
Setelah keluar dari kamar dan meninggalkan Amelia yang tak sadarkan diri, Gabriel langsung pergi ke dapur untuk mengambil wine di kulkas.
Sebenarnya dia belum puas menyiksa Ameli. Tapi, Amelia sudah tak sadarkan diri hingga mau tak mau Gabriel menghentikan aktivitasnya karena akan percuma jika Amelia tak sadarkan diri. Ia tak akan bisa membuat Amelia merintih.
“Bereskan dia. panggil Kate!” kata Gabriel saat ia berpapasan dengan kepala pelayan. Pelayan itu menganggukkan tatapannya tanda mengerti mengerti apa yang diperintahkan oleh Gabriel.
Setelah memberikan perintah pada kepala pelayan untuk memanggilkan dokter, Gabriel kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Ia membuka kulkas lalu mengambil wine dan mendudukan dirinya di mini bar.
Gabriel, menuang wine ke dalam gelas, kemudian ia mengangkat gelas dan meneguknya secara perlahan.
matanya menerawang ke depan, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ia boleh saja bersikap arogan di hadapan Amelia.
Tapi, nyatanya hatinya tak searogan itu. Terkadang, ada rasa iba yang menghinggapi hati Gabriel kalau melihat Amelia tak sadarkan diri atau Amelia sedang merintih meminta ampun.
Tapi setiap mengingat kejadian itu, otak Gabriel selalu memanas. Ia teringat saat Amelia menggalakan rencana yang ia sudah susun secara matang. Hingga ia gagal membawa Ariana.
Ah, ia Ariana. Sampai sekarang, nama Ariana masih terpatri di hatinya. Wajah Ariana, masih mengisi otaknya. Ia masih mencinta Ariana yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri
Perubahan sikap Gabriel mungkin karena Gabriel tak mampu menerima kenyataan yang ada. iya ya mengalami hal yang menyakitkan selama berturut-turut.
Ia harus tahu tentang sesuatu yang sanga menyakitkan, Stuard bukan ayah kandungnya dan wanita yang dicintainya adalah adiknya dan rencananya yang telah di susulnya gagal karena Amelia.
Dan disitulah masalahnya, karena Amelia menggagalkan rencananya hingga Gabriel menjadikan Amelia sebagai sasaran kekesalannya dan pelampiasan atas apa yang terjadi pada dirinya.
••••
Ini bukan pertama kalinya Kate mengobati Amelia. Tapi setiap melihat Amelia seperti ini. Rasanya ia benar-benar tak tega seandainya, ia bisa membawa Amelia pergi dari sini. Ia akan membawanya. Tapi sayang, ia pun di bawah ancaman Gabriel.
“Dokter!” panggil seorang pelayan pada Kate. Kate menoleh kemudian mengangguk muncul beberapa perawat membawa brankar. Amelia akan dibawa untuk dirawat oleh tim medis.
Setelah brankar ada di dekat ranjang, tubuh Amelia yang sudah dibelit oleh selimut diangkat ke arah berangkar. Kate meringis saat melihat darah di pangkal paha Amelia
Sepertinya, ia tahu apa yang terjadi pada Amelia.
••••
“Bagaimana?” tanya Gilsa pada Kate. Kate menggeleng. “Tidak bisa di selamatkan,” jawab Kate pada Gilsa, dokter lain yang berada di vila milik Gabriel.
Gilsa mendudukan dirinya di kursi, tubuhnya langsung lamah tak bertenga. Untuk ke dua kalinya, mereka harus menyaksikan janin Amelia gugur.
Ya, Amelia sedang mengandung. Tapi sayang, janjinya gugur tak bisa di selamatkan. Untuk yang kedua kalinya, Amelia harus kehilangan calon anaknya.
Yang lebih menyesakkan bagi kedua dokter itu, mereka harus merahasiakan kondisi Amelia, pada Amelia sendiri, Amelia di larang tau tentang kondisinya. Begitupun, Gabriel. Ia sama sekali tak tertarik dengan apa yang di alami oleh Amelia.
Jika Amelia sudah sadar, dan ketika ia merasakan perutnya sakit. Ia akan menyangka bahwa itu ulah Gabriel. Bukan, karena ia kehilangan anaknya.
Dan pada akhirnya, Gabriel mau pun Amelia tak tau bahwa calon anak mereka gugur sebelum berkembang.
Kalian pasti nyangka Amelia lemah kan, oh tentu tidak. Sebentar lagi kalian akan melihat sisi lain Amelia.