
"Kau begitu cantik, Sayang," kata Stuard saat melihat Simma di pantulan cermin. Ia mengecup bahu Simma membuat Simma tersipu.
"Kau sudah mengatakan itu dari tadi, Dad," jawab Simma. Ia yang sedang membelakangi Stuard langsung berbalik dan kini, mereka saling berhadap-hadapan.
Stuard berjongkok, ia menarik kedua kaki Simma dan melingkarkan di pinggangnya.
Lalu ia berjalan ke arah sofa dan mendudukan dirinya di sofa dan Simma duduk di atas pangkuannya.
"Dad, kau akan merusak gaunku," keluh Simma saat tangan Stuard tak mau diam. Tangan Stuard sudah bergerak kesana kemari, menjamah tubuh istrinya yang begitu menggoda.
"Aku sungguh ingin memakanmu sekarang," ucap Stuard, ia mengadahkan kepalanya kebelakang, senjatanya sudah mengeras membuatnya semakin tersiksa.
Seandainya ia tak akan menghadiri pertemuan bersama istrinya, sudah di pastikan, Stuard tak akan menunda lagi menyentuh istrinya.
Simma terkekeh, ia mengelus rahang Stuard, membuat Stuard langsung menegakan kepalanya.
"Apa tadi pagi belum cukup, Dad?" Goda Simma. "Bagaimana itu bisa cukup, kau hanya memberiku sekali," jawab Stuard dengan lesu, membuat Simma ingin sekali tertawa.
"Mommy ... Daddy. Bagaimana kita akan berangkat jika Mommy dan Daddy terus berada di kamar," ucap Gabby dari arah pintu. Ia berbicara sambil menutup matanya saat melihat Stuard akan mencium Simma.
Mendengar ucapan Gabby, Simma langsung bangkit dari pangkuan Stuard. Begitu pun Stuard yang langsung bangkit dari duduknya. Wajah mereka langsung memerah karena Gabby memergoki mereka.
•••
Briana menggenggam tangan Ariana begitu erat, tangisnya luruh saat melihat Ariana terbaring di brankar. Beberapa alat tertempel di kepalanya membuat Briana semakin hancur.
Saat tadi Ariana tak sadarkan diri, Briana langsung membawa Ariana ke rumah sakit.
Suara pintu terbuka, menyadarkan Briana, ia langsung menoleh dan langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter yang juga temannya.
"Briana, ayo ikut ke ruanganku!" ajak Lucas, Briana pun mengangguk.
"Ada apa dengan putriku Lucas?" tanya Briana saat sampai di ruangan Lucas, membuat Lucas menghela napas gusar. Ia memandang Briana dengan tatapan iba, ia tak sampai hati mengatakan apa yang menimpa Ariana.
"Lucasss!" panggil Briana, menyadarkan Lucas dari lamunannya.
"Briana, aku belum bisa mengatakan apa yang terjadi pada putrimu. Aku harus memastikannya setelah dia sadar," ucap Lucas. Kondisi Briana sedang tidak baik-baik saja. Hingga ia lebih memilih memberitahukannya nanti.
Tangis Briana semakin luruh kala mendengar ucapan Lucas. Ia tau, Lucas sudah mendiagnosa putrinya dan ia tau, putrinya mengalami hal yang berat.
Briana keluar dari ruangan Lucas dengan kaki yang gemetar, ia berjalan dengan lemas matanya memberat kepalanya berdenyut nyeri.
Briana menaruh tangannya di dinding untuk menopang tubuhnya. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi untuk terus melangkahkan kakinya.
Dengan perlahan, Briana kembali melangkahkan kakinya menuju kursi tunggu yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Saat sudah duduk, Briana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia tak bisa berpikir apa-apa, ia tak tau harus bagaimana, yang ia bisa hanya menangis, menangis dan menangis.
Tak lama ia terpikirkan sesuatu, ia harus pergi dari mansion terkutuk itu. Kemudian nama Zayn langsung terlintas di otaknya, ia pun mengambil ponsel dari sakunya dan menelpon Zayn.
"Za-Zayn, tolong kami ...." ucap Briana dengan suara yang terdengar sangat pilu.