Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
132


"Mommy ... Daddy, apa kali ini kalian takan mengajakku?" tanya Leo pada kedua orang tuanya.


Zayn yang sedang memangku laptop di pahanya menoleh ke arah Leo, ia turun dari ranjangnya dan menghampiri Leo yang sedang berdiri di dekat pintu.


"Kau mau ikut bersama Daddy dan Mommy, Hemm?" tanya Zayn. Ia menggendong Leo dan berjalan ke sofa lalu mendudukkan Leo di dalam pangkuannya.


"Aku mau ikut, Dad. Jangan tinggalkan aku!" lirih Leo.


"Tapi, bukankah suka bermain bersama Uncle Zidan?" tanya Zayn, seketika Leo menggeleng.


"Aku bosan bermain dengan Uncle Zidan!" keluhnya. "Aku juga ingin liburan, Dad!" ucap bocah kecil itu.


Sedangkan Gia yang sedang menaruh pakaian kedalam koper hanya menggeleng saat mendengar ucapan anak dan suaminya.


•••


"Dad!" panggil Gia. Ia merebahkan kepalanya di dada Zayn dan jari lentiknya membelai dada suaminya. Saat ini, mereka baru saja selesai dengan kegiatan panas mereka.


"Hmm?" jawab Zayn. Ia mengelus rambut istrinya dan mengecup kepala Gia bertubi-tubi.


"Sepertinya kita harus mengajak Leo. Aku tak tega jika harus meninggalkannya," keluh Gia.


"Sepertinya ia. Aku juga tak tega. Tapi, aku terlanjur membeli sesuatu untuk Zidan," ucap Zayn. Ya, karena tadinya ia berencana untuk meninggalkan Leo bersama Zidan, Zayn memesan miniatur pesawat tempur, tentu saja harganya sangat mahal.


"Kau menyogok Zidan, Dad?" tanya Gia.


Zayn pun mengangguk, "Aku membelinya sangat mahal," keluh Zayn.


Gia terkekeh, "Anggap saja itu hadiah untuk Zidan, Dad."


"Merampok?" ulang Gia.


"Aku sudah mentransfer uang yang banyak ke rekeningnya untuk mengganti miniaturnya yang di rusak oleh Leo, dan dia bilang uang itu tidak cukup dan dia memintaku mentransfernya lagi," ucap Zayn lagi. Ia terpaksa harus mengirimkan uang lagi karena Zidan berkata uang itu kurang.


Gia memutar bola matanya saat suaminya menggerutu. Ia lebih memilih memejamkan matanya, jika menanggapi keluhan suaminya, Zayn takan berhenti bicara. Di balik sikap dingin dan arogannya, Zayn adalah tipe lelaki yang sangat cerewet, bahkan kecerewetan Zayn melebihi Gia.


•••


Mendengar ucapan Josh, Audrey langsung tersedak, matanya menatap Josh dengan tajam, rahang Audrey mengeras saat Josh menyampaikan ide yang sangat gila.


"Kurasa di Rusia masih banyak model yang bagus," ucap Audrey. Sejenak, ia menatap Zidan. Namun tak lama, ia kembali menatap Josh karena debaran aneh itu muncul lagi. Debaran aneh saat dia memandang Zidan.


"Aku rasa itu ide yang bagus," balas Zidan dengan santainya. Ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


Mendengar ucapan Zidan, Audrey langsung menatap Zidan. "Maaf tuan Zidan, saya bukan model saya seorang sekretaris," jawab Audrey dengan sedikit kesal.


Mendengar suara Audrey, diam-diam, Zidan tersenyum. Kenapa begitu menggemaskan saat Audrey terlihat kesal. Tak lama, makanan milik Josh dan Audrey pun datang, mereka pun memulai makanan dengan hening.


"Audrey, aku harus pergi menemui client kau bisa kan pulang naik taxi?" tanya Josh setelah menyelesaikan makan siangnya. Tentu saja Josh berbohong agar Zidan yang mengantar Audrey ke kantor.


Audrey menggeleng, ia sudah tau maksud Josh. Tapi ia tak bisa blak-balakan menegur Josh.


"Baiklah, aku akan kembali ke kantor menaiki taxi," balas Audrey dengan senyum yang di paksakan.


"Jika anda mau, saya bisa mengantar anda," sela Zidan. Namun, Audrey menggeleng dengan cepat.


"Tidak terimakasih," jawab Audrey. "Kalau begitu saya permisi," pamit Audrey, ia langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Josh dan Zidan.