Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Bertemu kembali


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya Amelia sampai di rumahnya. Ia menekan klakson dan tak lama, penjaga membuka gerbang rumah Amelia.


“Terima kasih Paman,” ucap Amelia ketika penjaga membukakannya pintu gerbang. Setelah masuk, ia memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah.


setelah mematikan mesin mobil lalu melepaskan seatbeltnya. Ia tak langsung masuk, ia memutuskan untuk berdiam diri sejenak di mobil.


Amelia menyandarkan tubuhnya ke belakang, ia melihat ke sekelilingnya. Ia tersenyum saat melihat rumah di depannya, rumah miliknya sekarang bisa dibilang rumah yang cukup mewah, karena itu adalah rumah pembelian dari Stuard dan Simma.


Ia tak bisa menolak. Hingga akhirnya, ia menempati rumah pemberian itu, tentu saja fasilitas di rumah itu cukup lengkap dan mewah karena Stuard sudah mengaturnya.


Tapi walaupun kehidupannya sekarang lebih baik, Amelia tetap memilih jalannya untuk menjadi polisi. Banyak sekali pertimbangan Amelia untuk terjun ke dunia polisi.


Salah satunya adalah masa lalunya, di mana dia tak berdaya ketika menghadapi Ayah tirinya dan ia tak berdaya ketika menghadapi Gabriel. Dan karena itu, Ia ingin membantu orang lain yang hidupnya sama mengenaskannya seperti dirinya dulu.


Amelia tersadar ketika pintu rumah terbuka, muncul sosok Grisya berlari ke arah mobilnya. Secepat kilat, Amelia turun dari mobil lalu menghampiri Grisya.


Ia langsung menggendongku Grisya, kemudian mengayun-ayunkan tubuh putrinya. “Mommy, aku pusing,” pekik Grisya, ketika Amelia memutar-mutar tubuh putrinya.


Amelia menghentikan gerakannya, kemudian menatap Grisya.. “Kau. sudah makan?” tanya Amelia. Grisya menggangguk.


“Sudah, tadi nenek dan kakek kemari, mereka membawakan makanan yang banyak sekali,” jawab Grisya. Rupanya, tadi Simma dan Stuard datang ke rumah dan membawa makanan.


“Mommy, hari minggu nanti, bolehkah aku menginap bersama kakek dan nenek selama dua hari ?” tanya Grisya saat mereka masuk kedalam rumah, Amelia tampak berpikir.


“Kenapa kau ingin menginap di sana?” tanya Amelia.


”Aku hanya ingin main di sana saja,” jawab Grisya, Amelia pun mengangguk anggukkan kepalanya.


“Tapi berjanji, jangan merepotkan kakek dan nenek disana,” ucap Amelia, gadis itu pun mengangguk dengan semangat.


Keesokan harinya.


Amelia terduduk di ruangannya, ia fokus pada laptop lalu mulai mencari-cari tentang Gabriel, dan tentang bisnis-bisnis yang kemungkinan terjadi di dalam dunia hitam.


Ia tahu, bagaimana liciknya Gabriel, walau bagaimana pun, ia pernah tinggal dengan Gabriel selama bertahun-tahun.


Tapi ia tak ingin menyerah, bagaimanapun caranya. Ia harus mendapatkan Gabriel memasukkan Gabriel ke penjara dengan tangannya sendiri.


Satu minggu kemudian


Amelia dan beberapa rekannya sudah berada bandara, ia sudah siap dengan surat penangkapan Gabriel.


Hari ini, ia dan timnya akan menangkap Gabriel di bandara, karena ia mendapatkan info bahwa Gabriel akan mendarat di Rusia siang ini.


Selama seminggu ini, Amelia sudah bekerja keras untuk memecahkan kasus Gabriel, ia memutar otaknya, mencoba mengingat-ngingat hal yang sering Gabriel lakukan di Villa dulu.


Dan ia mengingat sesuatu, ia sering mendengar Gabriel menyebutkan pabrik senjata yang ada di Rusia, dan setelah mengingat itu, Amelia langsung menyelidiki pabrik itu lebih jauh.


Pintu kedatangan terbuka, Amelia dan tim yang sudah menunggu langsung berdiri, mereka saling tatap. Amelia mengangguk, kemudian ia dan timnya berjalan ke pintu keberangkatan.


Jantung Amelia berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Gabriel dari kejauhan, ia memegang tengkuknya karena merasa merinding. Ia mengepalkan tangannya, kemudian memejamkan matanya, ia harus kuat berhadapan dengan Gabriel.


Dan kini, Amelia kembali membuka matanya, lalu ia maju dan menghadang langkah Gabriel.


Sekarang, kedua insan itu saling berhadap-hadapan.


“Tuan Gabriel Josepin. Anda kami tahan atas tuduhan atas penjualan senjata ilegal,” ucap Amelia dengan bibir yang sedikit bergetar. Tubuhnya hampir saja limbung ketika melihat Gabriel. Namun, sebisa mungkin, ia menegarkan dirinya.


Sedangkan Gabriel ....


Yok komen yok. Jahat ah ga pernah like huaaaaaaaaas. nangis di pojokan nih.


Hate komen, kita ga temenan🤣