Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
186


Setelah pergi meninggalkan Stuard, Simma pun menyetop taxi dan berniat untuk pergi ke suatu tempat.


Saat dalam taxi, Simma menyenderkan punggungnya kebelakang. Ia mengelus perutnya ... tiba-tiba, kilatan-kilatan ucapan Josh langsung kembali terngiang-ngiang di otaknya


Tangis Simma kembali luruh saat mengingat semua ucapan Josh. Ia mencintai Josh setengah mati ... Simma pernah berharap bisa merajut kasih hingga mereka menikah. Namun, harapannya harus sirna kala semua kenyataan yang ada. Kenyataan yang tak sesuai dengan harapan dan impiannya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Simma pun sampai di tempat yang ia tuju, tempat yang selama ini sangat jarang ia datangi dan tempat itu adalah gereja.


Ia masuk dengan langkah gontai, tangis Simma semakin luruh saat ia melihat patung Tuhan, ia merasa ia adalah seorang pendosa. Beruntung, gereja kosong hingga tak ada yang mendengar tangis Simma.


Setelah duduk, Simma menyatukan kedua tangannya dan mengepalkannya lalu menyimpan tangannya kebawah dagu, ia memejamkan matanya kemudian mulai berdoa.


"Tuhan ... Aku telah melakukan dosa besar, maafkan aku, ampuni aku ... Beri aku ketabahan dan kesabaran untuk melalu ini semua. Berikan kesehatan untukku dan untuk kedua calon anakku." Air mata masih tak berhenti membasahi wajah cantiknya saat ia memejamkan matanya dan berdoa.


Ini titik terendah Simma sebagai manusia. Ia harus kuat untuk berjuang sendiri, menghidupi dirinya, menghidupi kedua calon anaknya dan melawan rasa sakit akibat ulah Josh.


Di tengah derita dan kesakitannya, ia harus tetap waras agar ia bisa terus menjaga kedua buah hatinya.


•••


Setelah selesai dari gereja, Simma pun kembali pulang ke apartemennya. Kakinya langsung membawanya ke kamar Audrey.


Ia membuka pintu kamar Audrey, lalu masuk kedalam dan mendudukan dirinya di ranjang. Matanya menatap ke segala penjuru kamar Audrey, tiba-tiba dadanya terasa sesak kala ia membayangkan bahwa sebentar lagi, ia akan mulai menjauhi Audrey


Jika di tanya siapa orang yang paling berarti bagi Simma, jawabannya adalah Audrey.


Saat usia Simma menginjak 14 tahun, ia di perkosa oleh ayah tirinya. Ibunya sudah meninggal, sejak Simma berumur 6 tahun hingga ia dan kakanya bergantung pada ayah tirinya.


Simma mempunyai seorang kaka lelaki. Namun, kaka lelaki Simma kabur karena tak kuat terus di siksa oleh sang ayah tiri.


Ayah tiri Simma murka karena kaka Simma kabur, hingga ia memerkosa Simma. Tak cukup sampai di situ, Ayah tiri Simma menjual Simma pada seorang bos sirkus.


Setelah di jual, hidup Simma hancur sehancurnya. Ia di siksa jika tak mau melayani bos tersebut, jarang mendapat jatah makan layak hingga tubuhnya begitu kurus.


Karena cacian, tekanan dan siksaan yang berlangung setiap hari, Simma menjadi depresi ia kerap mengamuk melukai diri sendiri hingga bos sirkus itu kewalahan dan memutuskan untuk membuang Simma


Sebelum bos sirkus itu membuang Simma. Ia mengikat tubuh Simma.


Setelah dua hari di buang di pinggir hutan, saat Simma hampir meregang nyawa karena lapar, kedinginan, karena kepanasan, Audrey datang menyelamatkannya.


Saat itu, Audrey baru saja melumpuhkan musuhnya, ia harus pulang ke markasnya melewati jalur hutan agar cepat sampai di markasnya.


Saat berjalan, ia menendang sesuatu. Ia pikir ia menendang batu. Tapi ia salah, ternyata ia menendang tubuh seorang manusia.


Tanpa pikir panjang, Audrey langsung melepaskan ikatan Simma. Tanpa rasa jijik, Audrey menggendong Simma dan membawa Simma untuk keluar dari area hutan dan langsung membawa Simma ke apartemen miliknya


Tanpa rasa jijik, Audrey membersihkan tubuh Simma memberikan Simma obat dan makan. Setelah di rawat di aparteme Audrey selama beberapa minggu, Simma mulai terlihat bertenaga. Saat dia melihat Audrey dan Audrey mengajaknya berbicara Siimma mengamuk dan membating semua barang di apartemen Audrey, karena ia merasa terancam dan takut dengan orang baru.


Sekalipun begitu, Audrey sama sekali tak pernah terpancing emosi, ia merawat Simma dengan kesabaran penuh. Ia menggunakan semua tabungannya untuk mengobati Simma. Hati kecil Audrey mengatakan bagaimana pun caranya, ia harus menyembuhkan Simma.


Hingga 5 tahun berlalu. Simma mulai menunjukan kemajuan, ia sudah jarang mengamuk bahkan ia sudah mulai berbicara sepatah dua patah. Karena selama 5 tahun ini, Simma hanya mengaung dan berteriak.


Setelah 5 tahun berlalu, Audrey merasakan sangat bahagia saat untuk pertama kalinya Simma mengatakan terimakasih padanya. Rasanya perjuangan Audrey selama ini, terbayar sudah saat melihat kemajuan Simma.


Hingga dua tahun berlalu, setelah Simma rajin terapi, mendatangi psikiater dan pengobatan lain-lain, akhirnya Simma pun mulai sembuh. Ia bisa mengatur amarahnya dan mengendalikannya.


Perjuangan Audrey selama 7 tahun berbuah manis kala ia melihat Simma sudah bangkit, pulih dan terlihat Simma amatlah sangat cantik.


Saat mengingat kenangan masa lalunya, Simma menutup telinganya, tiba-tiba ia merasa sesak. Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat ke kamarnya untuk mengambil obat penenang.


Baru saja ia akan menyuapkan satu butir obat ke mulutnya, ia menghentikan gerakannya karena ia mengingat ia sedang mengandung.


Simma menarik napas dan menghembuskannya selama beberapa kali, ia mencoba menguasi diri. Hingga beberapa saat, akhirnya napas Simma kembali teratur, membuat ia menghela napas saat ia berhasil menangani gangguan cemas tanpa obat


"Mommy berjanji, Mommy akan kuat demi kalian," ucap Simma sambil mengelus perutnya.


Hate komen blok 😎