
Geisha terus meronta di gendongan Gabriel, hingga Gabriel meringis karena kaki Geysa menendang-nendang senjatanya. Hingga terasa ngilu dan nyeri.
Tak sanggup terus menerima serangan Grisya, Gabriel menurunkan putrinya dan secepat kilat, Grisya berlari ke arah pintu. “Kakek, tolong aku ... Uncle jahat itu akan mengejarku!” Teriak Grisya. Namun, saat ia akan membuka pintu, pintu terkunci dari luar.
“Kakek ... kakek!" teriak Griysa. Ia menangis histeris, wajah anak kecil itu sudah pucat pasi, Karena di tinggalkan bersama sang ayah yang dulu bertingkah kasar padanya.
Gabriel berjalan ke arah Grisya, ia berjalan sambil memegang senjatanya yang ngilu. Kemudian, ia menekuk kakinya, lalu menyatarakan diri dengan Grisya.
“Grisya!” Gabriel memegang pundak Grisya hingga Griysa memejamkan matanya dan berhenti menangis, karena tubuhnya bergetar. Dia sungguh takut melihat Gabriel.
“Griysa, dengar! jika kau tidak menangis lagi. Daddy berjanji, Daddy tidak akan melukaimu,” ucap Gabriel. Kali ini, ia berucap tegas agar Grisya tidak menangis histeris lagi.
Jika Grisya terus menangis, ia tidak akan punya kesempatan untuk berbicara dengan putrinya, dan benar saja, seketika Grisya terdiam kemudian membuka matanya. Lalu, ia memegang kepalanya.
“Jangan menjambak rambutku lagi,” ucap Griysa dengan terbata-bata. Bibirnya bergetar, wajahnya sudah pusat pasi. Gabriel menarik tangan Griysa, kemudian ia mencium tangan putrinya.
“Daddy, berjanji, Daddy tidak akan melukaimu lagi. Daddy minta maaf oke, kau boleh menghukum Daddy, dan Daddy akan melakukan apapun yang kau mau,” ucap Gabriel.
“Kau berbohong,” jawab Grisya. diam-diam Gabriel menggeleng pelan, tingkah Griysa begitu mirip dengan Gabby. Beberapa detik lalu, putrinya terlihat takut padanya. Tapi sekarang, putrinya malah menatapnya dengan tatapan menantang.
“Kau bukan Daddyku, kau Uncle jahat!” teriak Grisya, membuat Gabriel berusaha memutar otak, untuk menenangkan putrinya.
Tak lama, terdengar suara derap langkah dari luar, kemudian pintu terbuka. Gabby melongokkan kepalanya, karena ia mendengar teriakan Grisya dari kamar Gabriel.
Grisya melebarkan pintu, ia langsung berlari ke belakang tubuh Gabby. “Aunty, kau tau ... Uncle itu sangat aneh. Dia bilang dia daddyku. Mana mungkin Daddyku mengikatku, menjambak rambutku dan menjewerku!” ucapnya pada Gabby, Tiba-tiba, Gabby terpikirkan sesuatu.
“Gabby, akan kubunuh kau jika berpikir untuk mengerjaiku!” ucap Gabriel ketika melihat seringai Gabby, ia yakin saudara kembarnya sedang mencari berpikir untuk mengerjainya
“Grisya, apa kau ingat saat uncle jahat ini kasar padamu?” tanya Gabby, membuat mata Gabriel membulat.
“Uncle jahat itu menarik tanganku, dia berteriak, mengikatku kemudian menjambak rambutku dan menjewerku!” ucap Grisya.
“Bagaimana jika kita balas saja dia dengan hal yang sama. Kita ikat dia, kita Jambak dia dan kita jewer dia,” jawab Gabbby lagi, seketika Gabriel bangkit dari berjongkoknya.
“Kau ....” Gabriel melotot galak pada Gabby.
“Gabriel bukankah kau ingin mengambil hati Grisya!” ucap Gabby memakai bahasa asing. agar Grisya tak mengerti dengan apa yang di katakan olehnya.
“Maksudmu.” Gabriel masih tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh saudara kembarnya.
“Sudah kau ikut saja!” ucap Gabby. “Grisya apa kau masih ingat ketika uncle jahat ini menjahatimu?” tanya Gabby pada Grisya.
“Ya, Aunty. Aku masih ingat!”
“Bagus, kalau begitu kita balas dia!”