
“ Karena kondisi anda tidak memungkinkan untuk interogasi di kantor polisi, saya akan menginterogasi Anda di sini,” ucap Amelia lagi.
“Tolong jawab beberapa pertanyaan dari saya. Setelah interogasi selesai, kita bisa melakukan interogasi lanjutan di kantor kepolisian dan anda bisa didampingi pengacara Anda,” shung Amelia lagi.
Gabrielll...
wah udh up 3 bab, terlalu banget sih kalau Komen ga nyampe 400