
"Kau mau apa kemari?" tanya Simma ia menatap Stuard dengan tatapan datar, ia menggenggam tangan Stuard saat Josh terus menatapnya.
Josh tersadar. "Tadinya aku ingin mengantarkan sarapan untukmu," jawab Josh. Membuat Simma berdecih pelan.
"Kami sudah sarapan, kalau begitu kami permisi," jawab Simma. Ia menarik tangan Stuard dan berjalan melewati tubuh Josh yang masih diam terpaku.
Saat sudah berjalan melewati tubuh Josh, Stuard menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang
"Tuan Stuard
"Tuan Josh, . Saya harap anda bisa datang ke kantor saya untuk melanjutkan kerja sama kita," ucap Stuard. Ia memandang Josh dengan seringai mengejek, membuat Stuard diam-diam mengeraskan rahangnya.
"Ayo, Sayang," ajak Stuard. Ia merangkul pundak Simma dan kembali berjalan, sedangkan Simma memeluk pinggang Stuard dari belakang.
Melihat pemandangan di depannya, hati Josh merasakan sesak yang tak terkira. Dulu, saat berpura-pura mencintai Simma, Josh selalu risih saat Simma hanya memegang tangannya. Tapi kini, ia ingin sekali menggenggam tangan itu dan menghajar Stuard.
saat memasuki lift, Stuard langsung melepaskan mantelnya. Dan melebarkannya lalu memberikannya pada Simma.
"Apa?" tanya Simma.
"Kau tak ingin muntah, Sayang?" tanya Stuard membuat Simma mengernyit.
"Muntah?" ulang Simma. Tak lama, Simma menutup mulut kala menyadari bahwa ia tak mual saat melihat Josh.
"Stu!" panggil Simma.
"Kenapa, apa kau pusing?" tanya Stuard, ia menempelkan tangannya ke kening Simma.
"Aneh, aku tak merasa mual saat melihatnya," celoteh Simma, dengan mata keatas seolah dia sedanh berpikir sesuatu.
Mendengar ucapan Simma, Stuard tersenyum. Ia langsung memakai kembali mantelnya. Setelah memakai mantel, ia langsung merangkul kembali Simma kedalam dekapannya
"Mulai sekarang, pikirkan saja aku dan anak-anak kita. Maka kau akan baik-baik saja," ucap Stuard. Membuat Simma langsung mendongak menatap Stuard.
Bukannya menjawab, Stu malah mengelus rambut Simma membuat Simma mengatupkan bibirnya.
•••
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Simma dan Stuard pun sampai di mansion Stuard.
."Kenapa kau mengajaku kemari?" tanya Simma saat Stuard membukakan pintu mobil untuk Simma.
"aku ingin menunjukan sesuatu padamu," jawab Stuard, ia menarik tangan Simma dan mereka pun mulai berjalan bergandengan tangan.
"Tutup matamu, Sayang!" titah Stuard saat berada di depan pintu. Walaupun bingung, Simma pun menurut. Ia menutup matanya dan Stuard langsung membuka pintu di depannya. Setelah itu, ia langsung menaruh kedua tangannya di mata Simma, agar Simma tak bisa mengintip.
Saat sudah masuk kedalam ruangan, Stuard langsung menjauhkan tangannya dari mata Simma, dan Simma pun mulai membuka matanya.
Mata Simma membulat saat melihat sebuah kamar bayi yang sangat indah dan mewah. Padahal, mereka baru saja resmi menjadi sepasang kekasih tadi malam. Tapi kenapa Stuard sudah menyiapkan ini.
Saat Simma masih anteng melihat hal di depannya. Stuard memeluk Simma dari belakang, ia manaruh kepalanya di bahu Simma dan tangannya mengusap perut Simma.
"Apa kau suka, hmm?" tanya Stuard membuat Simma tersadar. "Kita belum tau jenis kelamin anak kita. Jadi aku memberi warna seperti ini," sambung Sturd lagi
"Se-Stu, ka-kapan kau menyiapkan ini?" tanya Simma terbata-bata.
"Aku lupa kapan aku menyiapkan ini. Aku mendesain ini sendiri. Jadi membutuhkan waktu yang sedikit lama hingga aku lupa kapan aku menyiapkannya," jawab Stu. Ia mencium pipi Simma dari samping.
Simma berbalik, ia menatap Stu lekat-lekat. " Bagaiman bisa Kau menyiapkan ini, bahkan sebelum kita memulai hubungan," ucap Simma.
Scroll lagi iesss