Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
242


Ariana membuka kado itu dengan semangat. "Uwahhh!" girang anak kecil itu saat melhat kado yang di berikan Nancy.


Matanya berbinar takjub, saat melihat isi kado tersebut yang tak lain adalah sebuah ponsel. Sudah lama sekali Ariana ingin ponsel dan ingin menonton kartun kesuakaanya. Selama ini, Ariana selalu meminjam ponsel Nanci, sang pengasuh.


Ia membolak-balikan ponsel tersebut. Lalu, menyalakan tombol on, dan ternyata ponselnya sudah di setting.


"Kau suka, Ar?" tanya Nancy sang pengasuh.


"Nancy, apa aku merepotkanmu?" tanya Ariana tiba-tiba. Membuat Nancy bingung dengan yang di tanyakan oleh Ariana.


"Kenapa kau bertanya begitu, hmm?" tanya Nancy. Ia menghampiri Nancy dan duduk di samping Ariana.


"Kau pasti memberikanku ponsel karena aku sering meminjam ponselmu, kan?" tanya Ariana, membuat dada Nancy begitu sesak. Gadis kecil di depannya ini terlalu perasa. Ariana tersenyum, tapi mata gadis kecil itu berkaca-kaca.


"Tidak sayang. Sungguh, aku hanya ingin memberikan ini untukmu," jawab Nancy, dengan pelan, Ariana berbalik, dan memeluk Nancy. "Nancy maafkan aku," lirih Ariana, ia memeluk Nancy begitu erat, menyalurkan kesedihan yang selama ini ia pendam.


Nancy, membekap mulutnya sendiri saat mendengar Ariana terisak, Ariana jarang sekali menangis, tapi jika sudah menangis mampu menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya.


"Ariana, aku selalu di sini, akan tetap di sini menemanimu. Jadi jangan pernah kau merasa sendiri," ucap Nanci saat pelukannya terlepas.


"Nancy ...." panggil Ariana lagi. Ia kembali memeluk pengasuhnya, Ariana memeluk Nancy begitu erat, menyalurkan kesedihan yang selama ini ia pendam.


Bohong jika Ariana tak merindukan sebuah keluarga yang hangat, nyatanya ia ingin memeluk sang ibu, merasakan dekapan hangat sang ayah. Tapi, ia sadar. Sampai kapan pun harapannya takan terwujud, dan ia hanya bisa pasrah dan sadar bahwa ia hanya anak buangan.


•••


"Kau dari mana?" tanya Josh saat Briana masuk kedalam mansion.


"Briana, bukankah sudah ...."


"Josh, kumohon ... Hari ini ulang tahun putriku. Jadi jangan bahas apa pun tentang putriku," jawab Briana, membuat Josh terdiam seketika. Ia pun tak lagi menjawab ucapan Briana dan membiarkan Briana pergi.


Briana membaringkan dirinya di ranjang, ia meringkuk, bahunya bergetar, ia memeluk foto Ariana begitu erat. Ia ingin mendekap sang putri, menemani masa emas Ariana, tapi ia tak bisa. Nyawa Ariana lebih penting dari apa pun.


Ariana terus menatap jam di dinding, sedari tadi, ia sudah sangat mengantuk. Tapi ia harus menunggu jam 12 malam, ia ingin meniup lilin seperti biasa.


Dan akhirnya, waktu yang di tunggu Ariana pun tiba. Ia berjalan dengan pelan ke arah meja belajar miliknya. Ia mengambil gelas, lalu memasukan lilin kedalam gelas itu, setelah menyalakannya, Ariana tersenyum. Lalu menyatukan kedua tangannya dan mengepalkannya.


"Tuhan, aku tak meminta kedua orang tuaku menyayangiku. Aku tak ingin apa pun, Aku berjanji aku takan mengeluh lagi karena aku cacat. Tuhan, aku hanya ingin bersekolah, mempunyai teman, dan semoga kali ini Kau mengabulkan permintaanku." Setelah mengucapkan doanya, Ariana membuka matanya, lalu ia meniup lilin, kemudian ia menghapus air matanya.


"Mau aku temani tidur?" tanya Nanci yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Ariana.


"Apa kau tak keberatan?" tanya Ariana dengan menunduk, membuat Nancy langsung maju dan mengelus rambut Ariana.


"Ayo tidur," ajak Nancy


"Nancy turunkan aku, aku berat," pekik Ariana saat Nancy menggendongnya.


"Nancy, apa menurutmu keinginanku untuk sekolah akan terwujud?" tanya Ariana setelah berbaring.


"Tidak lupakan saja," ucap Ariana lagi saat Nancy terdiam ketika mendengar ucapannya. Sebesar apa pun keinginannya, setinggi apa pun harapannya. Ia tau, harapannya takan terwujud.


"Selama malam, Nancy," ucapnya lagi, ia berbalik membelakangi Nancy karena tak sanggup menahan tangisnya.