Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
169


"Daddy, kenapa Daddy harus datang ke kantor polisi?" tanya Kelly menyela obrolan Zidan dan Audrey. Membuta Zidan langsung menoleh ke arah putrinya


"Daddy, hanya ada urusan sebentar, Sayang." Jawab Zidan. Ia mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. "Daddy boleh minta sesuatu padamu?" tanya Zidan, Kelly tampak berpikir kemudian mengangguk.


"Jika belum kembali dari sini. Berjanjilah untuk tak menonton televisi, bisakah Daddy meminta itu padamu?" tanya Zidan ia tak ingin putrinya melihat berita tentang dirinya yang menganiyaya Mariane. Kelly pun mengangguk. "Dan satu lagi ...." Zidan menggantungkan ucapannya dan melihat reaksi Kelly.


"Apa?" tanya Kelly.


"Hari ini bersenang-senanglah dengan Mommy, belilah apa yang kau mau, alat lukis, boneka, atau apa pun yang kau mau. Hari ini, kau dan Mommy harus menghabiskan uang Daddy, kau mengerti?" tanya Zidan, Kelly menggeleng tanda ia tak mengerti dengan ucapan Zidan.


"Memang Daddy menyimpan uang di Mommy?" tanya Kelly, membuat Zidan dan Audrey langsung tertawa. Kelly terbiasa menabung, hingga ia sedikit heran saat mendengar perintah Zidan.


"Ya, Daddy memberikan uang sangat banyak pada Mommy, jadi berbelanjalah sepuasmu," ucap Zidan lagi membuat Kelly menggeleng.


"Aku tidak ingin berbelanja dengan Mommy, aku ingin berbelanja dengan Daddy, karena aku ingin seperti teman-temanku yang selalu berbelanja dengan ayahnya," mendengar ucapan Kelly, seketika Audrey dan Zidan tertunduk. Mereka sadar, mereka terlalu banyak memberikan kesakitan untuk Kelly.


Kelly mengigit bibir saat melihat reaksi kedua orang tuanya. "Maksudku bukan begitu, Dad ... Mom. Aku ingin berbelanja bersama kalian berdua," ucap Kelly lagi, yang membenarkan ucapannya. Ia tak ingin membuat orang tuanya bersedih karena dirinya.


Audrey dan Zidan kembali mengangkat kepala mereka, Zidan langsung merangkul pundak Audrey lalu satu tangannya lagi merengkuh tubuh Kelly, hingga kini ... Zidan kembali memeluk Audrey dan Kelly secara bersamaan.


"Aku pasti akan cepat kembali," ucap Zidan pada Audrey. Audrey pun tersenyum dan mengangguk.


"Daddy pasti akan cepat kembali dan menemanimu berbelanja, " ucap Zidan pada Kelly.


"Jangan pergi terlalu lama, Dad," ucap Kelly lirih. Zidan menutup mata Kelly, lalu dengan secepat kilat, ia mencium bibir Audrey, lalu ia mencium pipi Kelly dan langsung keluar dari mobil.


"Mommy, apa Daddy akan baik-baik saja?" tanya Kelly, suaranya terdengar memberat pertanda ia ingin menangis. Matanya terus tertuju pada Zidan yang sedang berjalan dan di kerumuni oleh wartawan.


•••


Saat akan di priksa oleh kepolisian. Zidan meminta menunda untuk di periksa, ia harus menunggu pengacara keluarganya datang.


Suara derap langkah begitu nyaring terdengar di telinga Zidan, membuat ia menghela napas lega karena berpikir pengacaranya yang datang. Namun, wajah santainya berubah menjadi panik kala melihat bukan pengacaranya yang datang melainkan sang kaka Zayn.


"Dari mana saja kau!" bentak Zayn saat menghampiri Zidan yang sedang duduk.


Mendengar reaksi kakanya, Zidan bukannya takut, ia malah tersenyum saat menggoyang-goyangkan kakinya bak seorang anak kecil.


"Zayn, apa perusahaan baik-baik saja?" tanya Zidan dengan ragu sambil tersenyum kikuk.


"Isshh!" gerutu Zayn saat mendengar pertanyaan adiknya. " Pikirkan dirimu sendiri bodoh!" seru Zayn. Ia tak marah karena saham perusahaan turun. Sedari tadi, Zayn di buat gila dengan kabar Zidan yang menghilang. Walau bagaimana pun sang adik belum pernah berurusan dengan hukum dan ia sungguh takut bahwa adiknya berbuat nekad


Zidan yang melihat kekesalan di mata kakanya, menarik-narik celana Zayn. "Zayn, bebaskan aku dari sini!" ucap Zidan. Ia berbicara dan mengiba pada kakanya, ia merengek layaknya anak kecil membuat Zayn bergidik dengan tingkah adiknya.


"Kau membuatku geli!" seru Zayn sambil melepaskan tangan Zidan dari celananya.


"Zayn, aku rasa aku butuh pelukanmu," ucap Zidan lagi, ia menggoda Zayn karena Zayn masih terlihat panik.


"Apa ku ingin keluar dari sini dan masuk kedalam kandang harimauku?" tanya Zayn yang tak mengerti dengan adiknya. Semua dengan panik mencarinya tapi ia masih terlihat santai


Scroll lagi iesss.